Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemuda. Tampilkan semua postingan

MAHASISWA KAPANYEKAN ISLAM DAMAI DAN TOLERAN


Sekitar 200 mahasiswa dari 78 Perguruan Tinggi Keagamaan Islam se-Indonesia menghadiri Kemah Perdamaian di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) guna menyosialisasikan dan mengampanyekan praktek-praktek Islam yang damai dan toleran.

Kegiatan yang diberi nama Youth Camp for Peace Leaders 2018 berlangsung 21 s/d 25 Januari. "Ini kalian semua merupakan kekuatan yang luar biasa untuk kemajuan bangsa," kata Gubernur NTB, KH. Muhammad Zainul Majdi saat membuka Kemah Perdamaian tersebut di Pantai Klui, Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Senin (21/1).

Gubernur pada kesempatan tersebut mengatakan, jangan percaya kalau ada siapapun yang mengatakan, anak-anak muda itu biang kerok masalah. "Jangan percaya, karena sejarah tidak bicara seperti itu," katanya.

Majdi mengatakan, sebelum kemerdekaan 1945 justru para Pemuda-lah yang menjadi pelopor untuk memprovokasi dan mendorong Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamirkan Indonesia Merdeka.

"Untuk Indonesia anak-anak muda itu solusi, untuk Indonesia anak-anak muda itu harapan, dan untuk Indonesia anak-anak muda adalah kejayaan di masa yang akan datang," ujarnya.

Direktur Nusatenggara Centre Mataram, Suprapto mengatakan, 200 mahasiswa tersebut adalah mereka yang terseleksi secara ketat dari 2.650 mahasiswa pendaftar.

Mereka adalah para mahasiswa semester tiga dan lima dari berbagai Perguruan Tinggi seperti, Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) dan Perguruan Tinggi Swasta yang ada di NTB.

Dikatakannya, melalui Kemah Perdamaian para mahasiswa diharapkan mampu mengembangkan pengetahuan tentang nilai-nilai toleransi, perdamaian, bahaya konflik dan pencegahan kekerasan, ekstrimisme khususnya di kalangan mahasiswa,

Selain itu juga untuk membangun kesadaran dan kerja sama lintas organisasi, dan komunitas khususnya di kalangan mahasiswa di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. "Tujuannya untuk melawan paham serta perilaku yang berorientasi pada radikalisme, kekerasan serta ekstrimisme," katanya.

Ketua Panitya Kemah Perdamain, Lukman Hakim mengatakan, selama kegiatan para peserta mengikuti berbagai kegiatan mulai dari Majelis Harmoni, kunjungan lapangan menyasar ke sejumlah lokasi seperti gereja, pura, vihara, museum, masjid tua Bayan Beleq, pondok pesantren, outbond serta pentas budaya yang harapannya mengakomodir seni daerah menurut asal para peserta (OL-3) - MI.

MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA


Perjuangan dan kebulatan tegad para pemuda hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang di ikrarkan pada Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), tak pernah lekang oleh waktu, kini umurnya telah mencapai 89 tahun (1928-2017), ibarat umur manusia, adalah umur yang sudah tua atau uzur. Umur Sumpah Pemuda boleh tua, akan tetapi semangat kebangsaan dan persatuan yang terpatri dalamnya tak boleh kendur, sayangnya semangat itu kian tergerus oleh waktu. 

Makna persatuan dan kesatuan mulai pudar, terbukti masih sering terjadinya tawuran para pelajar, mahasiswa, tawuran pemuda antar desa, membuat kita bertanya-tanya mengapa bangsa ini menjadi bangsa yang sakit, mudah terprovokasi? Permasalahan kecil bisa memicu menjadi besar karena tidak ada yang saling mengalah, saling ngotot dan merasa diri paling benar dan pintar. Sosial media pun dijadikan ajang untuk hal-hal tersebut, sehingga berdampak buruk jika dibiarkan terus menggunakan sosial media yang tidak santun dan bijak.

Mananggapi hal tersebut, Calon Wali Kota Bima 2018-2023 Ir.H.Sutarman H.Masrun,MM mengatakan, Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah, sebagai cikal bakal lahirnya Kemerdekaan Republik Indonesia. Dulu, pemuda Indonesia tertatih-tatih menegakkan kemerdekaan, berjuang dengan tetesan darah bahkan rela berkorban jiwa demi merebut tanah air dari tangan penjajah.

Lebih lanjut Sutarman mengatakan, Anak muda Indonesia saat ini berada pada era kemajuan teknologi seperti sosial media yang sepertinya tidak ada lagi sekat antara ruang dan waktu. Melalui sosial media, persatuan sebenarnya menjadi lebih mudah ditemui, sayangnya kemudahan itu malah sering terjadi perbedaan pendapat, bahkan saling menghujat hingga memicu perpecahan.

Sutarman menegaskan, Generasi muda hendaknya mengingat kembali sumpah para pemuda di zaman dulu. Sebab, inti dari isi sumpah pemuda adalah bersatu dalam satu kebulatan tekad untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara, dengan demikian diharapkan para pemuda, bisa memahami hingga berprilaku santun dan bijak menggunakan sosial media, tidak terpancing apalagi ikut meyebarkan isu-isu yang memecah belah NKRI. Selamat memperingati 89 tahun Hari Sumpah Pemuda (28/10/2017). Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia, Merdeka! NKRI Harga Mati, pungkasnya. (AB)



KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA