Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Figur. Tampilkan semua postingan

CEGAH ANCAMAN KONTEMPORER


Tentara Nasional Indonesia harus bergerak cepat untuk mentransformasi diri menjadi organisasi yang profesional, modern, tangguh, berjiwa satria, militan, dan loyal. Semua itu disatukan dalam kemanunggalan dengan rakyat sehingga mampu merespons dan menyikapi berbagai bentuk ancaman kontemporer yang mengemuka saat ini dan ke depan.

Demikian penegasan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat membuka Rapat Pimpinan (Rapim) TNI Tahun 2018, di Aula Gatot Subroto Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta, kemarin.

Selanjutnya, Hadi menyampaikan bahwa dinamika perubahan strategis yang sedemikian cepat telah menghadirkan berbagai bentuk ancaman kontemporer yang bersifat asimetris proxy dan hibrida yang semakin mengemuka dan sulit diprediksi.

Menurutnya, tema Rapim TNI Tahun 2018, yakni Dengan dilandasi jiwa kesatria militan, loyal, profesional, modern, dan kemanunggalan dengan rakyat, TNI siap melaksanakan tugas pokok, sejalan dengan fenomena global yang menghadirkan berbagai bentuk ancaman nyata yang sedemikian sulit diprediksi.

Di hadapan 253 peserta rapim yang terdiri atas 55 pejabat Mabes TNI, 54 pejabat TNI-AD, 43 pejabat TNI-AL, 28 pejabat TNI-AU, dan 73 pejabat di luar struktur TNI, Hadi menuturkan bahwa rapim kali ini merupakan kelanjutan Rapim TNI-Polri Tahun 2018 yang telah dibuka oleh Presiden Joko Widodo pada 23 Januari 2018.

"Banyak hal penting dan strategis dari deskripsi berbagai materi pembekalan yang telah disampaikan oleh Bapak Presiden dan Bapak Wakil Presiden, para menteri Kabinet Kerja, Kapolri, dan kepala badan, serta kelembagaan lainnya," paparnya.

Menurutnya, berbagai hal tersebut perlu direspons dan disikapi melalui pemikiran yang cerdas, kreatif, inovatif, serta lebih adaptif melalui optimalisasi peran TNI. Hal itu perlu dirumuskan bersama mengenai formulasi efektif yang mampu menjawab tuntutan dan tantangan tugas TNI saat ini dan ke depan.

Di sisi lain, Panglima TNI mengatakan hal mendasar yang substansial untuk dicermati secara cerdas dan bijak dalam menyongsong tahun politik, yakni mewujudkan soliditas dan sinergitas TNI-Polri serta seluruh stakeholder lainnya. "Hal itu penting untuk mendukung suksesnya Pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019, serta terjaganya integritas NKRI," tegasnya.

Semakin solid

Sebelumnya, saat membuka Rapim TNI-Polri, Presiden Jokowi mengharapkan TNI dan Polri tetap menjaga soliditas. Presiden menilai soliditas TNI dan Polri saat ini semakin baik, dari perwira hingga tamtama. "Pak Presiden mengharapkan tetap terjalinnya soliditas TNI yang saat ini sudah bertambah baik, dari yang baik tambah baik," ujar Panglima TNI seusai mendengar pengarahan Presiden, Selasa (23/1).

Karena dilihat di lapangan, kata dia, seluruh perwira, bintara, dan tamtama bisa menunjukkan eksistensinya berbaur bersama TNI dan Polri.

Sebelumnya, Marsekal Hadi ketika masih merangkap Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) mengajak Kapolri Jenderal Tito Karnavian, KSAD Jenderal Mulyono, dan KSAL Laksamana Ade Supandi menjajal pesawat Sukhoi SU-30 MK 2 milik TNI-AU, disertai pemberian brevet wings, tanda penerbang kehormatan kepada Kapolri, KSAD, dan KSAL.(P-3) - MI.

SEKILAS BIOGRAFI IR. H. SUTARMAN H. MASRUN, MM.




Ir. H. Sutarman H. Masrun MM, Lahir di Kota Bima, 4 April 1966, Sutarman kecil yang akrab disapa dengan Sutarman Joy oleh teman-teman semasa kecilnya, mengenyam pendidikan dasar di SDN 6 Raba Penatoi, kemudian melanjutkan sekolah menengah di SMPN 1 dan SMAN 1 Bima, hingga menempuh pendidikan tinggi di UPN Veteran Jogkarta, dimana Sutarman muda mendalami Ilmu Geologi (Ilmu tentang bumi/Tanah) dan kini menyandang gelar Insinyur (Ir).

Dibangku kuliyah Sutarman terbilang cukup cerdas, terbukti dipilih menjadiKetua BPM dan Senat Fakultas Geologi UPN. Pengalaman berorganisasi di kampus ini kelak berlanjut di kehidupan masyarakat, dimana Sutarman aktif menjadi Aggota Dewan Pengurus ORARI Pusat, dan Ketua Divisi Hubungan antar Lembaga Yayasan OBOR Nusantara.

Salah satu kiprahnya yang paling membanggakan, ketika Sutarman mendirikan Kosambo (Komunitas Salaja Mbojo), sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Kota Bima. Bersama kawan-kawan semasa kecil di Bima, Sutarman aktif menggerakkan aktifitas Kosambo yang berdiri pada awal tahun 2012 dan kini berbasis di Doro To’i Mande Kota Bima.

Selepas wisuda sarjana di UPN Yogyakarta, Sutarman meniti karir sesuai bidang ilmunya sebagai konsultan pembangunan industri energi. Berbekal pengetahuan dan pengalaman kerjanya yang mumpuni, Sutarman memasuki dunia usaha di bidang pertambangan batu bara, hingga berhasil menduduki jabatan direktur 3 perusahaan batu bara, yaitu Direktur PT. Inti Bara Perdana, Coal Mining Bengkulu, dan Direktur PT. Barito Energi Mandiri serta PT Coalindo Utama-coal Mining, Bartim-Kalimantan Tengah. Dengan kapasitas dan integritasnya, Sutarman dipercaya menjadi Sekjen Asosiasi Pertambangan Batu Bara Sumatera Selatan, disamping menjadi penasehat Asosiasi Pertambangan Batu Bara Bengkulu.

Kesibukan yang sebagian besar dilakukan di luar Daerah Bima, tidak serta merta melupakan tanah kelahiran (Dana Mbojo), Sutarman selalu memantau perkembangan yang terjadi di Bima. Sutarman pun berusaha mengorbitkan pemuda-pemudi berbakat asal Daerah Bima untuk berkompetisi di ajang D’Academy Indosiar Jakarta dan beberapa diantaranya telah berhasil menjadi bintang.

Banyak Ide-ide maupun gagasan yang ingin Ia terapkan di Kota Bima, itu berdasarkan pengalamannya melakukan study banding diberbagai daerah seluruh Indonesia, Sutarman pun bercermin dari berbagai bencana yang menimpa Kota Bima belum lama ini, menguatkan keyakinannya bahwa inilah saat yang paling tepat dan merasa akan bermanfaat bagi masyarakat di tanah kelahiran, hingga dengan kebulatan tekad, mengikrar diri “Hijrah untuk Bima yang lebih Baik” pungkasnya. (AB). 

Penulis: abunawarbima@gmail.com


ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH BIMA





Merupakan salah satu kehormatan yang luar biasa bagi keluarga besar Forum Komunikasi Mahasiswa Bima Ciputat Raya (FKMBC), karena tanggal 17 maret 2017 lalu, kedatangan salah seorang tokoh Bima, Ir. H. Sutarman, MM. Bertempat di Kantor CSRC UIN Jakarta, FKMBC menghelat dialog publik bersama Haji Sutarman, demikian panggilan akrabnya, untuk memperbincangkan masa depan pembangunan Tanah Bima.Lahir di Bima 4 April 1966, Sutarman kecil mengenyam pendidikan dasar di SDN 6 Raba Penatoi, melanjutkan sekolah menengah di SMPN 1 dan SMAN 1 Bima, hingga menempuh kuliah di UPN Veteran Jogkarta, dimana Sutarman muda mendalami Ilmu Geologi (Ilmu tentang bumi/Tanah).



Karib Irfan Abubakar (sekarang menjabat Direktur CSRC UIN Jakarta) ini merupakan langganan bintang kelas selama menempuh pendidikan dasar dan menengahnya. Dia juga pribadi yang hangat dan mudah akrab dengan lingkungan sekitarnya--modal dasar baginya untuk menjadi seorang pemimpin.

Terbukti saat di bangku kuliah Sutarman sempat dipilih menjadiKetua BPM dan Senat Fakultas Geologi UPN.Pengalaman berorganisasi di kampus ini kelak berlanjut di kehidupan masyarakat, dimana Haji Sutarman aktif menjadi Aggota Dewan Pengurus ORARI Pusat, dan Ketua Divisi Hubungan antar Lembaga Yayasan OBOR Nusantara.Namun, salah satu kiprahnya yang paling membanggakan, ketika Haji Sutarman mendirikan Kosambo (Komunitas Salaja Mbojo), sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Kota Bima. Bersama kawan-kawan semasa kecil di Bima, H. Sutarman aktif menggerakkan aktifitas Kosambo yang berdiri pada awal tahun 2012 dan kini berbasis di Doro To’i Mande Kota Bima.

Selepas wisuda sarjana di UPN Yogyakarta, Haji Sutarman meniti karir sesuai bidang ilmunya sebagai konsultan pembangunan industri energi. Berbekal pengetahuan dan pengalaman kerjanya yang mumpuni, Haji Sutarman memasuki dunia usaha di bidang pertambangan batu bara, hingga berhasil menduduki jabatan direktur 3 perusahaan batu bara, yaitu Direktur PT. Intibara perdana, Coal Mining Bengkulu, dan Direktur PT. Barito Energi Mandiri serta PT Coalindo Utama – coal Mining, Bartim-Kalimantan Tengah. Dengan kapasitas dan integritasnya Haji Sutarman dipercaya menjadi Sekjen Asosiasi Pertambangan Batu Bara Sumatera Selatan, disamping menjadi penasehat Asosiasi Pertambangan Batu Bara Bengkulu.

Berbagai latar belakang dan pengalaman yang kaya ini menghangatkan diskusi arah pembangunan daerah Bima pada kali ini. Sebagai pembicara tunggal, tokoh yang berhasil mengorbitkan bintang-bintang D’Academy Indosiar asal Bima ini, mengupas tuntas gagasan dan pikiran terobosannya untuk kemajuan pembangunan Bima khususnya di bidang ekonomi. Butir-butir pemikiran ini diperdengarkan ke peserta dialog (FKMBC) yang menanggapinya dengan antusias, dan tidak jarang disertai pandangan kritis sebagaimana layaknya sikap mahasiswa aktivis umumnya.

Merosotnya Kesejahteraan
.

Haji Sutarman menyoroti merosotnya kesejahteraan warga masyarakat Bima yang salah satunya ditandai dengan gejala berkurangnya asset warga karena terpaksa dijual untuk menutup kebutuhan yang makin meningkat. Sementara asset yang tersedia tidak difungsikan secara maksimal. Konsekuensinya banyak warga yang terpaksa bergantung kepada jasa pinjaman yang berbau rente (riba) dengan bunga yang mencekik. Buruknya fasilitas kesehatan memperparah keadaan. Sementara ketegangan dan konflik sosial dan isu peredaran narkoba, menurut pengusaha sukses ini, hanyalah dampak dari akutnya masalah kesejahteraan ekonomi. Inilah krisis yang melanda Bima, tapi masyarakat kurang menyadarinya.

Salah satu faktor penyebabnya, menurut ayah dari dua orang putra ini, perputaran ekonomi tidak cukup menguntungkan karena eksistensi cukong-cukong lokal selama ini tidak memberikan manfaat yang berarti buat kesejahteraan masyarakat setempat. Contoh sederhana saja, masalah pemasaran jagung dan bawang yang selalusaja di monopoli oleh cukong-cukong yang ada sehingga berdampak pada hilangnya hak pemerintah daerah untuk mendapatkan pemasukan baik pajak maupun retribusi yang berhujung pada melemahnya APBD yang ada dan pemerintahpun sudah dirugikan dalam penerimaan dana APBD yan seharusnya masuk dalam kas daerah, implikasi lainpun berdampak pada PAD yang tidak berjalan karna sisi home industri tidak ada yang berjalan maksimal dan bisa dikatakan telah mati suri.

Bukannya tidak muncul kreatifitas dalam produksi ekonomi, Cukup banyak anak muda di Bima yang kreatif dalam berkarya, misalnya karya lukis, pahat, cindera mata lain,Namun, tidak tersedia pasar untuk menjual lukisan tersebut, sehingga berakibat pada melemahnya semangat berkarya, Berbeda dengan kasus di Bali dimana berbagai kerajinan tangan karya anak-anak muda di sana disediakan pasarnya, misalnya di Toko Krisna. Dengan begitu, terjadi perputaran ekonomi karena terpenuhinya mekanisme supplyand demand.

Merangsang Geliat Ekonomi dan Investasi


Untuk mengatasi persoalan akut ini harus dimulai dengan merangsang minat pelaku usaha untuk investasi di Bima. Ini gampang-gampang susah. Tapi harus dimulai dengan keberanian dan visi ke depan dalam melihat peluang ekonomi yang dapat disediakan oleh pemerintah kota Bima. Salah satunya menyelesaikan pembangunan PLTU yang telah lama mangkrak. PLTU ini strategis karena menjawab pertanyaaan dasar semua investor dari luar; “apakah pasokan energi listrik memadai?” Eksistensi industri energi akan memiliki dampak yang berlipat dan luas terhadap geliat ekonomi dan bisnis di berbagai sektor.

“Misalkan saja sektor pariwisata.Siapa yang menyangkal indahnya pemandangan laut dan bukit-bukit di Teluk Bima (Asa Kota). Banyak pengusaha kenalan saya yang mengagumi keindahan alam Bima.Mereka ingin sekali berinvestasi di sector pariwisata Bima.Tapi lagi-lagi pertanyaannya, apakah pasokan energi listrik cukup?” demikian ujar H. Sutarman.

Dengan adanya industri energy/PLTU maka dengan sendirinya menciptakan kebutuhan terhadap supply bahan bakar batu bara yang dapat dipasok oleh Kalimantan dengan kapal-kapal tongkangnya, dimana perusahaan daerah dapat ikut terlibat dalam kegiatan bisnis baik itu sebagai transportir maupun sebagai trader batubara, belum lagi kegiatan bisnis lain yang dapat dilakukan bila PLTU tersebut segera berfungsi. 


Demikian juga revitalisasi pelabuhan laut kita, dengan adanya program tol laut harusnya dapat kita manfaatkan dengan maximal sehingga roda perputaran ekonomi di Kota Bima dapat efektif dan efisien. Namun, kapal-kapal niaga/besar tidak akan bersedia berlabuh di Kota Bima tanpa adanya muatan komoditi yang dapat diangkut balik ke luar Kota Bima. Tanpa itu mereka akan merugi. Padahal dengan hadirnya kapal-kapal besar ini komoditi andalan Bima, seperti bawang, jagung, kedelai, kacang tanah dll, dapat dimuat untuk dikirim keluar Bima.

“Jika kita melihat dalam sistem barter ekonomi “ada yang dibawa masuk ada pula yang dibawa keluar” artinya kapal-kapal besar yang masuk ke pelabuhan bima yang mengangkut niaga dan keluar dari pelabuhan bima harus membawa barang namun pada kenyataankontener-kontener yang parkir di sekitar pelabuhan Bima terlihat kosong dan terlihat tidak ada nilaibarter. Pelabuhan Kota Bima harus bisa difungsikan sebagai tempat transaksi ekonomi secara aktif. Tidak hanya dijadikan sebagai tempat transit,” tandas H. Sutarman

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah produksi bawang yang tersedia dapat memenuhi permintaan secara konsisten? Lebih dari itu, kalaupun produksi cukup, apakah teknologi penyimpanan bawang di kapal sudah cukup tepat diterapkan agar tidak terjadi pembusukan? Beberapa petani mengaku bahwa mereka acap merugi diakibatkan mekanisme pemuatan dan penempatan bawang di kapal ditumpuk dan tidak mendapatkan sirkulasi udara. Hal yang sama pun terjadi di dalam penyimpanan kedelei dan jagung yang akan diexpor keluar teritorial Bima. Pada titik inilah, dituntut peran pemerintah Kota dan Kabupaten untuk menfasilitasi teknologi pertanian dan penggudangan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi sekaligus mengontrol kualitas penyimpanannya.

Sinergi Pemkot dan Pemda Kabupaten


Siapa yang bertanggungjawab terhadap persoalan merosotnya kesejahteraan masyarakat Bima.Jawabannya terletak pada sinergi antara Pemkot dan Pemkab.Tidak mungkin masing-masing berjalan sendiri-sendiri karena keduanya saling membutuhkan. 

Kabupaten memasok hasil alam, Kota menyediakan fasilitas penyimpanan dan pemasarannya keluar Bima. Tapi di sini persoalannya. Kedua belah pihak selama ini masih jalan sendiri-sendiri dan tidak tampak adanya good will untuk duduk bersama membicarakan masalah bersama dan mencari jalan keluarga terbaik, win-win solution. Sementara itu, kita lupa masyarakat membutuhkan sandang, pangan dan papan yang dapat menunjang kehidupanmereka.

Ada beberapa masalah yang masih menunggu penyelesaian bersama.Ambil contoh, hampir semua asset perkantoran dan fasilitas publik Kabupaten berlokasi di Kota.Hingga hari ini belum banyak terjadi serah terima asset karena belum jelas bagaimana mekanisme kompensasinya.Terkait dengan pengelolaan asset kabupaten di kota Bima, Haji Sutarman menawarkan gagasan teroboson:

“Akan lebih produktif kota dan kabupaten bersinergi dalam rangka mengelola asset dengan menyerahkan pengelolaannya secara professional kepada BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dimana sahamnya dipegang bersama kedua belah pihak. Semua ada di tangan pimpinan daerah yang menjadi agen perubahan serta sebagai garda terdepan dan mau memikirkan perubahan yang nyata, karna dalam poros kesejahteraan sosial yang diandalkan bukan hanya APBD atau PAD saja namun harus memikirkan pemasukan dari lain sisi untuk menambal kekurangan agar masyarakat tidak terstaknad dalam lubang kemiskinan. Di sinilah peran pemerintah juga mengharuskan untuk berpikir out of the box,”tegas Ir Sutarman.

Terkait dengan urgensi pengelolaan asset bersama ini, Ir. H. Sutarman menunjuk masalah fasilitas pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Bima.Rumah Sakit (RS) ini assetnya dimiliki oleh Kabupaten Bima dan sejak dulu sampai saat ini kedudukanya berada di Kota Bima.Namun, keadaan RS ini amat memprihatinkan, kotor dan jauh dari kesan higenis.Tidak hanya itu, tenaga dokter ahli sangat minim sehingga sering pasien banyak yang harus dirujuk ke rumah sakit provinsi. Bagi masyarakat kurang mampu pun hanya bisa mengandalkan BPJS yang itupun tidak efektif karna BPJS hanya menanggung biaya obat. Adapun biaya-biaya lain tidak ditanggung. Tidak heran banyak rujukan yang tidak sampai ke provinsi, lagi-lagi dikarnakan oleh ekonomi masyarakat yang kurang menjamin.

Selain masalah fasilitas kesehatan yang kurang terkelola dengan baik, Pemda kabupaten juga memiliki Perusahaan Daerah Air Minum yang instalasinya semuanya di Kota.Menurut laporanpihak yang terkait, perusahaan ini selalu merugi lebih dari 55% dikarenakan masalah human error dan infrastruktur seperti pipa-pipa yang menyalurkan air minum tersebut mengalami kebocoran. 


Lagi-lagi alasan klasik kurangnya biaya pemeliharaan. Masalah yang sama juga dihadapi dalam pemeliharaan asset kesultanan Bima, yaitu Asi Kalende Kampo Na’e. Bangunan bersejarah itu tampak tidak terawat dan hampir roboh.Padahal bangunan itu bukti sejarah Dana Mbojo yang mengingatkan tentang identitas masyarakat Bima.

Mengatasi Peredaran Narkoba



Nabi Muhammad Saw. bersabda, “كاد الفقر أن يكون كفرا" (Hampir saja kemiskinan membawa orang pada kekufuran). Dampak sosial yang terasa dari akibat merosotnya kesejahteraan ekonomi salah satunya adalah beredarnya Narkoba yang akhir-akhir ini marak di Bima. 

Khususnya jenis tramadol. Gejala ini tidak bisa semata-mata dilihat dari segi merosotnya moralitas masyarakat.Tapi akar persoalan adalah kesenjangan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran. Oleh sebagian remaja narkoba dijadikan tempat pelarian sementara dari sumpeknya kehidupan yang makin sulit. Di sisi lain, gejala ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan masuknya narkoba di Bima. Padahal daerah Bima, Kota dan Kabupaten, wilayahnya kecil, hanya 222, 25 KM, sehingga gampang diketahui pintu masuknya.Agar terwujud pengawasan yang efektif dituntut adanya kerjasama yang efektif antara aparat kepolisian dengan Pemkot maupun Pemda Kabupaten Bima. Kuncinya terletak pada jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua stake holder yang bertanggungjawab pada pengawasan dan penegakkan hukum.

Beberapa masalah inilah yang menjadikan Ir. H. Sutarman, MM. Merasa terpanggil untul kembali ke Dana Mbojo karena dengan masalah yang begitu kompleks Bima membutuhkan pemimpin daerah yang peka terhadap terhadap masalah yang dihadapinya. Pemerintah ibarat mata dan telinga serta manivestasi dari rakyat yang mampu memeperjuangka kesejahteraannya secara merata sesuai amanah konstitusi negara. Karena Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu  memikirkan jalan keluar serta mampu berbagi pengetahuan dan semangat untuk mendorong perubahan yang nyata.

Kamipun tidak hanya sekedar berdiskusi dengan beliau, melainkan di akhir diskusi Haji Sutarman menyempatkan diri untuk memotivasi semua mahasiswa yang berada di ruangan bahwa mahasiswa harus pro aktif dan berani menyuarakan dan menegur pemimpin yang keluar dari koridor yang ada  karna setiap persolan kerap kali tumbuh dan lahir dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Jika mahasiswa pro aktif dan bersikap progresif  menegur pemerintah  untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah karna kalau bukan mahasiswa yang mulai siapalagi. “Mari kita genggam kesejahteraan Bima melalui tangan-tangan mahasiswa asli daerah sendiri.


KRITERIA MENJADI PEMIMPIN YANG BAIK


Semua orang berhak untuk memiliki kesempatan menjadi seorang pimpinan, namun tidak semuanya mampu memenuhi beberapa kriteria menjadi seorang Pemimpin Yang Baik. Menjadi Pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah, karena segala sesuatu yang dijalankannya akan menjadi panutan bagi para bawahannya, baik buruknya tindakan seorang pemimpin berpengaruh kuat pada kinerja dari bawahan yang ia pimpin..

Tidak sedikit pemimpin yang gagal dalam menjalankan perannya, bahkan banyak pula pemimpin yang tidak disenangi, karena sikapnya yang salah dan kebijakan saat mengambil keputusan yang kurang tepat. Oleh karena itu penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui Kriteria menjadi pepimpin yang baik sebagai berikut :

1. Harus Memiliki Tujuan.
Seorang pemimpin yang baik, harus memiliki visi dan misi, serta tujuan yang jelas. Ibarat sebuah kapal, seorang pemimpin adalah nahkoda utama yang memiliki tujuan kemana kapal tersebut akan berlayar dan berlabuh. Selanjutnya pemimpin yang baik wajib menyampaikan tujuan, visi dan misinya kepada seluruh bawahannya agar memiliki motivasi untuk mencapai tujuan dari target yang sama, sehingga pemimpin bisa memberikan bimbingan untuk menggerakan timnya menuju tujuan yang telah ditentukan.

2. Memiliki Karakter Yang Kuat.
Biasanya pemimpin yang sukses memiliki karakter yang kuat. Selalu berani mengambil tantangan, dan yakin bahwa resiko yang diambilnya akan memberikan keuntungan bagi timnya. Walaupun tak jarang seorang pemimpin banyak dicela oleh bawahan karena telah dianggap mengambil keputusan yang menyimpang/nyeleneh atau keliru, karena keberaniannya mengambil resiko keputusan.

Namun jangan salah, pemimpin umumnya selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, menimbang-nimbang apakah pilihan, keputusan, atau wewenang yang diambil berdampak baik atau buruk, seorang pemimpin selalu mengambil pelajaran dari masa lalu untuk memberikan inovasi melangkah maju ke depan, agar timnya berhasil menjadi pionir bukan menjadi follower.

3. Sigap dan Selalu Fokus.
Pemimpin yang baik akan cepat bertindak dalam segala hal, baik dalam kondisi mendesak maupun kondisi normal yang harus bisa mengambil keputusan dengan tepat dan cepat. Disamping itu pemimpin juga harus fokus terhadap tujuannya, pisahkan antara prioritas utama dengan prioritas jangka panjang. Ini sangat penting, karena berpengaruh terhadap kerja tim. Jangan sampai mereka bingung, tugas mana yang menjadi target utama untuk mereka selesaikan. Sigap terhadap perubahan lingkungan memang penting, namun jangan sampai melupakan fokus utama Anda.

4. Kenali Kelebihan dan Kekurangan Tim.
Sebelum mengenali kelebihan dan kekurangan tim, sebaiknya seorang pemimpin berbesar hati untuk mengakui kekurangan dan kelebihannya dalam memimpin. Jangan sampai menjadi pemimpin yang angkuh dan tidak mau mengakui kesalahannya, karena akan memberikan contoh yang buruk bagi bawahannya. Disamping itu kenali kelebihan dan kekurangan masing-masing anggota tim, analisa ini bertujuan untuk mengembangkan potensi para anggota sesuai dengan kelebihan yang mereka miliki.

5. Belajarlah Untuk Rendah Hati Pada Anggota.
Walaupun seorang pemimpin jabatannya lebih tinggi, namun bukan berarti tidak bisa membaur dengan anggota tim. Sempatkan waktu untuk turun langsung melihat anggota tim, dan mengenal masing-masing anggota untuk mempermudah komunikasi antara Tim. Hubungan komunikasi yang baik antara bawahan dan atasan, akan memperlancar kerjasama dan meningkatkan loyalitas anggota tim.

6. Dengarkan dan Berikan Pengakuan Bagi Anggota Tim.
Ada kalanya seorang pemimpin belajar mendengarkan pendapat dari anggota timnya, agar pimpinan tidak memutuskan segala hal secara sepihak yang memungkinkan para anggota sebenarnya tidak sepaham dengan keputusan pimpinan. Dan yang terakhir berikan pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan oleh anggota tim Anda. Tunjukan bahwa Anda menghargai kerja keras mereka.

Salam sukses.
#Sutarmanjoy #Kosambo #Bima
www.sutarmanjoy.com

KRITERIA PEMIMPIN YANG NGGUSU WARU



NGGUSU WARU, Dalam Bahasa Bima NTB, adalah 8 (delapan) sifat/karakteristik yang menyatu sedemikian kuatnya dalam diri seseorang yang menjadi pemimpin. Kedelapan sifat/karakteristik itu sekaligus bisa menjadi rujukan untuk memilih seseorang Pemimpin yang bersahaja dan mumpuni bagi seluruh lapisan Masyarakat. Adapun ke 8 (delapan) Sifat tersebut sebagai berikut:

1. MAJA LABO DAHU 

Artinya orang yang merasa malu dan takut kepada Allah SWT. Takwa dalam artian hati-hati dan selektif dalam hidupnya. Ia tidak mau bersikap sembarangan. Karena ia yakin bahwa meskipun mata kepalanya tidak dapat melihat Allah, tapi mata hatinya yakin bahwa Allah SWT pasti memperhatikan dia, sebagaimana dirumuskan dalam pengertian ihsan, yaitu: “hendaklah engkau menyembah Allah, seakan-akan kau meliha-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah pasti melihat engkau”. Jadi, kriteria yang satu ini mendasari sekaligus menjiwai ketujuh sifat yang lainnya.

2. BAE ADE
Artinya, orang yang memiliki kapasitas intelektual serta kepekaan jiwa (spiritual) yang mendalam sehingga dengan mudah menanggapi berbagai permasalahan yang terjadi, secara rasional dan intuitif serta tidak mudah bersikap emosional dalam arti negatif. Karena itu, ia selalu mampu mengontrol dirinya sedemikian rupa sehingga tidak mudah terbawa oleh pemikiran yang bersifat polaritas: prokontra, kiri-kanan, hitam-putih, dan sejenisnya. 

Dia mampu mengajukan pikiran yang partisipatif, akomodatif, dan adaptif, mampu memodernisasi, menjembatani, mencari titik temu, dari dua/lebih hal yang ekstrim sedemikian rupa sehingga ia mampu berada “ditengah-tengah”, menjadi wasit yang adil dan santun. Dia tidak mudah terpancing untuk melakukan kekerasan.

3. MBANI LABI DISA
Artinya orang yang memiliki sifat berani melakukan perubahan (reformasi) kearah yang lebih positif-konstruktif karena diyakini kebenarannya. Karena itu, ia berani mempertanggungjawabkan segala perbuatanya sebagai aparatur negara dihadapan UUD 45 dan Panca Sila serta dihadapan Allah SWT berdasarkan agama yang dianutnya. Dalam al-quran telah dijelaskan yang artinya “Sesungguhnya aku yakin bahwa kelak aku akan menemui hisab oleh dan terhadap diriku sendiri(QS. Al Haqqah, 69:20). Karena itu tidak ada seorangpun yang mampu “bersandiwara” semuanya akan dipertanggungjawabkan dunia ahirat. 

Perhatikan pula QS. Yasin, 36:65, yang artinya “Pada hari itu kami tutup mulut mereka dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberikan kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka lakukan”. Jadi, Mbani Labo Disa berarti, Berani berbuat, Berani bertanggung jawab.

4. LEMBO ADE
Artinya orang yang lapang dada (berjiwa demokratis dan akomodatif) yang mampu menjembatani hal-hal yang dapat menimbulkan polaritas (pro-kontra). Dengan kesabarannya ia tidak mudah memihak kepada hal-hal yang nampaknya secara lahiriyah, terlihat menguntungkan, akan tetapi justru membahayakan. Dengan demikian ia, mampu mengatasi berbagai krisis yang terjadi. Karena ia memiliki tekad/semangat yang membaja dalam meraih tujuan yang lebih luhur atau membahagiakan. 

Semangat dengan selalu mengatakan” Kalembo Ade, Yakinlah bahwa Allah SWT akan menolong siapa saja, selama orang tersebut memiliki sikap seperti itu. Perhatikan QS. Al-Baqarah, 2: 45 dan 153 yang artinya “Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan Sabar dan Sholat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang Khusyu”. Sabar itu selalu pahit pada awalnya, tetapi akan berbuah manis pada akhirnya. “Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut di utamakan”(QS. Ali Imran, 3:186).

5. NGGAHI RAWI PAHU
Artinya, orang jujur yang sekata dengan perbuatannya (tidak hipokrit), karena apa yang telah dikatakan atau yang telah disepakati bersama akan dilaksanakan secara arif, sehingga menghasilkan suatu yang sangat positif dan konstruktif. Hal itu dimungkinkan karena ia memiliki kemampuan terutama dalam hal penggunaan kata/kalimat yang secara psikologis dan moral dapat mengantarkan dirinya dan orang lain untuk membuat komitmen atau ucapan selalu singkrong dengan perbuatan.
Ungkapan tersebut sesungguhnya merupakan manifestasi dari orang yang kuat imannya kepada adanya Allah SWT sebagai pencipta alam semesta sekaligus sebagai pelindung dan pemeliharanya. Keimanan seperti itu, harus diyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan perbuatan. Ketiga-tiganya harus berjalan secara simultan dan seimbang. Dalam Surat QS. As-Saf, 61: 1-2, yang artinya “Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan (sesuatu) apa yang kamu tidak perbuat. Amat besar kebencian di hadirat Allah SWT (apabila) kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan”.

6. TAHO HIDI
Artinya, orang yang memiliki integritas kepribadian yang kokoh-kuat dan berwibawa. Dedikasinya tinggi serta loyal akan perjuangan, menegakkan keadilan dan kebenaran. Penampakan fisik kejasmaniannya yang tampan, cantik, atau gagah bukan menjadi ukuran akan tetapi yang sangat penting pada aspek integritas kepribadian yang sidik (jujur), tidak bohong, amanah (dapat dipercaya), tidak khianat, tabaliq (transparan dan komunikatif) tidak sembunyi-sembunyi, serta fatonah (cerdas dan kreatif), tidak bohong sehingga menampakkan pribadi yang seutuhnya: proporsional dan harmonis. Harmonis antara fisik-kejasmanian dan psikhis-kerohanian, secara sempurna. Atau meminjam istilah dalam tasawuf, ia menjadi “insan kamil”, yaitu manusia yang selalu dalam “proses menjadi” sempurna. Jadi “Taho Hidi" Artinya orang yang seimbang antara struktur tubuhnya yang gagah (pria) atau cantik (wanita) dan berakhlak baik/akhlakul karimah. 

7. WARA DI WOHA DOU
Artinya, orang yang selalu merasa terpanggil untuk mengambil tanggung jawab, ditengah-tengah masyarakat, baik ditingkat Lokal, Nasional, maupun Internasional. Dia selalu dekat di hati rakyat, ia selalu dicintai rakyatnya. Dengan demikian, ia selalu unggul dalam setiap kegiatan yang bersifat kompetitif dan yang melibatkan orang banyak (publik). 

Betapa tidak, karena ia selalu hadir di tengah-tengah masyarakat, baik dikala suka dan duka, dengan tidak membeda-bedakan status sosial; kaya-miskin, Ia berkeyakinan bahwa kesusahan, penderitaan orang lain, adalah peluang baginya untuk beribadah kepada Allah SWT, dengan cara memudahkan segala urusannya sehingga orang itu merasa berbahagia berada di sampingnya, sama seperti Ia merasa bahagia melalukan ibadah kepada Allah SWT.

8. NTAU RO WARA
Artinya, orang yang memiliki kekayaan lahiriyah dan rokhaniah, sehingga tidak mudah tergoda oleh hal-hal yang bersifat materi. Betapapun ia sangat membutuhkannya. Atau menurut ungkapan yang populer dewasa ini yaitu, Ia tidak mau melakukan Korupsi sekalipun ia sangat membutuhkan banyak uang untuk memenuhi berbagai keperluan. 

Korupsi atau memakan uang yang bukan haknya adalah hal sangat bertentangan dengan hati nuraninya, Jadi, dia sudah merasa kaya walau sesungguhnya Ia miskin, Ia mampu memilah dan memilih bahkan menilai bahwa sebuah benda yang berharga itu, tidak ubahnya sebutir batu/kerikil yang berserakan disepanjang jalan. Ia sama sekali tidak terusik untuk memilikinya melebihi porsi yang diperlukannya. Lagipula, sesuai dengan haknya tidak lebih dari itu.

Tulisan ini disadur oleh Bahtiar Malingi (Dosen IAIN Mataram NTB - Mahasiswa S2 UNY Yogyakarta) dari sebuah buku karangan sesepuh Guru Melo (Abdul Malik Mahmud Hasan) dengan judul “Ngusu Waru” Sebuah Kriteria Pemimpin Menurut Budaya Lokal Mbojo (Dompu-Bima). Semoga bermanfaat, Lebih dan kurangnya kami mohon maaf.

HORMATILAH GRUMU, JADILAH MURID YANG BUDIMAN


Jika anda Alumni SMAN 1 Bima, Pastinya anda akan sangat mengenal siapa gerangan sosok dalam foto. Untuk menguji daya ingat anda, Sengaja saya tidak mencatumkan nama beliau tapi yang pasti, Beliau adalah guru bahasa Inggris kita. Alhamdulillah, di Usia senjanya masih tetap sehat dan uniknya, Jika bertemu langsung, Beliau akan langsung mengenali kita, Subhanallah...! Bincang-bincang dengan Beliau, Berikut Ini pendapat beliau tentang Dunia Pendidikan kita :

Hormati Gurumu, Sayangi Teman,Itulah tandanya kau murid budiman". Sepenggal lagu itu mengingatkan kita tentang pesan moral orang tua pada anak. Bagaimana sang murid menghormati gurunya dan menyayangi teman-temannya.

Nilai-nilai luhur dari seorang murid saat ini sudah semakin mengkhawatirkan, Seiring perkembangan peradaban dunia yang katanya kian moderen, tetapi rasa hormat pada guru kian luntur dan dianggap bukanlah sebuah kewajiban. Sekalipun ada rasa hormat, tidak lebih hanya formalitas belaka ketika sang murid merasa takut dimarahi gurunya.

Hampir semua guru, tidak ada yang berharap apalagi meminta untuk dihormati. Namun dari sudut pandang sebagai seorang murid, maka sejatinya menghormati guru adalah sebuah kewajiban. Guru tidak ubahnya sebagai sosok orang tua di sekolah, Jika hormat pada orang tua, hormat juga pada gurumu dan rasa takzim pada sosok tersebut merupakan wujud dari penghargaan pada ilmu yang mereka berikan.

Menjadi seorang Guru itu mudah jika tugasnya hanya sebatas menyampaikan mata pelajaran belaka, tetapi sesungguhnya guru memikul amanah yang amat berat yaitu menerapkan proses pengawasan akan perubahan sikap dan moral para muridnya. Terkadang guru menerapkan efek jera namun saat ini menjadi dilema bagi para guru karena cubit murid sedikit, masalah akan menjadi berbukit-bukit, Tau kan maksudnya?

Dalam penerapan efek jera, banyak pihak memandang masih diperlukan, namun tidak sedikit yang memperkarakannya, itulah sebabnya guru lebih berharap peran orang tua agar berkesinambungan dalam pembentukan moral, mental anak didik yang paripurna. Dengan demikian akan terwujud tujuan pendidikan yang di idamkan. Seperti dalam penggalan lagu di atas, orang tua selalu berpesan untuk menghormati guru, menyayangi teman, Itulah tandanya murid yang budiman.

Kesuksesan yang kita raih, adalah buah dari ridhonya guru atas ilmu yang ia berikan, Demikian pula sebaliknya, Segala kegagalan yang menimpa, bisa jadi adalah buah dari rasa tidak hormat kita pada guru dan ketahuilah, Guru akan selalu ingat dan bangga jika mendengar segala kesuksesan yang telah diraih oleh murid-muridnya, maka Hormatilah Guru, Pahlawan tanpa tanda jasa bagi kita semua (AB)
Sekian dan semoga bermanfaat.


Penulis: Abunawar Bima

PANTANG MUNDUR

Pantang Mundur, Demi terwujudnya Kota bima yang Lebih Baik

#Sutarmanjoy #Kosambo #Bima





H.SUTARMAN & KELUARGA, SILATURAHIM DENGAN INA KAU MARY



Rasa bahagia dan takjub terpancar dari wajah H. Sutarman karena diterima dengan penuh kekeluargaan saat bersilaturahim dengan Hajah Siti Mariam Muhammad Salahuddin atau kerap disapa Masyarakat Bima dengan Ina Kau Mary (Ibu Besar Maryam) Keturunan Kerajaan Bima beberapa waktu lalu.

Sutarman sengaja mengajak Istri dan putra putrinya agar mereka mengenal sosok Siti Mariam yang sangat Ia kagumi, karena dimasa tua dan menjelang usia 90 tahun, Putri dari Kesultanan Bima ke XXIV ini masih terlihat sehat dan hal yang sangat menarik , adalah Ia salah satu yang mampu membaca Naskah Kuno kitab Bo Sangaji Kai.

Seperti diketahui, Ratusan tahun yang lalu, naskah-naskah di Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) ditulis dengan aksara khusus, yang disebut aksara Bima. Setelah Islam masuk ke Bima, seluruh naskah-naskah kuno itu ditulis ulang dengan menggunakan huruf Arab-Melayu dan dikumpulkan dalam satu kitab bernama Bo Sangaji Ka dan tidak banyak warga yang dapat membaca naskah kuno yang hampir punah itu, Mungkin minat Masyarakat untuk mempelajarinya kurang, ungkap Maryam sedih.

Putri keenam dari Sultan Muhammad Salahuddin ini. kini berusia 89 tahun dan tidak memiliki keturunan, Ia meraih gelar doktor bidang filologi Fakultas Sastra Unpad pada usia 83 tahun. Bagi Maryam, menuntut ilmu tak ada batasnya. Meski usianya tak lagi muda, ia masih rajin menyebarkan ilmu tentang naskah-naskah kuno yang ia kuasai itu. Maryam pun tampak antusias saat diminta membacakan naskah kuno Bo Sangaji Kai.

Semangat Siti Maryam patut menjadi contoh bagi kita semua, Kata H. Sutaman pada putra-putrinya pun Ia menekankan pada Masyarakat Bima terutama para Generasi Mudanya bahwa menuntut ilmu memang tanpa batasannya, baik tua atau muda. Faktor umur memang ada pengaruhnya, namun jika semangat belajar kita terus berkobar nicaya akan lahir Mayam-Maryam lainnya di Kota Bima ini, Tegas Sutarman.

Maryam telah menterjemahkan naskah Bo Sangaji Kai ke dalam bahasa Indonesia. Karya-karyanya banyak tersimpan di perpustakaan-perpustakaan di Indonesia. Sayangnya, kemampuan membaca aksara Bima masih belum banyak yang mewarisi, mungkin minat masyarakat kurang tetapi Ia tetap giat menyebarkan ilmu filologi. Dari Wikipedia, filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik, Imbuhnya.

Maryam masih cukup sering menghadiri seminar-seminar tentang filologi, sejarah hingga arkeologi. Perempuan yang dikenal gesit di masa mudanya ini masih kuat bolak-balik NTB-Jakarta untuk menghadiri undangan-undangan seminar dan dialog serta pameran filologi.

Maryam mengenyam pendidikan S1 dan S2-nya di bidang hukum Universitas Indonesia tahun 1953 - 1960. Ia sempat menjadi Staf Khusus Bidang Kehakiman tahun 1957-1964. Maryam juga pernah menjadi anggota DPR RI tahun 1966-1968, Asisten Administrasi Sekretaris Wilayah Daerah NTB tahun 1964-1968 dan juga sebagai dosen di Universitas Mataram.

Maryam juga tetap konsisten dengan budaya dan kesenian Bima. Hal itu Ia buktikan dengan tetap menjadi mengelola sanggar tari bernama Paju Monca di Bima maupun Mataram hingga saat ini. Maryam pun masih peduli dengan perkembangan generasi muda, khususnya di Bima. Ia sangat menyayangkan sikap generasi muda Bima saat ini gampang tersulut emosinya, Dari hal yang sepele menjadi ajang perang antar warga hingga menimbulkan korban.

Maryam berpesan agar Pemerintah membuat program-program yang mengayongi seluruh lapisan Masyarakat dan mencari solusi agar benturan-benturan yang terjadi di tengah Masyarakat tidak terjadi lagi. Jangan saling menyalahkan, Perbedaan itu wajar dan memang harus terjadi, tetapi janganlah perbedaan yang dicari dan terus menerus disoroti, tetapi, cari dan temukan kebersamaan sebagai solusi membangun kota Bima yang lebih Maju, Damai dan Sejahtera, Pungkasnya.

Penulis: Abunawar Bima

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA