Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adat. Tampilkan semua postingan

SEMANGAT KEBERSAMAAN LESTARIKAN BUDAYA



Semangat kebersamaan Masyarakat Bima-Dompu NTB membahana pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, di Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (17/3/2018).

Rapat tersebut menghasilkan point-point penting, tetapi point yang paling penting adalah Festival Rimpu Bima-Dompu, sesuai yang diagendakan sebelumnya, tetap diadakan pada 15 Juli 2018 mendatang.

Menimbang dan memutuskan, karena waktu yang terus berjalan, semua panitia yang telah ditunjuk sesuai bidang masing-masing, langsung bekerja. “kerja, kerja... tidak ada lagi wacana, tunjukan kinerja dan kreatifitas masing-masing demi suksesnya penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Kita semua Pasti Bisa” Demikian ditegaskan oleh penanggung jawab acara, Syofian Thahir pada saat menyampaikan pidato sambutannya pada rapat tersebut.(AB)

#Rimpu #SaveRimpu
#Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB

KASAMAWEKI LESTARIKAN BUDAYA BIMA-DOMPU


Generasi muda adalah adalah salah elemen penting dalam melestarikan kebudayaan dan berkontribusi besar dalam pembangunan bangsa dan negara. sudah seharusnya generasi muda berpartisipasi aktif melestarikan budaya, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melestarikan budayanya.

Partisipasi tersebut bisa dilakukan melalui festival atau pentas seni budaya. Itulah yang tengah diagendakan oleh Komunitas Kasamaweki (Komunitas muda mudi) yang beranggotakan sejumlah perantuan/mahasiswa dari daerah Bima dan Dompu se- Jabodetabek yang akan mengadakan 'Pentas Seni Budaya' di Kampung. Rawabadung Jatinegara Jakarta Timur, Sabtu, 5 Mei 2018 mendatang dengan menampilkan Tari Tradisional, Mpaa Gantao, Kapatu Cambe, Bazar kuliner khas Bima-Dompu.

Ketua Umum Kasamaweki, Ifan Sofian (27) asal Dompu mengatakan, Miris melihat prilaku remaja saat ini, terutama pemuda pemudi Bima-Dompu yang kian luntur kecintaan terhadap budayanya, untuk itu, kami merasa terpanggil mengadakan acara tersebut dengan mengundang sejumlah muda mudi. "Dimana kaki berpijak, budaya harus dijunjung tinggi, karena budaya merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah tinggi yang wajib dijaga dan dilestarikan, budaya jualah yang mempersatukan kita" jelasnya.

Apa acara tersebut tidak bersenggolan dengan acara Festival Rimpu Bima-Dompu, 15 Juli 2018?

Acara Kasamaweki sudah jauh hari kami agendekan, bahkan pada tahun 2017, kami telah melakukan pementasan yang sama di Kalideres Jakarta Barat dengan sutradara Ryan Kananu (Sutradara Muda Dompu) dan sekenario Rahman Kertas. Kami sangat mendukung Festival Rimpu yang diadakan di Monas, 15 juli mendatang, karena acara semacam itu adalah bagian dari visi dan misi kami juga. "Anggap saja acara yang kami adakan adalah pemanasan awal demi mendukung Festival tersebut, kami semua pasti hadir memeriahkan dan berpartisipasi " tegasnya.

Lebih lanjut Ifan menjelaskan, Kasamaweki didirikan pada 29 Desember 2016, Berawal dari kegiatan sosial penggalangan dana banjir bandang Bima, 4 Desember 2016 silam, juga penggalangan dana korban banjir Sumbawa, kemudian berlanjut dengan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. 

Sejak empat bulan lalu, Kasamaweki telah mendirikan Taman Belajar Kasamaweki tingkat Sekolah Dasar di Aula Musholla Al-furqon Rawabadung Jakarta Timur, dengan tujuan memberikan edukasi pendidikan terhadap anak Rawabadung sekitarnya, dengan pengajar sukarela dari mahasiswa (anggota Kasamaweki). "Apa yang kami lakukan memang masih kecil, tetapi kami berharap bisa bermanfaat bagi orang banyak" pungkasnya. (AB)
Penulis: abunawarbima@gmail.com


BIMA-DOMPU NTB, GELAR FESTIVAL RIMPU


Presenter cantik asal Bima NTB De Tary, mengatakan bahwa Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', Seperti rimpu yang saya pake ini, kata De Tary sembari action dengan rimpunya, jadi jangan salah kaprah antara rimpu mpida dengan rimpu colo, ucapnya.

Rimpu mpida biasanya dikenakanoleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Colo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka, jelasnya.

Lebih lanjut Tary mengatakan, Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu dalam menjaga harga diri, mereka sadar bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan kaum pria. Namun, di balik keistimewaan tersebut ternyata banyak perintah dan larangan Allah, salah satunya adalah menjaga dan menutup aurat, tegasnya.

Mengapa harus menutup aurat?
Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting dan anda semua pasti tau jawababnya, jadi? #SaveRimpu Ok  (AB)

#saverimpu #pawairimpujakarta2018 

#budayambojo #bimadompu #budayaindonesia

TARIAN BIMA, MUNA RA MEDI


MUNA RA MEDI Adalah Tarian Dou Mbojo (Bima) Nusa Tenggara Barat yang mengambarkan gerakan tari diawali pengambilan kapas, pemisahan kapas, pemintalan hingga menjadi ‘Tembe Nggoli’

Secara sepintas mungkin anda akan mengatakan, pekerjaan menenun itu sederhana, mudah dan gampang, tetapi... sesungguhnya pekerjaan ini membutuhkan keterampilan khusus, ketelitian, ketekunan dan kesabaran, maka tak heran, Wanita Bima pada umumnya cukup sabar dalam menghadapi berbagai masalah, ibarat benang, sesulit apapun benang itu kusut, mereka mampu menguraikannya.

Semenjak beberapa perancang busana menggunakan tenunan Bima sebagai bahan busana mereka, tenunan Bima pun ikut terangkat dan terkenal hingga ke manca negara, Mengapa? Karena tenunan Bima itu unik, kuat dan berkwalitas.

Inilah berkah dari ketelitian, ketekunan dan kesabaran, Wanita Bima hingga mampu menciptakan Tenunan yang di akui dunia, maka, tak ayal, sejumlah perancang busana dari dalam hingga luar negeri ramai-ramai memburu tenunan ini langsung ke Bima. (AB) 


Abunawar Bima​

PAWAI RIMPU DAN PENTAS SENI BUDAYA BIMA NTB


Forum Komunikasi Kasuba Ade (FOKKA) merupakan organisasi paguyuban orang Bima yang berada di Jabodetabek dan juga sudah ada di beberapa Negara, Menyelenggarakan Pawai Rimpu Di Tangerang, Minggu (11/12/2016).

Lebih dari 3.000 orang hadir dalam Pawai Rimpu dengan menempuh jarak 1 kilometer, yang sempat memacetkan lalulintas Jalan Citra Raya Tangerang, Berkat kesigapan panitia, Pawai Rimpu dapat berjalan lancar dan sukses.

Ketua FOKKA Bambang Zul yang lebih dikenal di sosial media dengan nama Bams Uba Zeo menjelaskan, ‘Rimpu’ merupakan cara berpakaian yang menutup aurat para wanita dari suku Bima-Dompu. “Pakaian tradisional ini dikenakan oleh kaum hawa dari suku Bima dan Dompu sejak ratusan tahun lalu, Rimpu adalah identitas budaya suku Bima-Dompu yang ingin tetap kita jaga , ungkapnya.

Pawai rimpu ini adalah wujud kepedulian FOKKA untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan, selain itu juga sebagai ajang silaturahmi orang Bima yang tinggal di Jabodetabek dan Ia pun berpesan kepada Masyarakat Bima yang berada dimanapun agar tetap melestarikan Budaya yang kita cintai ini, Kalau bukan kita, siapa lagi? Tegasnya.

Selain Pawai Rimpu, sejumlah artis Ibukota yang berasal dari Bima turut berpartisipasi memeriahkan panggung hiburan Budaya Bima, satu persatu mereka diperkenalkan di atas panggung oleh pemandu acara / Mc terkenal Irfan Kempo dan Jamaludin Ikraman yang membuat histeris sejumlah penonton.

Tokoh Muda Bima Jabodetabek yang juga Ketua GPII Kabupaten Tangerang Anhar Patikawa menyambut hangat Pawai Rimpu ini guna menanamkan kepada generasi muda agar terus menjaga dan melestarikan kebudayaan Bima.

Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat Jabodetabek yang berasal dari Bima untuk tetap menjaga keharmonisan di tengah kehidupan bermasyarakat sebagaimana telah ditanamkan oleh para leluhur dengan semboyan yang cukup dikenal yakni ‘Maja Labo Dahu’ yang bermakna malu melakukan kesalahan dan takut tidak menjalankan perbuatan baik.

Turut hadir dalam Pawai Rimpu 2016, Hamdan Zoelva mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Gubernur Banten Nonaktif Rano Karno, Asisten Daerah I Kabupaten Tangerang, Syofian Taher Asisten Wali Kota Jakarta Timur Bidang Pembangunan.

Syofian Taher mengatan, Sekalipun saya berasal dari Dompu tapi Budaya Rimpu adalah bagian yang terpisahkan dengan Dompu, Hidup Rimpu Bima - Dompu sembari mengangkat kedua jempolnya.

Syofian menambahkan, Pawai Rimpu harus terus menerus diadakan, seiring dengan kemajuan zaman yang mana generasi mudanya cenderung meninggalkan budaya yang katanya sudah kuno. “Harga yang tak ternilai dari sebuah bangsa adalah Budaya, untuk itu generasi mudanyalah yang harus tetap menjaga, merawat melestarikan Budaya Rimpu ini, Tegasnya.(AB)

abunawarbima@gmail.com

TRADISI KALONDO LOPI DI WERA BIMA NTB


Sangat jarang kita bisa melihat langsung dan mengikuti Prosesing Kalondo Lopi (Menurunkan Perahu/Kapal). Jika pun ada, mungkin terjadi hanya sekali dalam 3 tahunan atau 5 tahunan. Lopi yang dimaksud adalah  Lopi Haju Na’e (Baca: Kapal Kayu Besar). Satu-satunya pembuatan Kapal Kayu Besar di Bima hanya ada diwilayah Wera Kab Bima. Mungkin bisa jadi, satu-satunya Lokasi pembuatan Kapal Kayu Besar di Pulau Sumbawa.

Prosesing Kalondo Lopi adalah prosesing yang turun temurun dilakukan oleh Warga Wera khususnya Desa Sangiang Darat. Setidaknya, hingga saat ini sudah ada 39 Kapal Kayu Besar dengan dengan rata-rata kapasitas berat angkut kapal (Tonase) sekitar 90 hingga 250 Ton, yang pernah dibuat di Sangiang Darat. 95 porsen Lopi ini dibuat dari Kayu yang didatangkan khusus dari Kalimantan. Jenis kayu yang digunakan adalah Kayu Hitam (Diospyros celebica) atau kayu besi lainnya.

Khusus Lopi dengan Tonase besar di Sangiang darat, rata-rata dibuat selama 4 tahun, bergantung pula dari kesediaan bahan (kayu) sebagai hal yang utama. Pembuatan Lopi, mulai dari proses pemilihan jenis Kayu Luna (Kayu Khusus untuk dasar Lopi) hingga prosesing Kalondo Lopi, dipimpin oleh Pande Lopi (Baca: Kepala Tukang). Pande Lopibiasanya ditentukan oleh sang empunya hajat pembuatan Lopi.

Selama ini Pande Lopi di Wera Sangiang cenderung didatangkan dari perkampungan Ara, Bulukumba Sulawesi selatan. Sehingga dalam beberapa hal, terkait dengan proses dan atau tekhnis pembuatannya ikut serta tradisi dalam pembuatan Phinisi Sulawesi Selatan atau Perahu Kayu di Bonerate Bulukumba.

Proses pembuatan yang cukup lama ini (rata-rata 3 tahun) mewajibkan ritual-ritual tertentu yang sudah menjadi tradisi. Misalnya seperti pemasangan pondasi Lopi dengan menggunakan Kayu Luna. Pemasangan Pondasi dianggap sakral karena menentukan keseimbangan dan keterapungan Lopi. Pemasangan awal ini menjadi petanda pembuatanLopi di mulai. Pada malam hari, Warga Sangiang selalu memulai dengan Barasanji (doa). Istilah Barasanji atau semacam dzikir bersama ini cukup dikenal luas di Sulawesi Selatan.Barasanji juga dilakukan pada saat Lopi akan ditarik turun kelaut, sebagai petanda bahwaLopi siap berlayar.

Pada saat Lopi ditarik turun kelaut atau dikenal dengan Prosesing Kalondo Lopi ini. Berbagai upacara atau ritual keselamatan diselenggarakan. Diawali dengan ritual Barasanjipada malam hari sebelum Lopi ditarik turun pada pagi hari. Setelah Sholat subuh, menjelang proses Kalondo Lopi, terlebih dahulu dilakukan prosesing upacara Soji ro Sangga yang dipimpin oleh Pandita  Lopi (Ulama atau Tokoh Agama). Dalam upacara Soji Ro Sangga ini ditandai dengan penyembelihan Ayam. Ayam yang disembelih menjadi lauk bagi warga yang akan menarik kapal dipagi nanti. Namun kepala dan ekornya dipisahkan untuk dipasang di anjo (anjungan) dan di Keto Lopi (belakang kapal) dekat baling-baling.

Diikatkannya Kepala Ayam di Anjo dan Kaki Ayam di Keto Lopi, dimaksudkan, agar salah seorang anak dan istri Nabi Nuh, tidak ikut naik diatas Lopi yang menyebabkan Lopimenjadi tidak ber-Rejeki dan selalu mendapatkan musibah ditengah laut. Meskipun hal tersebut Mitos, namun sudah menjadi tradisi warga secara turun menurun dalam prosesKalondo Lopi.

Saat Lopi diturunkan menggunakan Katrol yang ditarik secara bersama-sama, pada saat pertama kali Bagian paling depan Lopi menyentuh air laut, Pandita Lopi akan memerintahkan warga untuk berhenti beberapa saat guna dilangsungkan Doa Ncao Mori(Doa Penyatuan Hidup). Doa yang dimaksud adalah bersalawat seraya menyelipkan Doa Keselamatan Lopi dan diakhiri Doa Sapu Jagat.

Pilihan hari guna dilangsungkan prosesing Kalondo Lopi juga dipercaya mampu menguatkan Lopi dari berbagai anuraga laut seperti badai dan gelombang. Pandita Lopi,Pande Lopi dan Pemilik Lopi biasanya melakukan mufakat terlebih dahulu dalam menentukan hari Kalondo Lopi. Biasanya diputuskan dengan menghitung mulai menjelang purnama malam ke 6 hingga 10. Hal ini juga bertepatan pasangnya air laut dipagi hari, sehingga Lopi bisa lebih cepat mencapai laut dan terdorong dengan baik.

Bagi Orang Sangiang Darat, Lopi Na’e dikenal dua jenis, yaitu Lopi Siwe (Kapal wanita) danLopi Mone (Kapal Lelaki). Bukan berkelamin, namun biasanya berdasarkan pada keruwetan perawatannya. Disebut Lopi Siwe karena cenderung mendadak ‘bocor’ (kemasukan air dibalka kapal) dan kerap terjadi pada saat Nci’I Wura (menjelang Bulan Purnama). Bocor disini, bukan bocor dalam artian sebenarnya yang terjadi di palka atau dasar Lopiberlubang atau retak, tetapi bocor tanpa lubang pun akhirnya terkuras dengan sendirinya. Bagi para Tekhnisi perkapalan Modern hal ini cenderung dianggap Mitos. Namun bagi warga Wera hal tersebut bisa dibuktikan dengan nyata. Bocor tanpa Lubang, itulah disebutLopi Siwe.

H. Achmad Ncuri (71 thn) sebagai Pande Lopi Wera sejak tahun 1985 berkisah banyak tentang prosesing pembuatan Lopi ini. Meski hal ini tidak dinamakan Phinisi layaknya di Sulawesi Selatan, pun Perahu Kayu di Bonerate Selayar. Namun proses pembuatannya hampir-hampir mirip. Yang membedakannya adalah ritual dan bentuk anjungan serta Palka kapal. Jenis kayu pun menjadi pembeda yang paling menonjol. Tetapi bila dilirik sekilas,Lopi dan Phinisi adalah sangat mirip.

Hal ini diakui pula oleh H. Syahruddin (77 thn), yang memang sudah menjadi asisten pembuatan Lopi Wera sejak tahun 50an. Pada tahun 1964, ia putuskan untuk menakhodai sendiri Lopi milik Warga Wera Sangiang yang saat itu masih berlayar kain. Belum modern seperti saat ini yang sudah menggunakan mesin Silinder bahkan mesin Kapal Besi Pencari Tuna buatan jepang. Dulu H.  Syahruddin berlayar membawa barang dari Bima ke Kalimantan selama 4 hari 4 malam. Dan itu dilakoninya hingga tahun 1996.   

Sebelum tahun 1964, setidaknya ada 6 Lopi yang dibuat oleh H. Syahruddin sebagaiasisten Pande Lopi. Dari pengalaman ikut menyaksikan sekaligus membuat Lopi itula, H. Syahruddin melaut dengan nama Lopi ‘Cinta Sejati’. Lopi tersebut ia buat pada tahun 1959, sebagai Lopi ke 5 yang dibuatnya bersama warga. Semua prosesing Pembuatan Lopi Weradari yang pernah dikerjakannya, unsur Bugis nya seakan-akan wajib ada atau masuk dalam proses pembuatan Lopi Wera. Hal ini sudah menjadi tradisi, baik penentuan bahan bakuLopi, SDM serta Nakhodanya kelak. Namun sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, seluruh tenaga pembuatan hingga tenaga ABK (anak buah Kapal) diambil dari warga Wera sendiri dan lebih diutamakan yang masih dalam status keluarga dekat.

Saat ini Lopi Na’e di Wera Sangiang masih ada 2 unit yang sedang dikerjakan. Menurut Mandor Pengontrol pengerjaan akhir (Finishing), Ayang Sayifullah, bahwa pembuatan Lopidengan kapasitas atau Daya muat 500 hingga 900 Ton ini akan selesai sekitar pertengahan tahun 2016 sekaligus 2 unit. Proses awal pembuatan dimulai sejak tahun 2010 yang lalu, namun karena berat Lopi diperkirakan 60 -100 Ton per unit, maka proses pembuatannya pun cukup lama, sekitar 6 tahun. Walaupun ada juga pembuatan Lopi Na’e  di Pulau Sangiang, namun berkapasitas angkut sedang (60 - 75 Ton), dengan kemungkinan waktu proses pembuatannya hanya 2 tahun.

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA