Tampilkan postingan dengan label Wisata Bima. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Bima. Tampilkan semua postingan

PANORAMA INDAH DI PANTAI KALAKI


Pantai Kalaki adalah salah satu obyek wisata pantai yang patut anda kunjungi jika anda datang ke Kota Bima. Hampir setiap hari tidak pernah sepi pengunjung apa lagi di hari libur, wisatawan terutama wisatawan lokal tumpah ruah, hal ini dimungkinkan, karena letaknya yang tidak terlalu jauh dari kota dan akses untuk kesana cukup gampang dan mudah.

Pantai yang airnya tidak terlalu dalam dan ombaknya yang tenang sangat dimungkinkan anak-anak anda bisa diajak berenang dan tidak jarang pantai ini juga dijadikan ajang untuk latihan berenang bagi pemula dan banyak yang sudah bisa berenang, Salah satunya La Siwe, Putrinya Ama Hami nan cantik dan imut ini mengaku sudah bisa berenang serta rasa takutnya ketika melihat lautan pun sirna berkat belajar berenang di pantai ini, kata Dia.

Pantai ini juga diajadikan ajang berbagai kegiatan seperti lomba perahu dayung, lomba renang, wisata sepeda air, jetsky, selancar dan pagi hari sering terlihat banyak pengunjung yang joging pagi atau olah raga lainnya serta jelang sore untuk JJS (jalan-jalan sore).

Hal yang paling menarik adalah saat bulan Puasa, Pantai ini dipadati pengunjung yang menunggu berbuka puasa, maka tidak heran aneka jajanan untuk berpuka puasa bertaburan disini, jadi jangan khawatir, jika anda tidak membawa bekal masing-masing, keberadaan pedagang jajanan akan terbantu, Menarik bukan. Yok ke Pantai Kalaki yooook...! Jangan lupa jaga kebersihan agar Pantai Kalaki tetap Lestari.

Abunawar Bima​

PANTAI SO DAU, WISATA PANTAI YANG MENJANJIKAN


PANTAI SO DAU, Masih banyak yang belum mengetahuinya, jalur destinasi wisata pun belum begitu dikenal tetapi bagi pemburu wisata yang gemar berpetualang, akan selalu menemukankannya, maka tidak heran Pantai yang berada di Daerah Sape (ujung timur Kota Bima) ini, di jumpai sejumlah wisatawan lokal maupun manca negara.

Jiwa petualangan anda benar-benar akan ditantang karena jalur menuju pantai ini masih jalan tanah yang gembur, maka disarankan agar tidak datang di musim penghujan, selain licin ban kendaraan mudah terbenam dalam lumpur tetapi jika mampu melewatinya, rasa lelah, letih pun akan terbayar begitu tiba di pantai, karena anda akan disugihi pemandangan yang mengagumkan dan siap menikmati surganya pantai, membuat anda terlena dan betah berlama-lama di pantai ini.

Pesisir pantai terbentang pasir putih, terlihat melengkung berwarna putih, di kelilingi bukit-bukit kecil, menyajikan keindahan tersendiri, birunya laut dengan airnya yang jernih menawarkan dahaga liburan yang sangat di impikan bagi semua orang, ombaknya yang tenang memancing anda untuk segera berenang dan bagi penyelam, akan menikmati keindahan terumbu karang yang asri dan belum pernah terjamah tangan-tangan yang merusaknya.

Akses untuk menuju Daerah Sape cukup mudah, Dari Kota Bima anda bisa menempuh perjalanan sekita 1,5 jam atau dari Labuan Bajo bisa diakses melalui pulau Ular, pulau kelapa dan pulau komodo, pulau-pulau tersebut pun terpampang pemandangan-pemandangan yang indah dan terasa semuanya akan lebih lengkap keindahannya jika sudah menapakkan kaki di Pantai So Dau.

Saya sebagai putra daerah, Melihat Pantai So Dau atau wisata lainnya adalah potensi yang amat luar biasa untuk pengembangan Wisata Bima, ditopang pengembangan Labuan Bajo dan Bandara Komodo yang cukup pesat saat ini, memudahkan para turis untuk melancong ke Kota Bima, untuk itu, Pemkab Bima harus lebih serius membenahi prasarana, transfortasi atau pendukung lainnya, Jika hal-hal tersebut sudah dibenahi, tidak saja pelancong atau turis, Pengusahapun akan berlomba-lomba menanamkan Investasinya dan saya rasa ini adalah peluang emas. Colek Pemkab Bima.

Abunawar Bima​

TRAVEL BIMA, LUMBUNG UANG


Dua hari pulang ke Bima, sempatkan diri ngopi tengah malam menjelang dini hari sambil menikmati Intel (Indomie+telur) nya mas Emon di Terminal Dalam Kota. Berceloteh seraya melepas penat tentang Bima yang kaya akan sebuah potensi namun miskin dalam pengembangan. Ini bukan ungkapan kepesimisan yang belagu atas sebuah harapan. Duduk menghadap timur, memandang jauh sebuah bukit keramat, Danatraha, sebuah areal cagar Budaya yang memiliki Nilai sejarah di Bima. Sebab dibukit ini, Raja Pertama Bima, Indra Jamrud, dalam catatan sejarah ‘mem-bumikan’ sumpahnya sebagai seorang Raja Bima. Dan dibukit ini pula, makam 3 Sultan Bima, di Kebumikan.

Hayalan dan pandangan pun buyar seketika, ketika tangan spontan menutup gelas kopi yang masih setengah isi setengah kosong. Akibat hantaran debu dari Bus Antara Kota Antar Propinsi (AKAP) melaju masuk diterminal Kota Bima. Setidaknya dalam setiap keberangkatan pada setiap malam, ada 14 unit Bus AKAP yang keluar masuk diterminal ini. Hilir mudik penumpang menandakan tingginya intensitas masyarakat Bima ber-pergian keluar daerah dalam berbagai urusan, selain para pelancong seperti Bule yang bertujuan ke Labuanbajo-Manggarai Barat.

Seperti kejadian subuh ini, Tiga orang Bule, dikerumuni oleh beberapa tukang ojek, beberapa supir dan kernet Bemo Kota dan beberapa kusir Benhur (Kendaraan transportasi tradisional yang ditarik oleh Kuda). Tak jelas, tawar menawar apa yang sedang dikomunikasikan dan didengarkan bersama oleh beberapa orang yang sebenarnya tidak mengerti bahasa oral (baca: Komunikasi lisan) bersama bule-bule tersebut. Namun yang pasti, mereka sedang menawarkan jasa angkutan pengantar ke tujuan Bule-bule tersebut akan melanjutkan perjalanan.

Terbesit pikiran ‘nakal’ dalam benak saya, ketika melihat bule-bule itu duduk risau dan mondar-mandir mencari kenyamanan. Bule itu sudah deal menggunakan Bus untuk menuju pelabuhan Sape (Kecamatan paling Timur Bima) untuk menyebrang ke Labuanbajo, tempatspesies Komodo menetap dan dipertontonkan. “Jika seandainya ada orang travel yangstandby di Terminal hanya untuk menemani mereka (bule-bule) bercerita tentang Bima dan potensi apa saja yang menarik di Bima, betapa kaya nya travel tersebut” gumam saya dalam hati.

Pikiran ini bukan tanpa alasan dan dasar, sebab dalam sehari saja, ada 5 – 10 orang Bule yang turun dari Bus untuk melanjutkan perjalanan ke Labuanbajo dan mereka harus menunggu jam 6 pagi untuk jadwal Bus berangkat dari terminal Kota Bima. Sedangkan rata-rata Bus malam dari Luar Kota masuk terminal kota Bima sekitar jam 3 – 5 subuh. Ada waktu 1-3 jam sebelum mereka berangkat menggunakan Bus. Setidaknya ada ruang atau celah untuk diajak Ngopi di Amahami atau Danatraha sebagai daerah terdekat dari Terminal Kota Bima.

Travel di Bima bisa hitung jari, itupun kebanyakan melayani perjalanan Pesawat Udara, sedangkan perjalanan Darat dan laut, sangat kurang peminatnya karena Locket penjualan tiketnya, tidak jauh ditengah Kota. Sehingga banyak Travel yang mikir-mikir untuk stockTiket Pelni dan Bus AKAP. Namun, untuk Travel dengan menyediakan Guide (Pengantar tamu) dan sopir khusus itu sangat kurang, malah bisa dibilang tidak ada. Karena Travel di Bima adalah travel pasif, yaitu menunggu pengguna jasa mendatangi kantor.

Saya kembali berpikir, bila saja saya punya Ruko Kecil untuk sebuah Kantor Travel, Mobil pengantar yang layak 2 unit, ada Guide 2 orang untuk shift malam 1 orang dan shift siang 1 orang, lalu 2 orang sopir, dan Staf travel 2 orang. Berarti setidaknya saya harus memiliki 2guide, 2 sopir dan 2 staf, 2 mobil dan 1 kantor. Sebagai tambahan instrument penunjang, saya perlu memiliki Road Maps Wisata Sejarah dan Budaya atau semacam brosure. Tentu tak lupa kartu nama pribadi dan kantor.


Manajemen Kerja sebenarnya cukup sederhana, untuk lapangan ditempatkan 1 guide dan 1 sopir kerja disiang hari, 1 guide dan 1 sopir kerja dimalam hari. Khusus untuk malam hari, targetnya adalah Bule yang turun dari Bus di terminal Kota Bima, seperti pengalaman diatas, didekati dan didatangi, tanpa mengganggu hal-hal yang telah disepakati seperti pilihan Bus untuk melanjutkan perjalanan ke Sape. 

Kerjaan karyawan saya adalah mengajak para Bule minum kopi atau tongkrongin lokasi-lokasi strategi yang menarik sambil menceritakan tentang Bima dengan menyuguhkan Road Maps tadi secara Gratis atau Cuma-Cuma, selama waktu mereka menunggu keberangkatan Bus menuju Sape. Mungkin bagi banyak orang akan berpikir sia-sia, buang waktu dan merugi. Namun, bagi saya tidak, sebab banyak hal yang bisa diceritakan dan bisa membuat mereka penasaran untuk mengunjungi Bima disuatu waktu, bila perjalanan ke Labuanbajo sudah terjadwal dengan baik dan tidak bisa ditunda. Namun bila tidak, maka bule-bule itu akan tertarik menggunakan jasa Travel kita untuk mengantar ke Pelabuhan Sape.

Para pelancong, seperti Bule-bule tadi, tentu mereka sangat butuh kenyamanan, keamanan, ketenangan, keramahan, kejujuran dan perhatian dari masyarakat Lokal, apalagi menceritakan tentang hal-hal unik yang tidak masuk akal atau hal aneh dalam pikiran mereka. Biasanya pengalaman-pengalaman seperti ini, bagi bule adalah hal yang menarik dan akan menjadi bahan cerita dari mulut ke mulut oleh mereka. Lebih-lebih bila kita dipercaya sebagai pengantar (Guide) yang baik. Rugi memang bila dihitung secara sempit dengan melayani mereka dengan gratis. Namun bila hanya sekedar kopi, road mapsdan sedikit cerita, itu sangat murah bagi kita di Bima tetapi begitu mahal bagi mereka para pelancong.

Melalui hal ini, akan banyak kemungkinan peluang bagi kita untuk meraih ‘lumbung uang’ kedepannya. Sebab, bule yang sudah deal dengan Bus tadi, bisa saja meng-cancelkeberangkatan dan mengikuti saran kita untuk tinggal sehari di Bima guna mengunjungi beberapa lokasi wisata, sejarah dan budaya yang menarik yang tertera dalam roadmapsyang kita siapkan dan akhirnya menggunakan jasa travel kita untuk berangkat ke Sape. Kemungkinan lain adalah, mereka akan meminta jasa travel kita untuk mengantar ke Sape. Peluang lain adalah, Travel kita akan direkomendasikan dengan sangat kepada banyak kawan-kawan sesama bule nya untuk digunakan ditengah banyaknya cerita ‘miring’ tentang mafia calo di Bima, baik di Terminal Kota, Pelabuhan Bima hingga Bandar Udara Bima.

Melalui tawaran jasa kopi gratis dilokasi-lokasi menarik seperti Amahami & Danatraha, sambil menunggu panorama matari terbit dari ufuk timur, disela mereka menunggu jam keberangkatan pagi, banyak jasa travel yang bisa ditawarkan untuk kedatangannya lain waktu. Bisa saja, karena mereka merasa nyaman, mereka malah akan meminta Jasa Travel kita yang mengantar mereka ke Sape atau menjemputnya ketika mereka ingin dan akan kembali melalui Bima.

Tak menutup kemungkinan, Jasa Transportasi Travel kita akan dipesan untuk mengantar kerabat ataupun kenalan mereka dari Bandara Sultan Salahuddin Bima menuju Lakey tanpa harus standby-kan modil kita di Bandara. Atau dari Lakey hingga Bandara maupun hingga Sape bagi mereka yang mau ke Labuanbajo. Hal ini menjadi peluang usaha dan ‘lumbung’ uang ditengah permainan tarif jasa Taksi Bandara tanpa Argo. 


Saat ini setidaknya untuk mengantar Bule ke Lakey saja, patokannya adalah Rp 500.000 hingga Rp 1 juta. Meskipun para Bule itu tau bahwa antara Bandara ke Lakey hanya kurang lebih 60 km. Namun apa daya, tidak ada pilihan lain, kecuali mereka sudah sering ke Lakey dan sudah memesan satu paket (Transportasi, Penginapan dan Akomodasi) seperti yang disediakan oleh Amagati Lakey Hotel. Demikian juga dari Terminal Kota hingga ke Sape, biasanya Bemo kuning meminta jasa antar antara Rp 250.000 – 500.000. Sedangkan menggunakan Bus, Kenyamanan menjadi sulit untuk didapat.

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa butuh waktu sekitar 1 hingga 2 bulan untuk melakukan hal ini, namun bila kita berhitung dengan pola Multilevel Marketing, dalam waktu 1 sampai 2 bulan tersebut, ada 60 bule yang kita layani dengan baik dan ramah secara Cuma-Cuma melalui pola yang dijelaskan diatas, setidaknya ada 30 Bule yang akan merekomendasikan Jasa Tarvel kita untuk 30 hingga 60 bule lain pada kesempatan yang berbeda. Tentu sudah tidak lagi secara gratis atau Cuma-Cuma tadi, namun sudah dengan tarif-tarif tertentu yang rasional dan tidak menipu.

Bisa dihitung, bila kita mampu menjelaskan dengan baik dan jujur untuk sebuah jasa transportasi dengan jarak tertentu lengkap dengan jasa makan dan Guide yang bila dibutuhkan. Tentu mereka akan merasa sangat Nyaman dan dihargai, layaknya bila kita bila kemana-mana, ada kenalan atau jasa-jasa tertentu yang direkomendasikan dan tidak memainkannya melalui tarif-tarif yang sengaja dimainkan diluar dari Brosur atau Road Maps yang kita buat. Bila saja dalam 1 hari ada 2 bule yang menggunakan jasa Transportasi kita (salah satu item jasa Travel), maka, kita bisa mendapatkan pemasukan Rp 500.000 – 1 juta per hari.

Di Bima, teman-teman yang baru pulang menjadi Buruh Migran (TKI/TKW) tentu banyak dan sudah fasih berbahasa asing dengan baik dan benar. Disamping itu, tidak sedikit uang sebagai pesangon yang dibawa pulang. Membangun Travel dan men-sosialisasikannya ke Luar Negeri adalah hal yang mudah karena sudah paham apa yang harus dilakukan dan dengan cara apa hal itu dilakukan. Selain bisa langsung menjadi Guide dan manajer dalam sebuah Travel yang dikelola sendiri.

Travel di Bima sesungguhnya adalah ‘Lumbung Uang’ bila digarap dengan Profesional dan manajemen yang baik dan benar adalah peluang yang amat besar menghasilkan uang, karena Bima memiliki Panorama tersendiri yang indah dan unik serta diapit oleh dua daerah ‘magnet’ Pariwisata yang ramai, Lombok dan Labuanbajo. Sejatinya pengusaha Bima mampu melakukannya atau harus menunggu orang lain yang merebut peluang besar itu, Wallahualam (RB)

TRADISI KALONDO LOPI DI WERA BIMA NTB


Sangat jarang kita bisa melihat langsung dan mengikuti Prosesing Kalondo Lopi (Menurunkan Perahu/Kapal). Jika pun ada, mungkin terjadi hanya sekali dalam 3 tahunan atau 5 tahunan. Lopi yang dimaksud adalah  Lopi Haju Na’e (Baca: Kapal Kayu Besar). Satu-satunya pembuatan Kapal Kayu Besar di Bima hanya ada diwilayah Wera Kab Bima. Mungkin bisa jadi, satu-satunya Lokasi pembuatan Kapal Kayu Besar di Pulau Sumbawa.

Prosesing Kalondo Lopi adalah prosesing yang turun temurun dilakukan oleh Warga Wera khususnya Desa Sangiang Darat. Setidaknya, hingga saat ini sudah ada 39 Kapal Kayu Besar dengan dengan rata-rata kapasitas berat angkut kapal (Tonase) sekitar 90 hingga 250 Ton, yang pernah dibuat di Sangiang Darat. 95 porsen Lopi ini dibuat dari Kayu yang didatangkan khusus dari Kalimantan. Jenis kayu yang digunakan adalah Kayu Hitam (Diospyros celebica) atau kayu besi lainnya.

Khusus Lopi dengan Tonase besar di Sangiang darat, rata-rata dibuat selama 4 tahun, bergantung pula dari kesediaan bahan (kayu) sebagai hal yang utama. Pembuatan Lopi, mulai dari proses pemilihan jenis Kayu Luna (Kayu Khusus untuk dasar Lopi) hingga prosesing Kalondo Lopi, dipimpin oleh Pande Lopi (Baca: Kepala Tukang). Pande Lopibiasanya ditentukan oleh sang empunya hajat pembuatan Lopi.

Selama ini Pande Lopi di Wera Sangiang cenderung didatangkan dari perkampungan Ara, Bulukumba Sulawesi selatan. Sehingga dalam beberapa hal, terkait dengan proses dan atau tekhnis pembuatannya ikut serta tradisi dalam pembuatan Phinisi Sulawesi Selatan atau Perahu Kayu di Bonerate Bulukumba.

Proses pembuatan yang cukup lama ini (rata-rata 3 tahun) mewajibkan ritual-ritual tertentu yang sudah menjadi tradisi. Misalnya seperti pemasangan pondasi Lopi dengan menggunakan Kayu Luna. Pemasangan Pondasi dianggap sakral karena menentukan keseimbangan dan keterapungan Lopi. Pemasangan awal ini menjadi petanda pembuatanLopi di mulai. Pada malam hari, Warga Sangiang selalu memulai dengan Barasanji (doa). Istilah Barasanji atau semacam dzikir bersama ini cukup dikenal luas di Sulawesi Selatan.Barasanji juga dilakukan pada saat Lopi akan ditarik turun kelaut, sebagai petanda bahwaLopi siap berlayar.

Pada saat Lopi ditarik turun kelaut atau dikenal dengan Prosesing Kalondo Lopi ini. Berbagai upacara atau ritual keselamatan diselenggarakan. Diawali dengan ritual Barasanjipada malam hari sebelum Lopi ditarik turun pada pagi hari. Setelah Sholat subuh, menjelang proses Kalondo Lopi, terlebih dahulu dilakukan prosesing upacara Soji ro Sangga yang dipimpin oleh Pandita  Lopi (Ulama atau Tokoh Agama). Dalam upacara Soji Ro Sangga ini ditandai dengan penyembelihan Ayam. Ayam yang disembelih menjadi lauk bagi warga yang akan menarik kapal dipagi nanti. Namun kepala dan ekornya dipisahkan untuk dipasang di anjo (anjungan) dan di Keto Lopi (belakang kapal) dekat baling-baling.

Diikatkannya Kepala Ayam di Anjo dan Kaki Ayam di Keto Lopi, dimaksudkan, agar salah seorang anak dan istri Nabi Nuh, tidak ikut naik diatas Lopi yang menyebabkan Lopimenjadi tidak ber-Rejeki dan selalu mendapatkan musibah ditengah laut. Meskipun hal tersebut Mitos, namun sudah menjadi tradisi warga secara turun menurun dalam prosesKalondo Lopi.

Saat Lopi diturunkan menggunakan Katrol yang ditarik secara bersama-sama, pada saat pertama kali Bagian paling depan Lopi menyentuh air laut, Pandita Lopi akan memerintahkan warga untuk berhenti beberapa saat guna dilangsungkan Doa Ncao Mori(Doa Penyatuan Hidup). Doa yang dimaksud adalah bersalawat seraya menyelipkan Doa Keselamatan Lopi dan diakhiri Doa Sapu Jagat.

Pilihan hari guna dilangsungkan prosesing Kalondo Lopi juga dipercaya mampu menguatkan Lopi dari berbagai anuraga laut seperti badai dan gelombang. Pandita Lopi,Pande Lopi dan Pemilik Lopi biasanya melakukan mufakat terlebih dahulu dalam menentukan hari Kalondo Lopi. Biasanya diputuskan dengan menghitung mulai menjelang purnama malam ke 6 hingga 10. Hal ini juga bertepatan pasangnya air laut dipagi hari, sehingga Lopi bisa lebih cepat mencapai laut dan terdorong dengan baik.

Bagi Orang Sangiang Darat, Lopi Na’e dikenal dua jenis, yaitu Lopi Siwe (Kapal wanita) danLopi Mone (Kapal Lelaki). Bukan berkelamin, namun biasanya berdasarkan pada keruwetan perawatannya. Disebut Lopi Siwe karena cenderung mendadak ‘bocor’ (kemasukan air dibalka kapal) dan kerap terjadi pada saat Nci’I Wura (menjelang Bulan Purnama). Bocor disini, bukan bocor dalam artian sebenarnya yang terjadi di palka atau dasar Lopiberlubang atau retak, tetapi bocor tanpa lubang pun akhirnya terkuras dengan sendirinya. Bagi para Tekhnisi perkapalan Modern hal ini cenderung dianggap Mitos. Namun bagi warga Wera hal tersebut bisa dibuktikan dengan nyata. Bocor tanpa Lubang, itulah disebutLopi Siwe.

H. Achmad Ncuri (71 thn) sebagai Pande Lopi Wera sejak tahun 1985 berkisah banyak tentang prosesing pembuatan Lopi ini. Meski hal ini tidak dinamakan Phinisi layaknya di Sulawesi Selatan, pun Perahu Kayu di Bonerate Selayar. Namun proses pembuatannya hampir-hampir mirip. Yang membedakannya adalah ritual dan bentuk anjungan serta Palka kapal. Jenis kayu pun menjadi pembeda yang paling menonjol. Tetapi bila dilirik sekilas,Lopi dan Phinisi adalah sangat mirip.

Hal ini diakui pula oleh H. Syahruddin (77 thn), yang memang sudah menjadi asisten pembuatan Lopi Wera sejak tahun 50an. Pada tahun 1964, ia putuskan untuk menakhodai sendiri Lopi milik Warga Wera Sangiang yang saat itu masih berlayar kain. Belum modern seperti saat ini yang sudah menggunakan mesin Silinder bahkan mesin Kapal Besi Pencari Tuna buatan jepang. Dulu H.  Syahruddin berlayar membawa barang dari Bima ke Kalimantan selama 4 hari 4 malam. Dan itu dilakoninya hingga tahun 1996.   

Sebelum tahun 1964, setidaknya ada 6 Lopi yang dibuat oleh H. Syahruddin sebagaiasisten Pande Lopi. Dari pengalaman ikut menyaksikan sekaligus membuat Lopi itula, H. Syahruddin melaut dengan nama Lopi ‘Cinta Sejati’. Lopi tersebut ia buat pada tahun 1959, sebagai Lopi ke 5 yang dibuatnya bersama warga. Semua prosesing Pembuatan Lopi Weradari yang pernah dikerjakannya, unsur Bugis nya seakan-akan wajib ada atau masuk dalam proses pembuatan Lopi Wera. Hal ini sudah menjadi tradisi, baik penentuan bahan bakuLopi, SDM serta Nakhodanya kelak. Namun sekarang hal itu sudah tidak ada lagi, seluruh tenaga pembuatan hingga tenaga ABK (anak buah Kapal) diambil dari warga Wera sendiri dan lebih diutamakan yang masih dalam status keluarga dekat.

Saat ini Lopi Na’e di Wera Sangiang masih ada 2 unit yang sedang dikerjakan. Menurut Mandor Pengontrol pengerjaan akhir (Finishing), Ayang Sayifullah, bahwa pembuatan Lopidengan kapasitas atau Daya muat 500 hingga 900 Ton ini akan selesai sekitar pertengahan tahun 2016 sekaligus 2 unit. Proses awal pembuatan dimulai sejak tahun 2010 yang lalu, namun karena berat Lopi diperkirakan 60 -100 Ton per unit, maka proses pembuatannya pun cukup lama, sekitar 6 tahun. Walaupun ada juga pembuatan Lopi Na’e  di Pulau Sangiang, namun berkapasitas angkut sedang (60 - 75 Ton), dengan kemungkinan waktu proses pembuatannya hanya 2 tahun.

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA