Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bima. Tampilkan semua postingan

KEKOMPAKAN PANITIA, DIBALIK SUKSESNYA FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Merintis sebuah ide atau gagasan adalah pekerjaan mudah, namun mensosialisasikan dengan merangkul orang-orang hebat hingga gagasan tersebut bisa terlaksana adalah pekerjaan yang sangat sulit dan rumit, hanya orang yang sabar dan mau bekerja dengan hati tanpa pamrih yang mampu melakukannya, itulah yang ditunjukan oleh pelopor acara Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 seperti Bams Uba Zeo, Syofian Thahir, Subhan Dhinata , Jamaluddin Ikraman dan yang lainnya.

Tidak ada keraguan yang terpancar dari semangat mereka yang terus menerus, tanpa kenal lelah mensosialisasikan gagasan tersebut. Banyak pihak mengapresiasi namun tidak sedikit yang mencibir, bahkan meragukan acara tersebut bisa terselenggara, namun semangat pantang mundur yang mereka tunjukan membuat gaungnya kian bergema, maka pada, Ahad (25/02/2018) di rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, menjadi tempat bersejarah diadakannya rapat pertama sekaligus pembentukan Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018..

Setelah kepanitiaan terbentuk, sosialisasi semakin gencar dilakukan, panitia langsung bekerja sesuai bidang yang ditunjuk, begitu halnya dengan panitia inti, terus melobi dan mengatur strategi dari hal-hal kecil sampai hal terpenting yang sangat menguras tenaga, terutama isu-isu di luar kepanitiaan yang sengaja dihembus untuk menggagalkan rencana tersebut.

Gencarnya promosi melalui social media yang dilakukan Yuli H Ode dengan Lomba foto Busana Rimpu yang ia gagas, patut di apresiasi, sekalipun Ia berada dari balik layar dan tidak masuk kepanitiaan, tetapi Ia terus menerus, tanpa mengenal lelah memviralkan acara tersebut. Tercatat di Geoogle Analitic, Lomba Foto Busana Rimpu (memasang foto profile di akun facebookmasing-masing) berperan amat besar sehingga acara tersebut viral hingga ke luar negeri, bahkan wanita yang bukan berasal dari Bima dan Dompu ikut berpartisipasi memeriahkan lomba foto tersebut.

Komitmen kebersamaan dari berbagai elemen warga Bima dan Dompu yang memiliki kesamaan bahasa dan budaya berupa ‘Rimpu’ mampu menyingkirkan segala perbedaan atau gesekan-gesekan yang terjadi, sehingga terjalin ikatan silaturahim yang baik bahkan bersenergi mengadakan Festival Rimpu.

Hasil kerja seluruh panitia disosialisasikan melalui grup Wa ‘Panpel Festival Rimpu’ yang sengaja dibuat untuk memudahkan koordinasi, meskipun demikian, beberapa kali rapat tetap diadakan untuk memaparkan secara aktual hasil yang telah dicapai. Diskusi-diskusi panjang nan melelahkan sering terjadi, tujuannya bukan memperlebar perbedaan tetapi menyamakan persepsi agar segala rencana yang telah disusun berjalan dengan baik.

Mungkin masyarakat tidak terlalu memahami bagaimana peliknya panitia mendapatkan izin dan rekomendasi dari Gubernur DKI atau izin-izin lain karena kegiatan ini masuk wilayah R1, dekat Istana Negara, tentu saja tidak mudah untuk mendapatkan izin, tetapi berkat kebersamaan panitia yang amat kuat, semua permasalahan teratasi.

Diskusi lain yang lebih menguras tenaga dan pikiran adalah anggaran yang terkumpul belum mencukupi, padahal, hari pelaksanaannya tinggal menghitung hari, sehingga panitia terus berpacu dengan waktu melobi sejumlah para donatur. Lobi-lobi berhasil dilakukan, namun dana yang terkumpul masih sangat jauh dari yang diharapkan. Semangat panitia yang tidak pernah kendur, sekalipun anggaran belum mencukupi, acara tetap dilaksanakan sesuai anggaran yang ada dan diluar perkiraan, acara berjalan lancar dan sukses luar biasa.

Keberhasilan penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 yang sukses tersebut, bukan karena siap-siapa, juga bukan dari hasil kerja keras orang per-orangan baik ketua maupun anggota lainnya, tetapi hasil kerja sama tim Panitia Festival Rimpu yang mampu mempertahankan semangat kebersamaan dan kekompakan yang sepantasnya kita semua mengapresiasianya.

“Kebersamaan yang sudah terjalin dengan baik tersebut, harus dipertahankan agar pelaksanaan acara yang sama pada kesempatan yang akan datang dapat dilakukan lebih baik lagi dan kita semua menyadari bahwa pelaksanaan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 masih banyak kekurangannya, maka dengan belajar dari segala kekurangan tersebut, sejatinya akan menemukan hal-hal positif sehingga penyelenggaraan acara selanjutnya akan lebih baik dan lebih sempurna lagi”, Semoga. (AB)

Penulis: abunawarbima@gmail.com


FESTIVAL RIMPU MENUNGGU PARTISIPASI ANDA


Pengaruh budaya moderen kian tidak terbendung lagi membuat anak-anak generasi rentan dan mudah tertarik, akibatnya sedikit demi sedikit budaya tradisi kian terkikis. "Jika ini dibiarkan, cepat atau lambat, warisan budaya akan segera punah, sehingga anak-anak generasi semakin tidak mengenal atau merasa asing dengan budayanya sendiri".

Hal Itulah yang menjadi dasar pemikiran para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu, sehingga tercetuslah ide cemerlang dalam semangat kebersamaan dan ikatan silaturahmi yang amat kuat sehingga terbentuklah kepanitiaan yang lengkap dengan satu persepsi, satu tujuan yakni mengadakan Festival Rimpu.

Festival Rimpu, sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cukup fenomental karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten (Bima dan Dompu) dan 1 (satu) Kota Bima, daerah kecil diujung pulau sumbawa Provinsi NTB yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya dengan mengadakan Pawai Rimpu di jantung Ibukota Negara, Monas Jakarta, Minggu, 15 Juli 2018 mendatang.

Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan acara tersebut karena selain mengadakan pawai Rimpu, juga mengadakan pagelaran seni budaya, pameran aneka kuliner dan juga promosi pariwisata daerah Bima dan Dompu.

Semangat yang telah ditunjukan oleh para sesepuh dan tokoh masyarakat Bima-Dompu di rerantauan, sepatutnya kita semua mengapresiasi dan mendukungkungnya, jika hanya mengandalkan semangat dari para tokoh tersebut, tidak mungkin acara sebesar itu bisa terselenggara.

Satu hal yang membuat kita jadi pesimis, ternyata sampai berita ini diturunkan, Panitia Pelaksana (Panpel) Festival Rimpu Bima-Dompu 2018 mengalami kendala dalam hal dana. Ya, Dana yang terkumpul hanya sekitar nol koma sekian porsen dari yang telah dianggarkan, sangat jauh dari yang diharapkan, akan tetapi Panitia tetap optimis, acara tetap diselenggarakan sesuai kapasitas dan dana yang terkumpul.

Kesulitan dalam mengumpulkan dana tersebut, bisa terjadi karena acara yang sudah diagendakan ini bertepatan dengan pesta politik (tahun politik), sehingga orang lebih mementingkan urusan politik ketimbang urusan budaya, selain itu lebaran yang jatuh pada 15 Juni 2018 (sebulan sebelum acara festival rimpu), mungkin juga berpengaruh sehingga pengumpulan dana jadi terkendala.

Apapun permasalahannya, disinilah kita semua warga Bima dan Dompu diamanapun berada, diharapkan tetap semangat, seperti semangat yang telah ditunjukkan oleh para sesepuh kita, yang pantang menyerah, karena tetap ingin melaksanakan acara tersebut sesuai rencana. "Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, adalah hajad kita bersama untuk dana Mbojo dan Dompu, Ayo, kita sama-sama sukseskan".

Untuk itu, dalam momentum yang bahagia di Hari Raya Idul Fitri 1439 H, Segenap Panitia Festival, mengajak semua pihak untuk ikut berpartisipasi dan bersedia menyisihkan sebagian rejeki THRnya sebagai bentuk dukungan atau suportnya demi suksesnya penyelenggaraan acara tersebut. Sumbangan dapat ditransfer melalui rekening FOKKA (Forum Komunikasi Kasabua Ade), Rek. Nomor: 1290010090138 Bank Mandiri.

Sekecil apapun sumbangan dan partisipasi Anda akan sangat bermanfaat dalam rangka mensukseskan Festival Rimpu. Segenab Panitia Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Mengucapkan Selamat Idul Fitri , 1 Syawal 1439 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. (AB)
#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB
#SaveRimpu


MERANGKAI CERITA DISANGGAR RIMPU



Menulis cerita adalah bagian dari hobi, namun hobi itu jualah yang menyeretnya dalam mimpi ingin menjadi sutradara. Anggap saja mimpi, karena Ia sadar untuk mewujudkan impian itu perlu biaya besar. Tak ingin terus terbelenggu dengan biaya, Akhirnya mulailah Ia mernbangun mimpi sedikit demi sedikit dengan membuat film cerita pendek, Demikan dikatakan Pimpinan Sanggar Seni Rimpu Yogyakarta, Agus Bambang Sambima, di Yogyakarta pekan lalu.

Agus yang asli dari Bima NTB ini, mulai memberanikan diri membuat film, meskipun kamera yang digunakan masih kamera standar, Agus mengajak semua anggota sanggar terlibat dalam pembuatan film tersebut, karena tema yang diusung tidak jauh dari aktifitas sanggar Rimpu. Ceritanya pun dikemas sedemikian rupa agar adat dan Seni Budaya Suku Mbojo ikut ditampilkan.

Alkisah, Agus rupanya sudah gak sabaran memulai ceritanya, simak ya... Seorang wanita cantik, anggun dan santun. Aura kecantikan wanita itu kian terpancar manakala Ia menghias dirinya dengan memakai busana Rimpu. Kabar wanita cantik tersebut tersebar diseluruh jagad kampung, Para pemuda berlomba-lomba menaklukkan hatinya, tidak ketinggalan 2 (Dua) pemuda jagoan yang amat gagah dan perkasa jatuh cinta pada wanita yang sama.

Persaingan memperebutkan wanita itu kian memanas, dua pemuda saling unjuk kehebatan maka tak ayal keduanya saling menantang. Siapa yang menang dialah yang berhak mepersunting wanita yang jadi rebutan tersebut. Ahirnya disepakatilah hari, tanggal dan waktu mereka bertarung.

Sesuai hari yang telah ditentukan, disaksikan ribuan mata memandang, pertarungan sengitpun terjadi, Aksi bela diri kedua pemuda mengundang decak kagum. Penonton pun kian terkagum-kagum ketika kedua petarung itu saling beradu kepala, saling menyeruduk dengan keras. Pertarungan itu pun kian menarik diringi alunan musik tradisional yang merdu, hingga penonton jadi lupa siapa jagoan yang bakal memenangkan pertarungan yang memang sengaja dikemas dalam cerita seni beladiri masyarakat Bima yang lebih dikenal dengan nama Mpaa Gantao (Permainan Adu Kepala).

Banyak hal, banyak makna dan hikmah yang dapat kita petik dalam film karya pemuda pemudi Bima ini, mereka sengaja mengangkat seni budaya sebagai bentuk cintanya yang kuat akan seni budaya Mbojo. Sebuah dedikasi yang amat luar biasa yang sepatutnya kita apresiasi. Film ini dalam tahap editing oleh kawan-kawan Sanggar Seni Rimpu Yogyakarta, jadi harap sabar menunggu tayangnya. (AB)

abunawarbima@gmail.com

MENABUR PESONA DIJANTUNG IBU KOTA


Rimpu merupakan perpaduan unik antara budaya Indonesia dengan syari’at Islam yang kuat. Rimpu juga menunjukkan jati diri bangsa tanpa meninggalkan identitas Islam.

Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan menggunakan sarung tenun khas (tembe nggoli) yang terdiri dari 2 (dua) lembar sarung, satu digunakan untuk bagian atas (rimpu) dan satunya lagi untuk menutup bagian bawah, biasanya para lelaki menggunakannya untuk katente tembe. Cara memakai rimpu cukup sederhana, kain bagian atas dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah (rimpu colo) atau terlihat matanya saja (Rimpu Mpida)

Seiring kemajuan menenun, Rimpu tidak hanya menggunakan tembe nggoli, kini tersedia beragam songket dengan motif-motif yang indah, namun motif yang banyak digunakan adalah motif dari slogan Nggusu waru seperti: (Bunga bersudut delapan), weri (bersudut empat mirip kue wajik), wunta cengke (bunga cengkeh), kakando (rebung), bunga satako (bunga setangkai), sarung nggoli dengan menggunakan benang rayon. Perpaduan unik dari ragam motif tersebut membuat Rimpu tampil indah dan elegan.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya.

Hal tersebut juga menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu pada saat itu mampu menciptakan kreasi busana yang tetap merujuk pada model atau tatakrama berbusana perempuan Arab, maka jadilah rimpu yang lebih simpel dan mudah menggunakannya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Seiring kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat.

Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Melestarikan budaya bukanlah pekerjaan mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus mengenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi acuan bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek menyelenggarakan 'Festival Rimpu Bima Dompu di Monas, Minggu 15 juli 2018 mendatang.

Salah satus pencetus ide Festival Rimpu Bima Dompu 2018, Bams Uba Zeo mengatakan, Semangat kebersamaan Kabupaten Bima, Kabupaten Dompu dan Kota Bima, Kota kecil diujung pulau Sumbawa Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin menunjukkan eksistensi budaya leluhurnya (Rimpu ) di jantung Ibukota Negara ( Monas ) Jakarta adalah hal yang spetakuler, dan akan lebih spektakuler jika Pemerintah ikut mendukungnya. “Saya mengajak semua elemen masyarakat Bima Dompu, Ayo rame-rame, ke Monas, Minggu 17 Juli 2018, Kita tunjukan pada dunia, inilah Rimpu, Inilah Budaya, Inilah Indonesia yang kaya akan keberagamanan Budayanya ”. (AB)

PAJUMONCA SIAP MERIAHKAN FESTIVAL RIMPU BIMA-DOMPU 2018


Pajumonca adalah sebuah band yang dibentuk di Jokjakarta pada 20 November 2010, Band ini berawal dari sebuah Komunitas sanggar seni yang sering melakukan pentas seni budaya, hingga terbentuklah sebuah band yang mengusung musik tradisional. Seiring dengan perkembangannya, Pajumonca bermetamorfosis dengan sentuhan musik diatonic yang meramu musik tradisional dengan musik modern, kreasi dan inovasi terus dikembangkan, menjadikan Pajumonca terus eksis sebagai band ethnikc progressive yang tetap mengedepankan sentuhan musik tradisional.

Pajumonca Band, selalu membawakan Lagu-lagu ciptaan sendiri dengan berbagai konsep dan tema atau dari beragam realita yang terjadi ditengah masyarakat di ilustrasikan dalam musik. Lirik lagu, selain bahasa Indonesia, juga menggunakan berbagai bahasa daerah, maka tidaklah heran, Band yang digawangi Aan Moema (Vocal, Gitar, Serunai) Anange (Bass) Irfan (Gitar dan Backing Vocal) Urino Zateza (Gendang , Rebana, Kentingan) Agil (Drum, Perkusi). telah melanglang buana di seluruh pelosok negeri.

Gitaris Aan Moema (35) asal Bima mengatakan, Suatu kehormatan Pajumonca diijinkan untuk tampil pada acara Festival Rimpu Bima-Dompu, pada 15 Juli 2018 mendatang. Kami tidak ingin menyia-nyiakan momentum yang bersejarah ini, karena semua tercapai dari jalinan silaturahim yang amat kuat dan semangat kebersamaan masyarakat Bima dan Dompu yang ingin menunjukan eksistensi budaya leluhur (Rimpu) di Ibu Kota Metropolitan Jakarta. "Peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari Dua Kabupaten dan Satu Kota Bima ( Bima & Dompu ) dari provinsi Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" tegasnya.

Menutup perbincangan, Aan Moema mengatakan, Melalui musik Pajumonca ingin berbagi kebahagiaan, cerita dan pengalaman. Melalui budaya kita bersatu dengan beraneka ragam suku, adat istiadat, budayalah yang mempersatukan kita semua. Ayoo, maysarakat Bima Dompu, "Kita tunjukan pada dunia bahwa Rimpu adalah kearifan budaya leluhur kita yang patut kita junjung tinggi, dijaga dan dilestarikan, Kalau bukan kita siapa lagi?" pungkasnya (AB)
abunawarbima@gmail.com


SEMANGAT KEBERSAMAAN LESTARIKAN BUDAYA



Semangat kebersamaan Masyarakat Bima-Dompu NTB membahana pada saat Rapat Koordinasi (Rakor) Panitia Pelaksana Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, di Taman Mini Indonesia Indah, Anjungan Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (17/3/2018).

Rapat tersebut menghasilkan point-point penting, tetapi point yang paling penting adalah Festival Rimpu Bima-Dompu, sesuai yang diagendakan sebelumnya, tetap diadakan pada 15 Juli 2018 mendatang.

Menimbang dan memutuskan, karena waktu yang terus berjalan, semua panitia yang telah ditunjuk sesuai bidang masing-masing, langsung bekerja. “kerja, kerja... tidak ada lagi wacana, tunjukan kinerja dan kreatifitas masing-masing demi suksesnya penyelenggaraan Festival Rimpu Bima-Dompu 2018, Kita semua Pasti Bisa” Demikian ditegaskan oleh penanggung jawab acara, Syofian Thahir pada saat menyampaikan pidato sambutannya pada rapat tersebut.(AB)

#Rimpu #SaveRimpu
#Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB

KASAMAWEKI LESTARIKAN BUDAYA BIMA-DOMPU


Generasi muda adalah adalah salah elemen penting dalam melestarikan kebudayaan dan berkontribusi besar dalam pembangunan bangsa dan negara. sudah seharusnya generasi muda berpartisipasi aktif melestarikan budaya, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu melestarikan budayanya.

Partisipasi tersebut bisa dilakukan melalui festival atau pentas seni budaya. Itulah yang tengah diagendakan oleh Komunitas Kasamaweki (Komunitas muda mudi) yang beranggotakan sejumlah perantuan/mahasiswa dari daerah Bima dan Dompu se- Jabodetabek yang akan mengadakan 'Pentas Seni Budaya' di Kampung. Rawabadung Jatinegara Jakarta Timur, Sabtu, 5 Mei 2018 mendatang dengan menampilkan Tari Tradisional, Mpaa Gantao, Kapatu Cambe, Bazar kuliner khas Bima-Dompu.

Ketua Umum Kasamaweki, Ifan Sofian (27) asal Dompu mengatakan, Miris melihat prilaku remaja saat ini, terutama pemuda pemudi Bima-Dompu yang kian luntur kecintaan terhadap budayanya, untuk itu, kami merasa terpanggil mengadakan acara tersebut dengan mengundang sejumlah muda mudi. "Dimana kaki berpijak, budaya harus dijunjung tinggi, karena budaya merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah tinggi yang wajib dijaga dan dilestarikan, budaya jualah yang mempersatukan kita" jelasnya.

Apa acara tersebut tidak bersenggolan dengan acara Festival Rimpu Bima-Dompu, 15 Juli 2018?

Acara Kasamaweki sudah jauh hari kami agendekan, bahkan pada tahun 2017, kami telah melakukan pementasan yang sama di Kalideres Jakarta Barat dengan sutradara Ryan Kananu (Sutradara Muda Dompu) dan sekenario Rahman Kertas. Kami sangat mendukung Festival Rimpu yang diadakan di Monas, 15 juli mendatang, karena acara semacam itu adalah bagian dari visi dan misi kami juga. "Anggap saja acara yang kami adakan adalah pemanasan awal demi mendukung Festival tersebut, kami semua pasti hadir memeriahkan dan berpartisipasi " tegasnya.

Lebih lanjut Ifan menjelaskan, Kasamaweki didirikan pada 29 Desember 2016, Berawal dari kegiatan sosial penggalangan dana banjir bandang Bima, 4 Desember 2016 silam, juga penggalangan dana korban banjir Sumbawa, kemudian berlanjut dengan kegiatan-kegiatan sosial lainnya. 

Sejak empat bulan lalu, Kasamaweki telah mendirikan Taman Belajar Kasamaweki tingkat Sekolah Dasar di Aula Musholla Al-furqon Rawabadung Jakarta Timur, dengan tujuan memberikan edukasi pendidikan terhadap anak Rawabadung sekitarnya, dengan pengajar sukarela dari mahasiswa (anggota Kasamaweki). "Apa yang kami lakukan memang masih kecil, tetapi kami berharap bisa bermanfaat bagi orang banyak" pungkasnya. (AB)
Penulis: abunawarbima@gmail.com


ARTTA IVANO, KEPINCUT BUSANA RIMPU



ARTTA IVANO, adalah salah satu Aktris yang kepincut dengan Busana Rimpu (Busana khas Budaya Bima dan Dompu NTB), saking senangnya karena sudah bisa memakai Rimpu, Artta langsung membuat Video tutorial cara memakai rimpu yang Ia peragakan sendiri, Lihat videonya di link berikut:
1. Video Facebook  : https://goo.gl/KdMzVj  
2. Video Youtube  : https://youtu.be/QHkBSiBZIWI

Pemeran Kalila dalam Sinteron Reliji Para Pencari Tuhan (PPT) 2 menjelaskan, Budaya rimpu sudah ada sejak masuknya Islam di Bima dan Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan hasil karya budaya daerah tersebut yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan lelaki yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat, ucapnya.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Colo' adalah rimpu yang seperti saya pakai/peragakan ini, biasanya dikenakan oleh perempuan yang sudah menikah, maka diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka, jelasnya.

Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima dan Dompu tempo dulu dalam menjaga harga diri dengan cara memakai busana yang menutup aurat. Namun sayang, budaya rimpu kian punah seiring dengan kemajuan zaman yang kian moderen. Generasi muda yang semestinya melestarikan Rimpu, lebih memilih busana moderen, karena mereka anggap rimpu sudah ketinggalan zamaan alias sudah kuno. "Susungguhnya bangsa yang besar, adalah bangsa yang mampu menjaga dan melestarikan Budaya" pungkasnya. (AB)

Profil dan Biodata:
Nama: Endang Wihartanti, Nama tenar : Artta Ivano
Tempat/Tanggal Lahir : Jakarta,19 Maret 1982
Umur : 36 tahun Agama : Islam Suami : Temmie Ivano
Anak : Mirveda Ivano Stroethoff
Pekerjaan : aktris

#Rimpu #Festival #SeniBudaya
#Bima #Dompu #NTB

BIMA-DOMPU NTB, GELAR FESTIVAL RIMPU


Presenter cantik asal Bima NTB De Tary, mengatakan bahwa Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', Seperti rimpu yang saya pake ini, kata De Tary sembari action dengan rimpunya, jadi jangan salah kaprah antara rimpu mpida dengan rimpu colo, ucapnya.

Rimpu mpida biasanya dikenakanoleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Colo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka, jelasnya.

Lebih lanjut Tary mengatakan, Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu dalam menjaga harga diri, mereka sadar bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan kaum pria. Namun, di balik keistimewaan tersebut ternyata banyak perintah dan larangan Allah, salah satunya adalah menjaga dan menutup aurat, tegasnya.

Mengapa harus menutup aurat?
Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting dan anda semua pasti tau jawababnya, jadi? #SaveRimpu Ok  (AB)

#saverimpu #pawairimpujakarta2018 

#budayambojo #bimadompu #budayaindonesia

DUA KABUPATEN BERKALABORASI DALAM FESTIVAL RIMPU 2018


Festival Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu tengah di agendakan oleh perkumpulan masyarakat Bima dan Dompu yang merantau di Jabodetabek. Semangat kebersamaan yang melibatkan masyarakat dari 2 (dua) Kabupaten yang berada di Provensi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini terus dimatangkan, salah satunya dengan menggelar Rapat Koordinasi (Kaboro Weki) guna menetapkan Panitia Pelaksana di salah satu rumah tokoh masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 Jakarta Pusat, Minggu (25/02)

Festival rimpu sebenarnya sudah beberapa kali diadakan, namun kali ini cakupannya cukup besar karena melibatkan 2 (dua) Kabupaten Bima dan Dompu. Di perkirakan lebih dari 10.000 (sepuluh ribu) peserta akan hadir memeriahkan atau memadati Monas dan Bundaran HI, tempat diselenggarakannya acara tersebut pada Juli 2018 mendatang. "Selain Festival Rimpu, juga menyajikan pergelaran kesenian dan kuliner khas Bima dan Dompu" Jelas penanggung jawab acara yang juga Asisten Wali Kota Jakarta Timur Bp. Drs. Syofian Thahir.

Lebih lanjut Syofian mengatakan, Rimpu adalah akar budaya yang tidak terpisahkan antara Kabupaten Bima dan Dompu, terbukti kebersamaan yang terbentuk dalam menyusun agenda demi satu tujuan yaitu memperkenalkan seni budaya Bima dan Dompu sebagai kearifan lokal budaya agar lebih dikenal oleh masyarakat luas maupun masyarakat Dunia, tegasnya.

Tokoh muda asal Bima Arsyad Hasan alias Putra Tente mengatakan, Rimpu merupakan budaya yang sudah diwariskan secara turun temurun oleh masyarakat Bima dan Dompu, merupakan kearifan lokal yang memiliki nilai sejarah yang tinggi, "Festival Rimpu kali ini adalah peristiwa yang fenomenal karena melibatkan masyarakat dari dua kabupaten di Nusa Tenggara Barat, Sangat fenomenal , karena ini baru pertama kali terjadi di Indonesia" jelasnya.

Pantauan penulis dari obrolan di sejumlah sosial media (capture terlampir,) para netizen yang berasal dari daerah tersebut sangat antusias ingin berpartisipasi atau ikut memeriahkan dan berharap agar acara tersebut bisa terselenggarakan dengan baik dan lancar tanpa halangan apapun. Tidak semata memperkenalkan Budaya, akan tetapi nama baik daerah Bima-Dompu jadi taruhannya, untuk itu, saling mengingatkan adalah hal terbaik agar kita semua sama-sama menjaga ketertiban demi suksesnya Festifal Rimpu. (AB) Abunawar Bima






#Rimpu #Festival #SeniBudaya #Bima #Dompu #NTB

PAWAI RIMPU & PENTAS SENI BUDAYA BIMA DOMPU SEGERA DI JAKARTA


Rimpu merupakan bagian dari budaya unik dengan memakai kain (tenunan khas) Tembe Nggoli, kain terserbut dilingkarkan pada kepala hingga yang terlihat hanya wajah saja. Terlihat memang agak rumit memakainya, tapi sesungguhnya lebih simpel dan cepat setelah terbiasa menggunakannya. Budaya rimpu mirip dengan cara berbusana perempuan Arab yang lebih dikenal dengan busana Cadar.

Budaya rimpu mulai dikenal sejak masuknya Islam di Bima - Dompu yang dibawa oleh tokoh-tokoh agama Islam dari tanah Gowa Makassar. Meskipun di masyarakat Gowa sendiri tidak mengenal budaya rimpu. Jadi rimpu, merupakan salah satu hasil karya budaya perempuan Bima - Dompu yang menjunjung tinggi ajaran Islam bahwa kaum perempuan yang sudah aqil balik diharuskan menutup aurat dihadapan yang bukan muhrimnya, maka jadilah rimpu sebagai busana penutup aurat.

Ada dua jenis Rimpu yang biasanya dikenakan: Pertama adalah 'Rimpu Mpida', yang dikenakan oleh perempuan yang belum menikah, maka rimpu mpida harus menutup semua bagian wajahnya, terkecuali mata, jadi yang terlihat hanya matanya saja. Kedua 'Rimpu Ncolo' adalah rimpu yang dikenakan perempuan yang sudah menikah, diperbolehkan semua bagian wajahnya terbuka.

Makna yang terkandung pada Budaya Rimpu, menandakan kemajuan pola fikir masyarakat Bima - Dompu dalam menjaga harga diri, mereka sadar bahwa perempuan adalah makhluk mulia yang diciptakan oleh Allah SWT yang memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan dengan kaum pria. Namun, di balik keistimewaan tersebut ternyata banyak perintah dan larangan Allah, salah satunya adalah menjaga dan menutup aurat.

Mengapa harus menutup aurat?
Pertanyaan ini sangat penting namun jawabannya justru jauh lebih penting. Satu pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang cukup panjang. Menutup aurat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan oleh perempuan yang telah mengikrarkan keimanannya bahwa dengan menutup aurat, sesungguhnya banyak hikmah yang akan dipetik, namun jika sengaja memamerkan aurat, maka setiap waktu, setiap saat, kejahatan selalu mengintai dan tepat pada saat ada kesempatan Ia akan langsung menerkam, maka siap-siaplah menanggung sendiri segala akibatnya. Banyak contoh lain yang nyata dan menjadi fakta dan memang, penyesalan itu selalu datang belakangan, padahal, Allah SWT dengan tegas mengingatkan, 'Jaga dan tutup Auratmu karena disitulah letak kehormatanmu'.

Seiring dengan kemajuan peradaban dunia yang kian moderen, dengan segala kemudahan dan kecepatan mengakses informasi, dampak dan berpengaruh terhadap generasi muda mulai terlihat. Betapa tidak , dengan perkembangan yang kian pesat tersebut, perilaku manusia secara nyata telah beralih ke fenomena baru, salah satunya dapat dilihat pada upaya kreasi ditangan-tangan kreatif yang mulai menanggalkan akar budayanya sendiri ke budaya barat. Lihat saja, seorang wanita lugu dari desa yang mencoba meraih mimpi diajang pesona bintang, disaksikan jutaan mata dilayar kaca, tiba-tiba dalam sekejab dandanannya berubah total dirias sesuai tuntutan kerlap-kerlipnya panggung bintang. Apakah fenomena ini menjadi bagian dari lunturnya kecintaan generasi muda yang menganggap akar budayanya sudah kuno? Padahal, Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mempertahankan budayanya.

Untuk melestarikan suatu budaya bukan pekerjaan yang mudah, Pemerintah, pejabat terkait atau pemerhati budaya harus senergi dan secara terus menerus memperkenalkan akar budaya pada generasi muda, misalnya dengan menyelenggarakan pawai budaya atau pentas seni budaya. Hal itulah yang menjadi perhatian khusus Forum Komunikasi Kasabua Ade (FOKKA). Forum Silaturahim bagi perantauan asal Bima-Dompu sejabodetabek ini, untuk kesekian kalinya akan menyelenggarakan 'Pawai Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima-Dompu' bersekala besar atau skala nasional.

Salah satu pengurus FOKKA, Jamaluddin Ikraman yang ditunjuk mensosialisasikan acara tersebut mengatakan, Acara kali ini cukup besar dan bersekala nasional serta melibatkan masyarakat asal Bima dan Dompu, untuk itu, harus terbentuk kepanitiaan yang handal dengan melibatkan tokoh-tokoh terpengaruh asal Bima-Dompu atau masyarakat yang peduli akan budaya Bima-Dompu, akan mengadakan mbolo na'e (rapat akbar) yang isyaallah akan diadakan, Minggu, 25 Pebruari 2018, Pukul 10.00 wib sampai selesai di Rumah Tokoh Masyarakat asal Bima Bp. H. Ola Abdollah Jl. Cempaka Putih Barat 26 No.4 (Stadion Bola Rawasari Jakarta Pusat), jelasnya.

Lebih lanjut Jamal mengatakan, Rencana perlehatan akbar tersebut akan diselenggarakan pada July 2018, Pawai Rimpu diadakan di Bundaran Hotel Indonesia (HI) sampai Monas, sedangkan Pentas Seni Budaya di adakan di Taman Ismail Marzuki (TIM). Semoga semuanya berjalan sesuai rencana dan kita akan memastikannya pada saat rapat panitia, jadi tunggu saja informasi selanjutnya, imbuh Jamal.

Jamal berharap, agar pertemuan tersebut dapat berjalan dengan baik dan lancar hingga terbentuk panitia sesuai yang diharapkan. Jamal merasa optimis, karena antusias masyarakat Bima-Dompu di obrolan grup Whatsaap (WA) cukup mengembirakan, membuat semangat kami pun bertambah berlipat-lipat, "Itulah yang meyakini kami bahwa perlehatan akbar dengan mengusung Parade Rimpu dan Pentas Seni Budaya Bima Dompu ini akan terselengarakan dengan sukses" pungkasnya. (AB) 

Penulis: abunawarbima@gmail.com

SEKILAS BIOGRAFI IR. H. SUTARMAN H. MASRUN, MM.




Ir. H. Sutarman H. Masrun MM, Lahir di Kota Bima, 4 April 1966, Sutarman kecil yang akrab disapa dengan Sutarman Joy oleh teman-teman semasa kecilnya, mengenyam pendidikan dasar di SDN 6 Raba Penatoi, kemudian melanjutkan sekolah menengah di SMPN 1 dan SMAN 1 Bima, hingga menempuh pendidikan tinggi di UPN Veteran Jogkarta, dimana Sutarman muda mendalami Ilmu Geologi (Ilmu tentang bumi/Tanah) dan kini menyandang gelar Insinyur (Ir).

Dibangku kuliyah Sutarman terbilang cukup cerdas, terbukti dipilih menjadiKetua BPM dan Senat Fakultas Geologi UPN. Pengalaman berorganisasi di kampus ini kelak berlanjut di kehidupan masyarakat, dimana Sutarman aktif menjadi Aggota Dewan Pengurus ORARI Pusat, dan Ketua Divisi Hubungan antar Lembaga Yayasan OBOR Nusantara.

Salah satu kiprahnya yang paling membanggakan, ketika Sutarman mendirikan Kosambo (Komunitas Salaja Mbojo), sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Kota Bima. Bersama kawan-kawan semasa kecil di Bima, Sutarman aktif menggerakkan aktifitas Kosambo yang berdiri pada awal tahun 2012 dan kini berbasis di Doro To’i Mande Kota Bima.

Selepas wisuda sarjana di UPN Yogyakarta, Sutarman meniti karir sesuai bidang ilmunya sebagai konsultan pembangunan industri energi. Berbekal pengetahuan dan pengalaman kerjanya yang mumpuni, Sutarman memasuki dunia usaha di bidang pertambangan batu bara, hingga berhasil menduduki jabatan direktur 3 perusahaan batu bara, yaitu Direktur PT. Inti Bara Perdana, Coal Mining Bengkulu, dan Direktur PT. Barito Energi Mandiri serta PT Coalindo Utama-coal Mining, Bartim-Kalimantan Tengah. Dengan kapasitas dan integritasnya, Sutarman dipercaya menjadi Sekjen Asosiasi Pertambangan Batu Bara Sumatera Selatan, disamping menjadi penasehat Asosiasi Pertambangan Batu Bara Bengkulu.

Kesibukan yang sebagian besar dilakukan di luar Daerah Bima, tidak serta merta melupakan tanah kelahiran (Dana Mbojo), Sutarman selalu memantau perkembangan yang terjadi di Bima. Sutarman pun berusaha mengorbitkan pemuda-pemudi berbakat asal Daerah Bima untuk berkompetisi di ajang D’Academy Indosiar Jakarta dan beberapa diantaranya telah berhasil menjadi bintang.

Banyak Ide-ide maupun gagasan yang ingin Ia terapkan di Kota Bima, itu berdasarkan pengalamannya melakukan study banding diberbagai daerah seluruh Indonesia, Sutarman pun bercermin dari berbagai bencana yang menimpa Kota Bima belum lama ini, menguatkan keyakinannya bahwa inilah saat yang paling tepat dan merasa akan bermanfaat bagi masyarakat di tanah kelahiran, hingga dengan kebulatan tekad, mengikrar diri “Hijrah untuk Bima yang lebih Baik” pungkasnya. (AB). 

Penulis: abunawarbima@gmail.com


MENGGAPAI MIMPI


Orang tua mana yang tidak bahagia dan bangga melihat jenjang pendidikan anaknya memenuhi kriteria sesuai dengan keinginan maupun harapan orang tua, namun tidak dipungkiri, masih banyak orang tua yang cenderung memaksakan kehendaknya pada anak-anak mereka.

Memang tidaklah salah, jika setiap orang tua selalu berharap dan terus berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan anak-anaknya, akan tetapi jadilah orang tua yang bijak yang hanya mengarahkan, bukan memaksakan. Jika dipaksakan, justru sang anak akan terbelenggu dalam pilihan orang tua sendiri, padahal, setiap anak berhak menentukan arah dan tujuan kehidupannya sendiri.

Hal itulah yang mendasari pemikiran Imran Said, maka buah kesabarannya dalam membimbing, mendidik dengan kedisiplinan tinggi berbuah manis, anak semata wayangnya, Reza berhasil dilantik menjadi Taruna Akpol angkatan 2017 di Semarang (02/11/2017), Reza mampu menunjukan jati dirinya ditengah persaingan yang sangat ketat dengan ribuan pemuda-pemudi seluruh Indonesia lainnya dalam seleksi masuk Taruna Akpol tersebut.

Imran, Alumni SMAN1 Bima ini mengakui bahwa, Dulu Ia pernah bercita cita ingin menjadi Taruna AKABRI, dua kali Ia mencoba mengikuti seleksi namun dua duanya gagal total. Rupanya keinginannya tersebut terjawab melalui putra kesayangannya Reza, Alkhandulillah Tuhan memenuhi cita-cita saya melalui Reza, tegasnya.

Dirinya, lanjut Alumni FE Universitas Mataram ini, sama sekali tidak memaksakan agar anaknya masuk Taruna ABRI, namun dalam hatinya yang paling dalam, jujur mengakui selalu berharap dan berdo’a agar cita-citanya yang gagal dulu itu akan berhasil melalui putranya dan ia sangat memahami bahwa untuk menjadi Taruna Akpol bukan hal mudah, itulah sebabnya, dari awal ia sudah mengembleng anaknya dengan kedisiplinan tinggi. “Orang tua harus memahami kemana arah, minat dan bakat anak-anaknya untuk dibimbing atau diarahkan dengan benar, jelasnya

Pada kesempatan yang sama Reza mengakui, Pada mulanya tidak pernah terlintas di benaknya untuk masuk Taruna Akpol, ia justru bercita-cita ingin menjadi dokter dan pilot, tetapi mungkin ini sudah kehendak Tuhan dan saya merasa bangga, cita-cita lama yang terpendam pada ayahnya, berhasil melalui dirinya.

Lebih lanjut Reza mengatakan, Dukungan orang tua, keluarga, guru dan sahabat-sahabat dekatnya memicu semangat Reza untuk bisa masuk Tauna Akpol. Reza sadar dan sangat menyadari bahwa peraturan yang sangat ketat dan disiplin tinggi menjadi Taruna Akpol adalah tantangan berat tetapi ia merasa optimis dan akan mampu melewatinya, Do’akan saya ya Om dan titip salam buat semua-semua, pungkas Reza (AB). 

Penulis: Abunawar Bima

MEMAKNAI HARI SUMPAH PEMUDA


Perjuangan dan kebulatan tegad para pemuda hingga lahirlah Sumpah Pemuda yang di ikrarkan pada Kongres Pemuda II, 27-28 Oktober 1928 di Batavia (Jakarta), tak pernah lekang oleh waktu, kini umurnya telah mencapai 89 tahun (1928-2017), ibarat umur manusia, adalah umur yang sudah tua atau uzur. Umur Sumpah Pemuda boleh tua, akan tetapi semangat kebangsaan dan persatuan yang terpatri dalamnya tak boleh kendur, sayangnya semangat itu kian tergerus oleh waktu. 

Makna persatuan dan kesatuan mulai pudar, terbukti masih sering terjadinya tawuran para pelajar, mahasiswa, tawuran pemuda antar desa, membuat kita bertanya-tanya mengapa bangsa ini menjadi bangsa yang sakit, mudah terprovokasi? Permasalahan kecil bisa memicu menjadi besar karena tidak ada yang saling mengalah, saling ngotot dan merasa diri paling benar dan pintar. Sosial media pun dijadikan ajang untuk hal-hal tersebut, sehingga berdampak buruk jika dibiarkan terus menggunakan sosial media yang tidak santun dan bijak.

Mananggapi hal tersebut, Calon Wali Kota Bima 2018-2023 Ir.H.Sutarman H.Masrun,MM mengatakan, Sumpah Pemuda adalah tonggak sejarah, sebagai cikal bakal lahirnya Kemerdekaan Republik Indonesia. Dulu, pemuda Indonesia tertatih-tatih menegakkan kemerdekaan, berjuang dengan tetesan darah bahkan rela berkorban jiwa demi merebut tanah air dari tangan penjajah.

Lebih lanjut Sutarman mengatakan, Anak muda Indonesia saat ini berada pada era kemajuan teknologi seperti sosial media yang sepertinya tidak ada lagi sekat antara ruang dan waktu. Melalui sosial media, persatuan sebenarnya menjadi lebih mudah ditemui, sayangnya kemudahan itu malah sering terjadi perbedaan pendapat, bahkan saling menghujat hingga memicu perpecahan.

Sutarman menegaskan, Generasi muda hendaknya mengingat kembali sumpah para pemuda di zaman dulu. Sebab, inti dari isi sumpah pemuda adalah bersatu dalam satu kebulatan tekad untuk berkontribusi kepada bangsa dan negara, dengan demikian diharapkan para pemuda, bisa memahami hingga berprilaku santun dan bijak menggunakan sosial media, tidak terpancing apalagi ikut meyebarkan isu-isu yang memecah belah NKRI. Selamat memperingati 89 tahun Hari Sumpah Pemuda (28/10/2017). Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia, Merdeka! NKRI Harga Mati, pungkasnya. (AB)



KATAKAN TIDAK PADA NARKOBA


Nabi Muhammad Saw. bersabda, “كاد الفقر أن يكون كفرا" (Hampir saja kemiskinan membawa orang pada kekufuran). Dampak sosial yang terasa dari akibat merosotnya kesejahteraan ekonomi salah satunya adalah beredarnya Narkoba yang akhir-akhir ini marak di Kota Bima, Khususnya jenis tramadol.

Gejala ini tidak bisa semata-mata dilihat dari segi merosotnya moralitas masyarakat, tetapi akar persoalannya adalah kesenjangan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran, sehingga sebagian remaja menjadikan narkoba sebagai tempat pelarian sementara dari sumpeknya kehidupan yang makin sulit. Di sisi lain, gejala ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan masuknya narkoba di Bima.

Daerah Bima, Kota dan Kabupaten, wilayahnya cukup kecil, hanya 222, 25 KM, sehingga gampang diketahui pintu masuknya barang haram itu, maka dituntut pengawasan yang efektif dan perlu adanya kerjasama yang efektif antara aparat kepolisian dengan Pemkot maupun Pemda Kabupaten Bima. Kuncinya terletak pada jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua stake holder yang bertanggungjawab pada pengawasan dan penegakkan hukum. Demikian paparan Ir. Haji Sutarman Haji Masrun, MM. dalam Dialog Publik dengan Forum Mahasiswa Bima Ciputat Raya (FKMBC) di CSRC UIN Jakarta.

Beberapa masalah sebagaimana tersebut diatas, menjadikan Sutarman Merasa terpanggil untul kembali ke Dana Mbojo karena dengan masalah yang begitu kompleks di Kota Bima saat ini, membutuhkan pemimpin daerah yang peka terhadap permasalahan dan menyelesaiakan permasalah itu dengan cepat dan tepat.

Pemerintah ibarat mata dan telinga serta manivestasi dari rakyat yang mampu memperjuangkan kesejahteraannya secara merata sesuai amanah konstitusi negara. Karena Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memikirkan solusi atau jalan keluar serta mampu berbagi pengetahuan dan semangat untuk mendorong perubahan yang nyata.

Di akhir dialog, Sutarman menyempatkan diri untuk memotivasi semua mahasiswa agar mahasiswa pro aktif dan berani menyuarakan dan menegur pemimpin yang keluar dari koridor yang ada karena setiap persolan kerap kali tumbuh dan lahir dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Jika mahasiswa pro aktif dan bersikap progresif menegur pemerintah untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah karna kalau bukan mahasiswa yang mulai siapalagi? “Mari kita genggam kesejahteraan Bima melalui tangan-tangan mahasiswa asli daerah sendiri.” pungkasnya.
Editor: Abunawar Bima


HIJRAH UNTUK BIMA YANG LEBIH BAIK



Hamparan dunia yang begitu luas, menyimpan bongkahan rejeki tanpa batas, seharusnya mampu mendorong setiap orang untuk hidup berkecukupan dan sejahtera, namun kenyataannya masih jauh dari yang diharapkan, Mengapa? Kalau kita diskusikan, pasti aka menemui banyak pendapat yang berbeda-beda bahkan berseberangan, tapi sejatinya bukan perbedaan yang kita kedepankan tetapi mari temukan kebersamaan sebagai solusi membangun Kota Bima yang lebih baik.

Seorang guru Sekolah Dasar (SD) bertanya mengenai cita-cita pada muridnya. Saat itu, jawaban muridnya beraneka ragam, ada yang mau menjadi Peresiden, polisi, dokter, guru, pembalap, dan sebagaianya. Akan tetapi, ada satu anak yang menjawab ingin menjadi petani. Jawaban anak itu, tentu saja membuat gurunya heran. "Mengapa ingin jadi petani”?, tanya sang guru. Sang murid pun terdiam, padahal dalam benaknya tersimpan ragam jawaban tapi tak mampu Ia ungkapkan, biarlah waktu yang akan menjawab” gumannya dalam hati.

Cuplikan di atas, menggambarkan kondisi masyarakat Indonesia saat ini. Yakni anggapan bahwa menjadi petani merupakan pekerjaan yang kurang membanggakan. Padahal petani adalah pahlawan pangan suatu bangsa. Sebab, tanpa petani kita tidak mungkin bisa menikmati makanan seperti sekarang. Namun kebanyakan masyarakat pedesaan enggan bertani, mereka lebih memilih menjual tanah dan berurbanisasi ke kota atau menjadi TKI.

Hal tersebut tidak jauh beda dengan banyaknya generasi muda yang telah mengenyam pendidikan tingkat tinggi, enggan untuk kembali ke kampung halamannya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan, pun jika pulang, akan tetap menjadi beban orang tua karena sulitnya mencari kerja. Mereka merasa sudah sarjana dan berhak memilah-milih pekerjaan yang layak sebagai sarjana. Perguruan tinggi terus saja memproduksi sarjana-sarjana baru sementara kesempatan kerja semakin sulit bahkan nyaris tidak ada, yang pada ahirnya terjadi penumpukan pengangguran dimana-mana.

Kepincangan itulah yang sudah jauh hari ada dalam pemikiran Ir. Sutarman H.Masrun MM, dan Ia mengatakan, Kepincangan dan gejolak yang terjadi di tengah masyarakat kota Bima antara lain pemicunya adalah pengangguran yang semakin merajalela dan ini harus segera dicarikan solusinya dan Ia mengaku sudah punya ide maupun gagasan untuk membenahinya.

Lebih lanjut Sutarman menegaskan, Merubah keadaan tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu disiasati dan yang terpenting adalah mempersiapkan anggaran yang cukup. Contoh sederhana, Saat ini, banyak petani-petani yang terjebak dengan cengkraman para tengkulak. Hanya satu cara untuk bisa membebaskan gurita yang membelit para petani, yaitu membebaskan atau membayar dulu semua utang-utang petani , kemudian mengalihkan utang-utang tersebut ke Badan Usaha Mandiri seperti koperasi Desa atau lainnya, jadi petani hanya berurusan dengan koperasi dan koperasi itu sendiri nantinya akan di manajerial secara professional oleh sarjana-sarjana yang nganggur tadi, bila perlu kita sekolahkan lagi. Tapi yang menjadi pertanyaan besar, Anggarannya dari mana? “Kita harus berani menyiasati dengan anggaran sendiri dan campur tangan pemerintah tentunya” jelas Sutarman.

Sebenarnya banyak Ide-ide maupun gagasan berelian yang ingin Ia terapkan di Kota Bima, itu berdasarkan pengalamannya melakukan study banding diberbagai daerah seluruh Indonesia, Ide-ide itu pun sudah ia terapkan pada Usaha Batu Bara yang dimilikinya di Daerah Bengkulu dan Kalimantan dan Sutarman pun menepis berbagai anggapan negatif bahwa Ia membuka usaha di daerah lain karena tidak peduli dengan perkembangan daerah sendiri, itu salah besar! tegas Sutarman.

Sutarman pun bercermin dari berbagai bencana yang menimpa Kota Bima belum lama ini, menguatkan keyakinannya bahwa inilah saat yang paling tepat dan merasa akan bermanfaat bagi orang-orang di tanah kelahiran, hingga dengan tulus ihlas serta kebulatan tekad, mengikrar diri “Hijrah untuk Bima yang lebih Baik” dengan mencalonkan diri sebagai Wali Kota Bima Periode 2018-2022, karena melalui lingkaran inilah segala ide-ide bisa diterapkan, Pungkasnya.

Penulis: Abunawar Bima

ARAH BARU PEMBANGUNAN DAERAH BIMA





Merupakan salah satu kehormatan yang luar biasa bagi keluarga besar Forum Komunikasi Mahasiswa Bima Ciputat Raya (FKMBC), karena tanggal 17 maret 2017 lalu, kedatangan salah seorang tokoh Bima, Ir. H. Sutarman, MM. Bertempat di Kantor CSRC UIN Jakarta, FKMBC menghelat dialog publik bersama Haji Sutarman, demikian panggilan akrabnya, untuk memperbincangkan masa depan pembangunan Tanah Bima.Lahir di Bima 4 April 1966, Sutarman kecil mengenyam pendidikan dasar di SDN 6 Raba Penatoi, melanjutkan sekolah menengah di SMPN 1 dan SMAN 1 Bima, hingga menempuh kuliah di UPN Veteran Jogkarta, dimana Sutarman muda mendalami Ilmu Geologi (Ilmu tentang bumi/Tanah).



Karib Irfan Abubakar (sekarang menjabat Direktur CSRC UIN Jakarta) ini merupakan langganan bintang kelas selama menempuh pendidikan dasar dan menengahnya. Dia juga pribadi yang hangat dan mudah akrab dengan lingkungan sekitarnya--modal dasar baginya untuk menjadi seorang pemimpin.

Terbukti saat di bangku kuliah Sutarman sempat dipilih menjadiKetua BPM dan Senat Fakultas Geologi UPN.Pengalaman berorganisasi di kampus ini kelak berlanjut di kehidupan masyarakat, dimana Haji Sutarman aktif menjadi Aggota Dewan Pengurus ORARI Pusat, dan Ketua Divisi Hubungan antar Lembaga Yayasan OBOR Nusantara.Namun, salah satu kiprahnya yang paling membanggakan, ketika Haji Sutarman mendirikan Kosambo (Komunitas Salaja Mbojo), sebuah organisasi sosial yang bergerak dalam bidang pemberdayaan ekonomi, sosial dan budaya masyarakat Kota Bima. Bersama kawan-kawan semasa kecil di Bima, H. Sutarman aktif menggerakkan aktifitas Kosambo yang berdiri pada awal tahun 2012 dan kini berbasis di Doro To’i Mande Kota Bima.

Selepas wisuda sarjana di UPN Yogyakarta, Haji Sutarman meniti karir sesuai bidang ilmunya sebagai konsultan pembangunan industri energi. Berbekal pengetahuan dan pengalaman kerjanya yang mumpuni, Haji Sutarman memasuki dunia usaha di bidang pertambangan batu bara, hingga berhasil menduduki jabatan direktur 3 perusahaan batu bara, yaitu Direktur PT. Intibara perdana, Coal Mining Bengkulu, dan Direktur PT. Barito Energi Mandiri serta PT Coalindo Utama – coal Mining, Bartim-Kalimantan Tengah. Dengan kapasitas dan integritasnya Haji Sutarman dipercaya menjadi Sekjen Asosiasi Pertambangan Batu Bara Sumatera Selatan, disamping menjadi penasehat Asosiasi Pertambangan Batu Bara Bengkulu.

Berbagai latar belakang dan pengalaman yang kaya ini menghangatkan diskusi arah pembangunan daerah Bima pada kali ini. Sebagai pembicara tunggal, tokoh yang berhasil mengorbitkan bintang-bintang D’Academy Indosiar asal Bima ini, mengupas tuntas gagasan dan pikiran terobosannya untuk kemajuan pembangunan Bima khususnya di bidang ekonomi. Butir-butir pemikiran ini diperdengarkan ke peserta dialog (FKMBC) yang menanggapinya dengan antusias, dan tidak jarang disertai pandangan kritis sebagaimana layaknya sikap mahasiswa aktivis umumnya.

Merosotnya Kesejahteraan
.

Haji Sutarman menyoroti merosotnya kesejahteraan warga masyarakat Bima yang salah satunya ditandai dengan gejala berkurangnya asset warga karena terpaksa dijual untuk menutup kebutuhan yang makin meningkat. Sementara asset yang tersedia tidak difungsikan secara maksimal. Konsekuensinya banyak warga yang terpaksa bergantung kepada jasa pinjaman yang berbau rente (riba) dengan bunga yang mencekik. Buruknya fasilitas kesehatan memperparah keadaan. Sementara ketegangan dan konflik sosial dan isu peredaran narkoba, menurut pengusaha sukses ini, hanyalah dampak dari akutnya masalah kesejahteraan ekonomi. Inilah krisis yang melanda Bima, tapi masyarakat kurang menyadarinya.

Salah satu faktor penyebabnya, menurut ayah dari dua orang putra ini, perputaran ekonomi tidak cukup menguntungkan karena eksistensi cukong-cukong lokal selama ini tidak memberikan manfaat yang berarti buat kesejahteraan masyarakat setempat. Contoh sederhana saja, masalah pemasaran jagung dan bawang yang selalusaja di monopoli oleh cukong-cukong yang ada sehingga berdampak pada hilangnya hak pemerintah daerah untuk mendapatkan pemasukan baik pajak maupun retribusi yang berhujung pada melemahnya APBD yang ada dan pemerintahpun sudah dirugikan dalam penerimaan dana APBD yan seharusnya masuk dalam kas daerah, implikasi lainpun berdampak pada PAD yang tidak berjalan karna sisi home industri tidak ada yang berjalan maksimal dan bisa dikatakan telah mati suri.

Bukannya tidak muncul kreatifitas dalam produksi ekonomi, Cukup banyak anak muda di Bima yang kreatif dalam berkarya, misalnya karya lukis, pahat, cindera mata lain,Namun, tidak tersedia pasar untuk menjual lukisan tersebut, sehingga berakibat pada melemahnya semangat berkarya, Berbeda dengan kasus di Bali dimana berbagai kerajinan tangan karya anak-anak muda di sana disediakan pasarnya, misalnya di Toko Krisna. Dengan begitu, terjadi perputaran ekonomi karena terpenuhinya mekanisme supplyand demand.

Merangsang Geliat Ekonomi dan Investasi


Untuk mengatasi persoalan akut ini harus dimulai dengan merangsang minat pelaku usaha untuk investasi di Bima. Ini gampang-gampang susah. Tapi harus dimulai dengan keberanian dan visi ke depan dalam melihat peluang ekonomi yang dapat disediakan oleh pemerintah kota Bima. Salah satunya menyelesaikan pembangunan PLTU yang telah lama mangkrak. PLTU ini strategis karena menjawab pertanyaaan dasar semua investor dari luar; “apakah pasokan energi listrik memadai?” Eksistensi industri energi akan memiliki dampak yang berlipat dan luas terhadap geliat ekonomi dan bisnis di berbagai sektor.

“Misalkan saja sektor pariwisata.Siapa yang menyangkal indahnya pemandangan laut dan bukit-bukit di Teluk Bima (Asa Kota). Banyak pengusaha kenalan saya yang mengagumi keindahan alam Bima.Mereka ingin sekali berinvestasi di sector pariwisata Bima.Tapi lagi-lagi pertanyaannya, apakah pasokan energi listrik cukup?” demikian ujar H. Sutarman.

Dengan adanya industri energy/PLTU maka dengan sendirinya menciptakan kebutuhan terhadap supply bahan bakar batu bara yang dapat dipasok oleh Kalimantan dengan kapal-kapal tongkangnya, dimana perusahaan daerah dapat ikut terlibat dalam kegiatan bisnis baik itu sebagai transportir maupun sebagai trader batubara, belum lagi kegiatan bisnis lain yang dapat dilakukan bila PLTU tersebut segera berfungsi. 


Demikian juga revitalisasi pelabuhan laut kita, dengan adanya program tol laut harusnya dapat kita manfaatkan dengan maximal sehingga roda perputaran ekonomi di Kota Bima dapat efektif dan efisien. Namun, kapal-kapal niaga/besar tidak akan bersedia berlabuh di Kota Bima tanpa adanya muatan komoditi yang dapat diangkut balik ke luar Kota Bima. Tanpa itu mereka akan merugi. Padahal dengan hadirnya kapal-kapal besar ini komoditi andalan Bima, seperti bawang, jagung, kedelai, kacang tanah dll, dapat dimuat untuk dikirim keluar Bima.

“Jika kita melihat dalam sistem barter ekonomi “ada yang dibawa masuk ada pula yang dibawa keluar” artinya kapal-kapal besar yang masuk ke pelabuhan bima yang mengangkut niaga dan keluar dari pelabuhan bima harus membawa barang namun pada kenyataankontener-kontener yang parkir di sekitar pelabuhan Bima terlihat kosong dan terlihat tidak ada nilaibarter. Pelabuhan Kota Bima harus bisa difungsikan sebagai tempat transaksi ekonomi secara aktif. Tidak hanya dijadikan sebagai tempat transit,” tandas H. Sutarman

Tapi pertanyaannya kemudian, apakah produksi bawang yang tersedia dapat memenuhi permintaan secara konsisten? Lebih dari itu, kalaupun produksi cukup, apakah teknologi penyimpanan bawang di kapal sudah cukup tepat diterapkan agar tidak terjadi pembusukan? Beberapa petani mengaku bahwa mereka acap merugi diakibatkan mekanisme pemuatan dan penempatan bawang di kapal ditumpuk dan tidak mendapatkan sirkulasi udara. Hal yang sama pun terjadi di dalam penyimpanan kedelei dan jagung yang akan diexpor keluar teritorial Bima. Pada titik inilah, dituntut peran pemerintah Kota dan Kabupaten untuk menfasilitasi teknologi pertanian dan penggudangan yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi sekaligus mengontrol kualitas penyimpanannya.

Sinergi Pemkot dan Pemda Kabupaten


Siapa yang bertanggungjawab terhadap persoalan merosotnya kesejahteraan masyarakat Bima.Jawabannya terletak pada sinergi antara Pemkot dan Pemkab.Tidak mungkin masing-masing berjalan sendiri-sendiri karena keduanya saling membutuhkan. 

Kabupaten memasok hasil alam, Kota menyediakan fasilitas penyimpanan dan pemasarannya keluar Bima. Tapi di sini persoalannya. Kedua belah pihak selama ini masih jalan sendiri-sendiri dan tidak tampak adanya good will untuk duduk bersama membicarakan masalah bersama dan mencari jalan keluarga terbaik, win-win solution. Sementara itu, kita lupa masyarakat membutuhkan sandang, pangan dan papan yang dapat menunjang kehidupanmereka.

Ada beberapa masalah yang masih menunggu penyelesaian bersama.Ambil contoh, hampir semua asset perkantoran dan fasilitas publik Kabupaten berlokasi di Kota.Hingga hari ini belum banyak terjadi serah terima asset karena belum jelas bagaimana mekanisme kompensasinya.Terkait dengan pengelolaan asset kabupaten di kota Bima, Haji Sutarman menawarkan gagasan teroboson:

“Akan lebih produktif kota dan kabupaten bersinergi dalam rangka mengelola asset dengan menyerahkan pengelolaannya secara professional kepada BUMD (Badan Usaha Milik Daerah) dimana sahamnya dipegang bersama kedua belah pihak. Semua ada di tangan pimpinan daerah yang menjadi agen perubahan serta sebagai garda terdepan dan mau memikirkan perubahan yang nyata, karna dalam poros kesejahteraan sosial yang diandalkan bukan hanya APBD atau PAD saja namun harus memikirkan pemasukan dari lain sisi untuk menambal kekurangan agar masyarakat tidak terstaknad dalam lubang kemiskinan. Di sinilah peran pemerintah juga mengharuskan untuk berpikir out of the box,”tegas Ir Sutarman.

Terkait dengan urgensi pengelolaan asset bersama ini, Ir. H. Sutarman menunjuk masalah fasilitas pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah Bima.Rumah Sakit (RS) ini assetnya dimiliki oleh Kabupaten Bima dan sejak dulu sampai saat ini kedudukanya berada di Kota Bima.Namun, keadaan RS ini amat memprihatinkan, kotor dan jauh dari kesan higenis.Tidak hanya itu, tenaga dokter ahli sangat minim sehingga sering pasien banyak yang harus dirujuk ke rumah sakit provinsi. Bagi masyarakat kurang mampu pun hanya bisa mengandalkan BPJS yang itupun tidak efektif karna BPJS hanya menanggung biaya obat. Adapun biaya-biaya lain tidak ditanggung. Tidak heran banyak rujukan yang tidak sampai ke provinsi, lagi-lagi dikarnakan oleh ekonomi masyarakat yang kurang menjamin.

Selain masalah fasilitas kesehatan yang kurang terkelola dengan baik, Pemda kabupaten juga memiliki Perusahaan Daerah Air Minum yang instalasinya semuanya di Kota.Menurut laporanpihak yang terkait, perusahaan ini selalu merugi lebih dari 55% dikarenakan masalah human error dan infrastruktur seperti pipa-pipa yang menyalurkan air minum tersebut mengalami kebocoran. 


Lagi-lagi alasan klasik kurangnya biaya pemeliharaan. Masalah yang sama juga dihadapi dalam pemeliharaan asset kesultanan Bima, yaitu Asi Kalende Kampo Na’e. Bangunan bersejarah itu tampak tidak terawat dan hampir roboh.Padahal bangunan itu bukti sejarah Dana Mbojo yang mengingatkan tentang identitas masyarakat Bima.

Mengatasi Peredaran Narkoba



Nabi Muhammad Saw. bersabda, “كاد الفقر أن يكون كفرا" (Hampir saja kemiskinan membawa orang pada kekufuran). Dampak sosial yang terasa dari akibat merosotnya kesejahteraan ekonomi salah satunya adalah beredarnya Narkoba yang akhir-akhir ini marak di Bima. 

Khususnya jenis tramadol. Gejala ini tidak bisa semata-mata dilihat dari segi merosotnya moralitas masyarakat.Tapi akar persoalan adalah kesenjangan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran. Oleh sebagian remaja narkoba dijadikan tempat pelarian sementara dari sumpeknya kehidupan yang makin sulit. Di sisi lain, gejala ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan masuknya narkoba di Bima. Padahal daerah Bima, Kota dan Kabupaten, wilayahnya kecil, hanya 222, 25 KM, sehingga gampang diketahui pintu masuknya.Agar terwujud pengawasan yang efektif dituntut adanya kerjasama yang efektif antara aparat kepolisian dengan Pemkot maupun Pemda Kabupaten Bima. Kuncinya terletak pada jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua stake holder yang bertanggungjawab pada pengawasan dan penegakkan hukum.

Beberapa masalah inilah yang menjadikan Ir. H. Sutarman, MM. Merasa terpanggil untul kembali ke Dana Mbojo karena dengan masalah yang begitu kompleks Bima membutuhkan pemimpin daerah yang peka terhadap terhadap masalah yang dihadapinya. Pemerintah ibarat mata dan telinga serta manivestasi dari rakyat yang mampu memeperjuangka kesejahteraannya secara merata sesuai amanah konstitusi negara. Karena Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu  memikirkan jalan keluar serta mampu berbagi pengetahuan dan semangat untuk mendorong perubahan yang nyata.

Kamipun tidak hanya sekedar berdiskusi dengan beliau, melainkan di akhir diskusi Haji Sutarman menyempatkan diri untuk memotivasi semua mahasiswa yang berada di ruangan bahwa mahasiswa harus pro aktif dan berani menyuarakan dan menegur pemimpin yang keluar dari koridor yang ada  karna setiap persolan kerap kali tumbuh dan lahir dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Jika mahasiswa pro aktif dan bersikap progresif  menegur pemerintah  untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah karna kalau bukan mahasiswa yang mulai siapalagi. “Mari kita genggam kesejahteraan Bima melalui tangan-tangan mahasiswa asli daerah sendiri.”


KRITERIA MENJADI PEMIMPIN YANG BAIK


Semua orang berhak untuk memiliki kesempatan menjadi seorang pimpinan, namun tidak semuanya mampu memenuhi beberapa kriteria menjadi seorang Pemimpin Yang Baik. Menjadi Pemimpin bukanlah suatu hal yang mudah, karena segala sesuatu yang dijalankannya akan menjadi panutan bagi para bawahannya, baik buruknya tindakan seorang pemimpin berpengaruh kuat pada kinerja dari bawahan yang ia pimpin..

Tidak sedikit pemimpin yang gagal dalam menjalankan perannya, bahkan banyak pula pemimpin yang tidak disenangi, karena sikapnya yang salah dan kebijakan saat mengambil keputusan yang kurang tepat. Oleh karena itu penting bagi seorang pemimpin untuk mengetahui Kriteria menjadi pepimpin yang baik sebagai berikut :

1. Harus Memiliki Tujuan.
Seorang pemimpin yang baik, harus memiliki visi dan misi, serta tujuan yang jelas. Ibarat sebuah kapal, seorang pemimpin adalah nahkoda utama yang memiliki tujuan kemana kapal tersebut akan berlayar dan berlabuh. Selanjutnya pemimpin yang baik wajib menyampaikan tujuan, visi dan misinya kepada seluruh bawahannya agar memiliki motivasi untuk mencapai tujuan dari target yang sama, sehingga pemimpin bisa memberikan bimbingan untuk menggerakan timnya menuju tujuan yang telah ditentukan.

2. Memiliki Karakter Yang Kuat.
Biasanya pemimpin yang sukses memiliki karakter yang kuat. Selalu berani mengambil tantangan, dan yakin bahwa resiko yang diambilnya akan memberikan keuntungan bagi timnya. Walaupun tak jarang seorang pemimpin banyak dicela oleh bawahan karena telah dianggap mengambil keputusan yang menyimpang/nyeleneh atau keliru, karena keberaniannya mengambil resiko keputusan.

Namun jangan salah, pemimpin umumnya selalu berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, menimbang-nimbang apakah pilihan, keputusan, atau wewenang yang diambil berdampak baik atau buruk, seorang pemimpin selalu mengambil pelajaran dari masa lalu untuk memberikan inovasi melangkah maju ke depan, agar timnya berhasil menjadi pionir bukan menjadi follower.

3. Sigap dan Selalu Fokus.
Pemimpin yang baik akan cepat bertindak dalam segala hal, baik dalam kondisi mendesak maupun kondisi normal yang harus bisa mengambil keputusan dengan tepat dan cepat. Disamping itu pemimpin juga harus fokus terhadap tujuannya, pisahkan antara prioritas utama dengan prioritas jangka panjang. Ini sangat penting, karena berpengaruh terhadap kerja tim. Jangan sampai mereka bingung, tugas mana yang menjadi target utama untuk mereka selesaikan. Sigap terhadap perubahan lingkungan memang penting, namun jangan sampai melupakan fokus utama Anda.

4. Kenali Kelebihan dan Kekurangan Tim.
Sebelum mengenali kelebihan dan kekurangan tim, sebaiknya seorang pemimpin berbesar hati untuk mengakui kekurangan dan kelebihannya dalam memimpin. Jangan sampai menjadi pemimpin yang angkuh dan tidak mau mengakui kesalahannya, karena akan memberikan contoh yang buruk bagi bawahannya. Disamping itu kenali kelebihan dan kekurangan masing-masing anggota tim, analisa ini bertujuan untuk mengembangkan potensi para anggota sesuai dengan kelebihan yang mereka miliki.

5. Belajarlah Untuk Rendah Hati Pada Anggota.
Walaupun seorang pemimpin jabatannya lebih tinggi, namun bukan berarti tidak bisa membaur dengan anggota tim. Sempatkan waktu untuk turun langsung melihat anggota tim, dan mengenal masing-masing anggota untuk mempermudah komunikasi antara Tim. Hubungan komunikasi yang baik antara bawahan dan atasan, akan memperlancar kerjasama dan meningkatkan loyalitas anggota tim.

6. Dengarkan dan Berikan Pengakuan Bagi Anggota Tim.
Ada kalanya seorang pemimpin belajar mendengarkan pendapat dari anggota timnya, agar pimpinan tidak memutuskan segala hal secara sepihak yang memungkinkan para anggota sebenarnya tidak sepaham dengan keputusan pimpinan. Dan yang terakhir berikan pengakuan atas kontribusi yang telah diberikan oleh anggota tim Anda. Tunjukan bahwa Anda menghargai kerja keras mereka.

Salam sukses.
#Sutarmanjoy #Kosambo #Bima
www.sutarmanjoy.com

PENDIDIKAN KARAKTER SANGAT DIPERLUKAN


Keterangan Foto: (Kiri) Bpk. M. Saleh Yusuf alias Bang Alan, Pejuang Pendidikan sekaligus Pendidi Sekolah Gratis MIS Darul Ulum Tololai Bima. (Kanan) Ir. Sutarman H. Masrun, MM, Pendiri Kosambo dan sejumlah anak-anak pada acara 'Lomba Membaca puisi dan Menggambar Anak-anak se Kota Bima 2016' dalam Rangka memperingati Hari Guru Nasional bersama Komunitas Salaja Mbojo (KOSAMBO).
***
DALAM dua dasawarsa terahir ini, Bangsa Indonesia dilanda krisis karakter, Terbukti, banyaknya pemimpin bangsa, baik anggota legislatif, eksekutif, maupun penegak hukum yang tersandung kasus korupsi. Padahal, mereka semestinya menjadi anutan bagi masyarakat. "sangat memprihatinkan.”

Barangkali ini adalah kesalahan pendidikan di Indonesia yang memprioritaskan aspek intelektual dan keterampilan, bukan sikap dan karakter, karena banyak sekolah yang hanya mengejar 100% lulus ujian nasional tetapi cenderung mengabaikan pendidikan karakter.

Sudah saatnya para pemangku dunia pendidikan Indonesia, mengedepankan pembentukan karakter atau budi pekerti sehingga siswa tidak hanya cerdas intelektual tetapi juga cerdas spiritual dan emosional.

"Melalui pendidikan karakter, akan menghasilkan generasi yang siap berkontribusi bagi pembangunan, khususnya aspek sumber daya manusia yang memiliki kompetensi di bidang intelektual dan keterampilan juga memiliki sikap, karakter, budi pekerti yang luhur, religius dan sikap sosial yang baik.

#Sutarmanjoy #Kosambo #Hijrah #Bima
www.sutarmanjoy.com

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA