Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NTB. Tampilkan semua postingan

KONSER AMAL GEMPA LOMBOK, TERKUMPUL DANA MILIARAN RUPIAH


Elek Yo Band, sama seperti band-band lainnya yang berusaha tampil dengan maksimal, hanya saja yang berbeda adalah bayarannya yang terbilang sangat fantastik, Bayangkan, untuk membawakan empat lagu, termasuk duet dengan penyanyi ternama Yuni Shara, mereka dibayar Rp 10 miliar pada saat tampil di Studio Indosiar dalam konser amal untuk gempa Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (29/8/2018) malam.

Sebelum tampil, Konser yang dihadiri oleh sejumlah artis papan atas itu untuk mengumpulkan dana bagi korban gempa Lombok NTB itu empat lagu dilelang pada penonton yang hadir. Dari harga RP.100 Juta, hingga terkunci pada harga Rp.10 Miliar yang seluruhnya akan disumbangkan untuk Lombok yang sedang berduka atas bencana gempa.

Grup band yang beranggotakan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, Menteri PUPR Basuki Hadimuljo, menteri perhubungan Budi karya Sumadi, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi , Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, Koordinator Staf Khusus Presiden Teten Masduki itu mampu menggelorakan semangat kebersamaan dalam menggalang dana untuk bencana Lombok NTB.

Gema Asian Games 2018 ikut menggelorakan semangat konser amal tersebut, saat lelang baju yang dipakai oleh pahlawan Asian Games seperti Kaos Anthony Ginting Laku Rp 150 Juta, Kaos Jonatan Christie (Jojo) Laku Rp 400 Juta tidak ketinggalan Jaket yang dipakai Puan Maharani Laku Rp 200 Juta

Lelang benda-benda pribadi milik tokoh terkenal semakin seru, Seperti Gitar klasik milik Menteri Tenaga kerja Hanif Dhakiri yang semula dilelang Rp.100 Juta, ahirnya harga terkunci pada penawar tertinggi dari pengusaha terkenal Jonathan Thahir dengan seharga Rp 1 Miliar, sontak Hanif langsung bersorak dan loncat-loncat kegembiraan di atas panggung. “Alhamdulillah, Lombok bisa tersenyum kembali, Senyum Lombok, senyum untuk kita semua” ucap Hanif di atas panggung. (AB)


Penulis: abunawarbima@gmail.com


AKSI CEPAT TANGGAP GEMPA LOMBOK


ACT Komunitas Salaja Mbojo (Kosambo) bekerjasama dengan ACT MRI Bima, sudah mensuplai 500 dus air mineral ‘Rangga’ kepada saudara-saudara kita di Lombok yang tertimpa bencana Gempa.

Bantuan tersebut tidaklah seberapa, tapi inilah wujud nyata dari kepedulian kami untuk meringankan beban saudara-saudara kita di Lombok. “Siapa yang dilapangkan rezekinya, mari ulurkan tangan untuk membantu” Demikian di katakan Pimpinan Kosambo yang juga pengusaha air mineral 'Rangga' Bp. Sutarman Joy dalam siaran persnya, Sabtu (11/08/2018).

Lebih lanjut Sutarman mengatakan, gerakan menggalang dana dengan hastag #gerakan500dusairminum Alhamdulillah, semua bergerak dengan 'Aksi Cepat Tanggap', tua muda bergandengan tangan, dalam satu hari terkumpul lebih dari 800 dus air minum dan uang tunai sebesar Rp. 11.000.000, (sebelas juta rupiah), ucap Sutarman.




Tim ACT sempat kesulitan mencari armada untuk mengangkut bantuan ke Lombok, tapi Alhamdulillah, berkat kerjasa sama yang cukup baik, semua dimudahkan. "Bantuan sudah diserah terimakan di Lombok" pungkas Sutarman. (AB).



KEK MANDALIKA MENYAPA DUNIA



Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Lombok NTB terus dibenahi, seperti pembangunan jaringan infrastruktur, penataan 5 (lima) pantai dengan total panjang 16 kilometer, Pembangunan toilet umum setara toilet hotel bintang lima, Sarana pengamanan, pengawasan, dan keselamatan di pantai. “Semua ditata dengan standar bintang lima dan keselamatan pantai tingkat dunia” jelas Direktur Utama PT Indonesia Tourism Development Corporation, Abdulbar M Mansoer.

Mandalika memiliki sejumlah keunggulan seperti luas kawasan Mandalika ialah 1.175 hektare (ha) dan 35 ha di antaranya digunakan untuk komersial, jika dibandingkan dengan kawasan Nusa Dua di Bali, luasnya hanya 350 ha, Jelas Mandalika lebih unggul, lanjut Abdulbar.

Fasilitas lain yang akan segera dibangun adalah dermaga khusus kapal pesiar mewah, taman tematis dan ruang terbuka hijau yang ditetapkan sebagai taman kawasan hutan seluas 120 ha. “Dengan dibangunnya Marina atau dermaga khusus tersebut, maka mandalika semakin jauh lebih unggul dengan Nusa Dua Bali” jelas Abdulbar.

Anggaran Rp250 miliar telah digunakan untuk mendukung infrastruktur, selanjutnya akan dibangun 26 ribu kamar di KEK Mandalika yang investasinya sebesar Rp4,2 triliun untuk infrastruktur jalan, lanskap, penerangan, dan lainnya, tidak termasuk pembangunan hotel. “Jika semuanya lancar, Target pembangunan akan selesai pada tahun 2021” Pungkasnya. (AB).

MENABUR PESONA DIJANTUNG IBU KOTA


Rimpu merupakan perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syari’at Islam yang kuat. Rimpu juga menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung, satu digunakan untuk bagian atas (rimpu) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah, biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe. Cara memakai rimpu cukup sederhana, kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (rimpu colo) atau terlihat matanya saja (Rimpu Mpida)

Seiring kemajuan menenun, Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli, kini tersedia beragam songket dengan motif-motif yang indah, namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari slogan Nggusu waru seperti: (Bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli dengan menggunakan benang rayon. Perpaduan unik dari ragam motif tersebut membuat Rimpu tampil indah dan elegan.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya.

Hal tersebut juga menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu pada saat itu mampu menciptakan kreasi busana yang tetap merujuk pada model atau tatakrama berbusana perempuan Arab, maka jadilah rimpu yang lebih simpel dan mudah menggunakannya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Seiring kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat.

Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Melestarikan budaya bukanlah pekerjaan mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus mengenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi acuan bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek menyelenggarakan 'Festival Rimpu Bima Dompu di Monas, Minggu 15 juli 2018 mendatang.

Salah satus pencetus ide Festival Rimpu Bima Dompu 2018, Bams Uba Zeo mengatakan, Semangat kebersamaan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, Kota kecil diujung pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya (Rimpu ) di jantung Ibukota Negara ( Monas ) Jakarta adalah hal yang spetakuler, dan akan lebih spektakuler jika Pemerintah ikut mendukungnya. “Saya mengajak semua elemen masyarakat Bima Dompu, Ayo rame-rame, ke Monas, Minggu 17 Juli 2018, Kita tunjukan pada dunia, inilah Rimpu, Inilah Budaya, Inilah Indonesia yang kaya akan keberagamanan Budayanya ”. (AB)

PAJUMONCA SIAP MERIAHKAN FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Pajumonca adalah sebuah band yang dibentuk di Jokjakarta pada 20 November 2010, Band ini berawal dari sebuah Komunitas sanggar seni yang sering melakukan pentas seni budaya, hingga terbentuklah sebuah band yang mengusung musik tradisional. Seiring dengan perkembangannya, Pajumonca bermetamorfosis dengan sentuhan musik diatonic yang meramu musik tradisional dengan musik modern, kreasi dan inovasi terus dikembangkan, menjadikan Pajumonca terus eksis sebagai band ethnikc progressive yang tetap mengedepankan sentuhan musik tradisional.

Pajumonca Band, selalu membawakan Lagu-lagu ciptaan sendiri dengan berbagai konsep dan tema atau dari beragam realita yang terjadi ditengah masyarakat di ilustrasikan dalam musik. Lirik lagu, selain bahasa Indonesia, juga menggunakan berbagai bahasa daerah, maka tidaklah heran, Band yang digawangi Aan Moema (Vocal, Gitar, Serunai) Anange (Bass) Irfan (Gitar dan Backing Vocal) Urino Zateza (Gendang , Rebana, Kentingan) Agil (Drum, Perkusi). telah melanglang buana di seluruh pelosok negeri.

Gitaris Aan Moema (35) asal Bima mengatakan, Suatu kehormatan Pajumonca diijinkan untuk tampil pada acara Festival Rimpu Bima-Dompu, pada 15 Juli 2018 mendatang. Kami tidak ingin menyia-nyiakan momentum yang bersejarah ini, karena semua tercapai dari jalinan silaturahim yang amat kuat dan semangat kebersamaan masyarakat Bima dan Dompu yang ingin menunjukan eksistensi budaya leluhur (Rimpu) di Ibu Kota Metropolitan Jakarta. "Peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari Dua Kabupaten dan Satu Kota Bima ( Bima & Dompu ) dari provinsi Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" tegasnya.

Menutup perbincangan, Aan Moema mengatakan, Melalui musik Pajumonca ingin berbagi kebahagiaan, cerita dan pengalaman. Melalui budaya kita bersatu dengan beraneka ragam suku, adat istiadat, budayalah yang mempersatukan kita semua. Ayoo, maysarakat Bima Dompu, "Kita tunjukan pada dunia bahwa Rimpu adalah kearifan budaya leluhur kita yang patut kita junjung tinggi, dijaga dan dilestarikan, Kalau bukan kita siapa lagi?" pungkasnya (AB)
abunawarbima@gmail.com


SEMANGAT KEBERSAMAAN LESTARIKAN BUDAYA



Semangat kebersamaan Masyarakat Bima-Dompu NTB membahana pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, di Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (17/3/2018).

Rapat tersebut menghasilkan point-point penting, tetapi point yang paling penting adalah Festival Rimpu Bima-Dompu, sesuai yang diagendakan sebelumnya, tetap diadakan pada 15 Juli 2018 mendatang.

Menimbang dan memutuskan, karena waktu yang terus berjalan, semua panitia yang telah ditunjuk sesuai bidang masing-masing, langsung bekerja. “kerja, kerja... tidak ada lagi wacana, tunjukan kinerja dan kreatifitas masing-masing demi suksesnya penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Kita semua Pasti Bisa” Demikian ditegaskan oleh penanggung jawab acara, Syofian Thahir pada saat menyampaikan pidato sambutannya pada rapat tersebut.(AB)

#Rimpu #SaveRimpu
#Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB

DUA KABUPATEN BERKALABORASI DALAM FESTIVAL RIMPU 2018


Festival Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu tengah di agendakan oleh perkumpulan masyarakat Bima dan Dompu yang merantau di Jabodetabek. Semangat kebersamaan yang melibatkan masyarakat dari 2 (dua) Kabupaten yang berada di Provensi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terus dimatangkan, salah satunya dengan menggelar Rapat Koordinasi (Kaboro Weki) guna menetapkan Panitia Pelaksana di salah satu rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, Minggu (25/02)

Festival rimpu sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cakupannya cukup besar karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten Bima dan Dompu. Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan atau memadati Monas dan Bundaran HI, tempat diselenggarakannya acara tersebut pada Juli 2018 mendatang. "Selain Festival Rimpu, juga menyajikan pergelaran kesenian dan kuliner khas Bima dan Dompu" Jelas penanggung jawab acara yang juga Asisten Wali Kota Jakarta Timur Bp. Drs. Syofian Thahir.

Lebih lanjut Syofian mengatakan, Rimpu adalah akar budaya yang tidak terpisahkan antara Kabupaten Bima dan Dompu, terbukti kebersamaan yang terbentuk dalam menyusun agenda demi satu tujuan yaitu memperkenalkan seni budaya Bima dan Dompu sebagai kearifan lokal budaya agar lebih dikenal oleh masyarakat luas maupun masyarakat Dunia, tegasnya.

Tokoh muda asal Bima Arsyad Hasan alias Putra Tente mengatakan, Rimpu merupakan budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Bima dan Dompu, merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, "Festival Rimpu kali ini adalah peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari dua kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" jelasnya.

Pantauan penulis dari obrolan di sejumlah sosial media (capture terlampir,) para netizen yang berasal dari daerah tersebut sangat antusias ingin berpartisipasi atau ikut memeriahkan dan berharap agar acara tersebut bisa terselenggarakan dengan baik dan lancar tanpa halangan apapun. Tidak semata memperkenalkan Budaya, akan tetapi nama baik daerah Bima-Dompu jadi taruhannya, untuk itu, saling mengingatkan adalah hal terbaik agar kita semua sama-sama menjaga ketertiban demi suksesnya Festifal Rimpu. (AB) Abunawar Bima






#Rimpu #Festival #SeniBudaya #Bima #Dompu #NTB

MENGGAPAI MIMPI


Orang tua mana yang tidak bahagia dan bangga melihat jenjang pendidikan anaknya memenuhi kriteria sesuai dengan keinginan maupun harapan orang tua, namun tidak dipungkiri, masih banyak orang tua yang cenderung memaksakan kehendaknya pada anak-anak mereka.

Memang tidaklah salah, jika setiap orang tua selalu berharap dan terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anaknya, akan tetapi jadilah orang tua yang bijak yang hanya mengarahkan, bukan memaksakan. Jika dipaksakan, justru sang anak akan terbelenggu dalam pilihan orang tua sendiri, padahal, setiap anak berhak menentukan arah dan tujuan kehidupannya sendiri.

Hal itulah yang mendasari pemikiran Imran Said, maka buah kesabarannya dalam membimbing, mendidik dengan kedisiplinan tinggi berbuah manis, anak semata wayangnya, Reza berhasil dilantik menjadi Taruna Akpol angkatan 2017 di Semarang (02/11/2017), Reza mampu menunjukan jati dirinya ditengah persaingan yang sangat ketat dengan ribuan pemuda-pemudi seluruh Indonesia lainnya dalam seleksi masuk Taruna Akpol tersebut.

Imran, Alumni SMAN1 Bima ini mengakui bahwa, Dulu Ia pernah bercita cita ingin menjadi Taruna AKABRI, dua kali Ia mencoba mengikuti seleksi namun dua duanya gagal total. Rupanya keinginannya tersebut terjawab melalui putra kesayangannya Reza, Alkhandulillah Tuhan memenuhi cita-cita saya melalui Reza, tegasnya.

Dirinya, lanjut Alumni FE Universitas Mataram ini, sama sekali tidak memaksakan agar anaknya masuk Taruna ABRI, namun dalam hatinya yang paling dalam, jujur mengakui selalu berharap dan berdo’a agar cita-citanya yang gagal dulu itu akan berhasil melalui putranya dan ia sangat memahami bahwa untuk menjadi Taruna Akpol bukan hal mudah, itulah sebabnya, dari awal ia sudah mengembleng anaknya dengan kedisiplinan tinggi. “Orang tua harus memahami kemana arah, minat dan bakat anak-anaknya untuk dibimbing atau diarahkan dengan benar, jelasnya

Pada kesempatan yang sama Reza mengakui, Pada mulanya tidak pernah terlintas di benaknya untuk masuk Taruna Akpol, ia justru bercita-cita ingin menjadi dokter dan pilot, tetapi mungkin ini sudah kehendak Tuhan dan saya merasa bangga, cita-cita lama yang terpendam pada ayahnya, berhasil melalui dirinya.

Lebih lanjut Reza mengatakan, Dukungan orang tua, keluarga, guru dan sahabat-sahabat dekatnya memicu semangat Reza untuk bisa masuk Tauna Akpol. Reza sadar dan sangat menyadari bahwa peraturan yang sangat ketat dan disiplin tinggi menjadi Taruna Akpol adalah tantangan berat tetapi ia merasa optimis dan akan mampu melewatinya, Do’akan saya ya Om dan titip salam buat semua-semua, pungkas Reza (AB). 

Penulis: Abunawar Bima

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA