Tampilkan postingan dengan label Rimpu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rimpu. Tampilkan semua postingan

KEKOMPAKAN PANITIA, DIBALIK SUKSESNYA FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Merintis sebuah ide atau gagasan adalah pekerjaan mudah, namun mensosialisasikan dengan merangkul orang-orang hebat hingga gagasan tersebut bisa terlaksana adalah pekerjaan yang sangat sulit dan rumit, hanya orang yang sabar dan mau bekerja dengan hati tanpa pamrih yang mampu melakukannya, itulah yang ditunjukan oleh pelopor acara Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 seperti Bams Uba Zeo, Syofian Thahir, Subhan Dhinata , Jamaluddin Ikraman dan yang lainnya.

Tidak ada keraguan yang terpancar dari semangat mereka yang terus menerus, tanpa kenal lelah mensosialisasikan gagasan tersebut. Banyak pihak mengapresiasi namun tidak sedikit yang mencibir, bahkan meragukan acara tersebut bisa terselenggara, namun semangat pantang mundur yang mereka tunjukan membuat gaungnya kian bergema, maka pada, Ahad (25/02/2018) di rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, menjadi tempat bersejarah diadakannya rapat pertama sekaligus pembentukan Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018..

Setelah kepanitiaan terbentuk, sosialisasi semakin gencar dilakukan, panitia langsung bekerja sesuai bidang yang ditunjuk, begitu halnya dengan panitia inti, terus melobi dan mengatur strategi dari hal-hal kecil sampai hal terpenting yang sangat menguras tenaga, terutama isu-isu di luar kepanitiaan yang sengaja dihembus untuk menggagalkan rencana tersebut.

Gencarnya promosi melalui social media yang dilakukan Yuli H Ode dengan Lomba foto Busana Rimpu yang ia gagas, patut di apresiasi, sekalipun Ia berada dari balik layar dan tidak masuk kepanitiaan, tetapi Ia terus menerus, tanpa mengenal lelah memviralkan acara tersebut. Tercatat di Geoogle Analitic, Lomba Foto Busana Rimpu (memasang foto profile di akun facebookmasing-masing) berperan amat besar sehingga acara tersebut viral hingga ke luar negeri, bahkan wanita yang bukan berasal dari Bima dan Dompu ikut berpartisipasi memeriahkan lomba foto tersebut.

Komitmen kebersamaan dari berbagai elemen warga Bima dan Dompu yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya berupa ‘Rimpu’ mampu menyingkirkan segala perbedaan atau gesekan-gesekan yang terjadi, sehingga terjalin ikatan silaturahim yang baik bahkan bersenergi mengadakan Festival Rimpu.

Hasil kerja seluruh panitia disosialisasikan melalui grup Wa ‘Panpel Festival Rimpu’ yang sengaja dibuat untuk memudahkan koordinasi, meskipun demikian, beberapa kali rapat tetap diadakan untuk memaparkan secara aktual hasil yang telah dicapai. Diskusi-diskusi panjang nan melelahkan sering terjadi, tujuannya bukan memperlebar perbedaan tetapi menyamakan persepsi agar segala rencana yang telah disusun berjalan dengan baik.

Mungkin masyarakat tidak terlalu memahami bagaimana peliknya panitia mendapatkan izin dan rekomendasi dari Gubernur DKI atau izin-izin lain karena kegiatan ini masuk wilayah R1, dekat Istana Negara, tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan izin, tetapi berkat kebersamaan panitia yang amat kuat, semua permasalahan teratasi.

Diskusi lain yang lebih menguras tenaga dan pikiran adalah anggaran yang terkumpul belum mencukupi, padahal, hari pelaksanaannya tinggal menghitung hari, sehingga panitia terus berpacu dengan waktu melobi sejumlah para donatur. Lobi-lobi berhasil dilakukan, namun dana yang terkumpul masih sangat jauh dari yang diharapkan. Semangat panitia yang tidak pernah kendur, sekalipun anggaran belum mencukupi, acara tetap dilaksanakan sesuai anggaran yang ada dan diluar perkiraan, acara berjalan lancar dan sukses luar biasa.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 yang sukses tersebut, bukan karena siap-siapa, juga bukan dari hasil kerja keras orang per-orangan baik ketua maupun anggota lainnya, tetapi hasil kerja sama tim Panitia Festival Rimpu yang mampu mempertahankan semangat kebersamaan dan kekompakan yang sepantasnya kita semua mengapresiasianya.

“Kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik tersebut, harus dipertahankan agar pelaksanaan acara yang sama pada kesempatan yang akan datang dapat dilakukan lebih baik lagi dan kita semua menyadari bahwa pelaksanaan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 masih banyak kekurangannya, maka dengan belajar dari segala kekurangan tersebut, sejatinya akan menemukan hal-hal positif sehingga penyelenggaraan acara selanjutnya akan lebih baik dan lebih sempurna lagi”, Semoga. (AB)

Penulis: abunawarbima@gmail.com


FESTIVAL RIMPU MENUNGGU PARTISIPASI ANDA


Pengaruh budaya moderen kian tidak terbendung lagi membuat anak-anak generasi rentan dan mudah tertarik, akibatnya sedikit demi sedikit budaya tradisi kian terkikis. "Jika ini dibiarkan, cepat atau lambat, warisan budaya akan segera punah, sehingga anak-anak generasi semakin tidak mengenal atau merasa asing dengan budayanya sendiri".

Hal Itulah yang menjadi dasar pemikiran para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu, sehingga tercetuslah ide cemerlang dalam semangat kebersamaan dan ikatan silaturahmi yang amat kuat sehingga terbentuklah kepanitiaan yang lengkap dengan satu persepsi, satu tujuan yakni mengadakan Festival Rimpu.

Festival Rimpu, sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cukup fenomental karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten (Bima dan Dompu) dan 1 (satu) Kota Bima, daerah kecil diujung pulau sumbawa Provinsi NTB yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya dengan mengadakan Pawai Rimpu di jantung Ibukota Negara, Monas Jakarta, Minggu, 15 Juli 2018 mendatang.

Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan acara tersebut karena selain mengadakan pawai Rimpu, juga mengadakan pagelaran seni budaya, pameran aneka kuliner dan juga promosi pariwisata daerah Bima dan Dompu.

Semangat yang telah ditunjukan oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu di rerantauan, sepatutnya kita semua mengapresiasi dan mendukungkungnya, jika hanya mengandalkan semangat dari para tokoh tersebut, tidak mungkin acara sebesar itu bisa terselenggara.

Satu hal yang membuat kita jadi pesimis, ternyata sampai berita ini diturunkan, Panitia Pelaksana (Panpel) Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 mengalami kendala dalam hal dana. Ya, Dana yang terkumpul hanya sekitar nol koma sekian porsen dari yang telah dianggarkan, sangat jauh dari yang diharapkan, akan tetapi Panitia tetap optimis, acara tetap diselenggarakan sesuai kapasitas dan dana yang terkumpul.

Kesulitan dalam mengumpulkan dana tersebut, bisa terjadi karena acara yang sudah diagendakan ini bertepatan dengan pesta politik (tahun politik), sehingga orang lebih mementingkan urusan politik ketimbang urusan budaya, selain itu lebaran yang jatuh pada 15 Juni 2018 (sebulan sebelum acara festival rimpu), mungkin juga berpengaruh sehingga pengumpulan dana jadi terkendala.

Apapun permasalahannya, disinilah kita semua warga Bima dan Dompu diamanapun berada, diharapkan tetap semangat, seperti semangat yang telah ditunjukkan oleh para sesepuh kita, yang pantang menyerah, karena tetap ingin melaksanakan acara tersebut sesuai rencana. "Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, adalah hajad kita bersama untuk dana Mbojo dan Dompu, Ayo, kita sama-sama sukseskan".

Untuk itu, dalam momentum yang bahagia di Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Segenap Panitia Festival, mengajak semua pihak untuk ikut berpartisipasi dan bersedia menyisihkan sebagian rejeki THRnya sebagai bentuk dukungan atau suportnya demi suksesnya penyelenggaraan acara tersebut. Sumbangan dapat ditransfer melalui rekening FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade), Rek. Nomor: 1290010090138 Bank Mandiri.

Sekecil apapun sumbangan dan partisipasi Anda akan sangat bermanfaat dalam rangka mensukseskan Festival Rimpu. Segenab Panitia Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Mengucapkan Selamat Idul Fitri , 1 Syawal 1439 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (AB)
#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB
#SaveRimpu


ARTTA IVANO, KEPINCUT BUSANA RIMPU



ARTTA IVANO, adalah salah satu Aktris yang kepincut dengan Busana Rimpu (Busana khas Budaya Bima dan Dompu NTB), saking senangnya karena sudah bisa memakai Rimpu, Artta langsung membuat Video tutorial cara memakai rimpu yang Ia peragakan sendiri, Lihat videonya di link berikut:
1. Video Facebook  : https://goo.gl/KdMzVj  
2. Video Youtube  : https://youtu.be/QHkBSiBZIWI

Pemeran Kalila dalam Sinteron Reliji Para Pencari Tuhan (PPT) 2 menjelaskan, Budaya rimpu sudah ada sejak masuknya Islam di Bima dan Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan hasil karya budaya daerah tersebut yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan lelaki yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat, ucapnya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Colo' adalah rimpu yang seperti saya pakai/peragakan ini, biasanya dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah, maka diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka, jelasnya.

Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima dan Dompu tempo dulu dalam menjaga harga diri dengan cara memakai busana yang menutup aurat. Namun sayang, budaya rimpu kian punah seiring dengan kemajuan zaman yang kian moderen. Generasi muda yang semestinya melestarikan Rimpu, lebih memilih busana moderen, karena mereka anggap rimpu sudah ketinggalan zamaan alias sudah kuno. "Susungguhnya bangsa yang besar, adalah bangsa yang mampu menjaga dan melestarikan Budaya" pungkasnya. (AB)

Profil dan Biodata:
Nama: Endang Wihartanti, Nama tenar : Artta Ivano
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta,19 Maret 1982
Umur : 36 tahun Agama : Islam Suami : Temmie Ivano
Anak : Mirveda Ivano Stroethoff
Pekerjaan : aktris

#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB

DUA KABUPATEN BERKALABORASI DALAM FESTIVAL RIMPU 2018


Festival Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu tengah di agendakan oleh perkumpulan masyarakat Bima dan Dompu yang merantau di Jabodetabek. Semangat kebersamaan yang melibatkan masyarakat dari 2 (dua) Kabupaten yang berada di Provensi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terus dimatangkan, salah satunya dengan menggelar Rapat Koordinasi (Kaboro Weki) guna menetapkan Panitia Pelaksana di salah satu rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, Minggu (25/02)

Festival rimpu sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cakupannya cukup besar karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten Bima dan Dompu. Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan atau memadati Monas dan Bundaran HI, tempat diselenggarakannya acara tersebut pada Juli 2018 mendatang. "Selain Festival Rimpu, juga menyajikan pergelaran kesenian dan kuliner khas Bima dan Dompu" Jelas penanggung jawab acara yang juga Asisten Wali Kota Jakarta Timur Bp. Drs. Syofian Thahir.

Lebih lanjut Syofian mengatakan, Rimpu adalah akar budaya yang tidak terpisahkan antara Kabupaten Bima dan Dompu, terbukti kebersamaan yang terbentuk dalam menyusun agenda demi satu tujuan yaitu memperkenalkan seni budaya Bima dan Dompu sebagai kearifan lokal budaya agar lebih dikenal oleh masyarakat luas maupun masyarakat Dunia, tegasnya.

Tokoh muda asal Bima Arsyad Hasan alias Putra Tente mengatakan, Rimpu merupakan budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Bima dan Dompu, merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, "Festival Rimpu kali ini adalah peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari dua kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" jelasnya.

Pantauan penulis dari obrolan di sejumlah sosial media (capture terlampir,) para netizen yang berasal dari daerah tersebut sangat antusias ingin berpartisipasi atau ikut memeriahkan dan berharap agar acara tersebut bisa terselenggarakan dengan baik dan lancar tanpa halangan apapun. Tidak semata memperkenalkan Budaya, akan tetapi nama baik daerah Bima-Dompu jadi taruhannya, untuk itu, saling mengingatkan adalah hal terbaik agar kita semua sama-sama menjaga ketertiban demi suksesnya Festifal Rimpu. (AB) Abunawar Bima






#Rimpu #Festival #SeniBudaya #Bima #Dompu #NTB

PAWAI RIMPU & PENTAS SENI BUDAYA BIMA DOMPU SEGERA DI JAKARTA


Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan memakai kain (tenunan khas) Tembe Nggoli, kain terserbut dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah saja. Terlihat memang agak rumit memakainya, tapi sesungguhnya lebih simpel dan cepat setelah terbiasa menggunakannya. Budaya rimpu mirip dengan cara berbusana perempuan Arab yang lebih dikenal dengan busana Cadar.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu dalam menjaga harga diri, mereka sadar bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan kaum pria. Namun, di balik keistimewaan tersebut ternyata banyak perintah dan larangan Allah, salah satunya adalah menjaga dan menutup aurat.

Mengapa harus menutup aurat?
Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup panjang. Menutup aurat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan oleh perempuan yang telah mengikrarkan keimanannya bahwa dengan menutup aurat, sesungguhnya banyak hikmah yang akan dipetik, namun jika sengaja memamerkan aurat, maka setiap waktu, setiap saat, kejahatan selalu mengintai dan tepat pada saat ada kesempatan Ia akan langsung menerkam, maka siap-siaplah menanggung sendiri segala akibatnya. Banyak contoh lain yang nyata dan menjadi fakta dan memang, penyesalan itu selalu datang belakangan, padahal, Allah SWT dengan tegas mengingatkan, 'Jaga dan tutup Auratmu karena disitulah letak kehormatanmu'.

Seiring dengan kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat. Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Untuk melestarikan suatu budaya bukan pekerjaan yang mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus memperkenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi perhatian khusus Forum Komunikasi Kasabua Ade (FOKKA). Forum Silaturahim bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek ini, untuk kesekian kalinya akan menyelenggarakan 'Pawai Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu' bersekala besar atau skala nasional.

Salah satu pengurus FOKKA, Jamaluddin Ikraman yang ditunjuk mensosialisasikan acara tersebut mengatakan, Acara kali ini cukup besar dan bersekala nasional serta melibatkan masyarakat asal Bima dan Dompu, untuk itu, harus terbentuk kepanitiaan yang handal dengan melibatkan tokoh-tokoh terpengaruh asal Bima-Dompu atau masyarakat yang peduli akan budaya Bima-Dompu, akan mengadakan mbolo na'e (rapat akbar) yang isyaallah akan diadakan, Minggu, 25 Pebruari 2018, Pukul 10.00 wib sampai selesai di Rumah Tokoh Masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 (Stadion Bola Rawasari Jakarta Pusat), jelasnya.

Lebih lanjut Jamal mengatakan, Rencana perlehatan akbar tersebut akan diselenggarakan pada July 2018, Pawai Rimpu diadakan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai Monas, sedangkan Pentas Seni Budaya di adakan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Semoga semuanya berjalan sesuai rencana dan kita akan memastikannya pada saat rapat panitia, jadi tunggu saja informasi selanjutnya, imbuh Jamal.

Jamal berharap, agar pertemuan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar hingga terbentuk panitia sesuai yang diharapkan. Jamal merasa optimis, karena antusias masyarakat Bima-Dompu di obrolan grup Whatsaap (WA) cukup mengembirakan, membuat semangat kami pun bertambah berlipat-lipat, "Itulah yang meyakini kami bahwa perlehatan akbar dengan mengusung Parade Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima Dompu ini akan terselengarakan dengan sukses" pungkasnya. (AB) 

Penulis: abunawarbima@gmail.com

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA