Tampilkan postingan dengan label Ramadan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ramadan. Tampilkan semua postingan

HIKMAH DIBALIK MUSIBAH



MUSIBAH, bencana dan beragam cobaan, sesungguhnya adalah 'surat cinta dari Tuhan' karena Tuhan merindukan hamba-Nya, tetapi undangannya berupa kenikmatan dan segala macam kemewahan tidak pernah digubris, maka Tuhan mengubah surat undangan itu dalam bentuk musibah.

Jika orang ditimpa musibah, yang paling pertama sebagai tempat mengadu biasanya kepada Allah SWT, sebaliknya jika mendapat sebuah kemewahan, kemenangan, kenaikan pangkat dan jabatan, maka dengan rasa senang dan bangga akan mengabarkan berita itu kepada orang-orang dekat atau kelompoknya dengan suka ria bahkan pesta pora sampai ia lupa, yang seharusnya lebih diutamakan adalah memanjatkan puji syukur kepada yang Maha Pemberi Yakni Allah SWT.

Banyak contoh dalam kehidupan kita bahwa musibah sejatinya dijadikan sebagai hikmah untuk memacu agar lebih maju, kreatif, dan berhasil. Jangan pernah berhenti pada 1 (satu) jalan hanya karena tertutp oleh penghalang, sementara masih ada 1.000 (seribu) jalan lain yang terbuka lebar sebagai peluang.

Jangan pernah memusuhi musibah karena, semakin memusuhinya maka akan lebih terasa sakitnya. Jangan memusuhi penyakit karena penyakit itu akan lebih menyiksa dan mendera, Maka Nikmatilah segala penderitaan, niscaya rasa sakitnya akan berkurang bahkan menghilang.

Al Kisah, Nabi Ayyub didera penyakit hingga sekujur badannya dikerumuni belatung membuatnya dibuang di sebuah gua di pegunungan yang jauh dari perkampungan. Dia tersiksa sendirian, terasing dari dunia luar.

Nabi Ayyub tiba-tiba mengatakan kepada belatung; kalian dulu makhluk yang paling aku benci, di mana-mana saya mencari tabib untuk memusnahkanmu, tetapi kalian tetap betah di tubuhku. Sekarang kalian bersenang-senanglah karena ternyata kalian ialah sahabat setiaku. Satu-satunya yang tetap setia menemaniku di kegelapan gua ini. Ayyub tidak lagi merasa sakit dari gigitan belatung-belatung itu, malah Ia senang dan bahagia hidup di gua pengasingan itu.

Semoga kita semua bisa mengambil Hikmah dari Musibah yang menimpa, "Sesunnguhnya Musibah itu datang karena kita lalai mensyukuri segala nikmat yang diberikan Allah SWT". (AB)

MENJAGA SILATURAHMI



SIBUK, seringkali menjadi alasan kenapa jarang bahkan nyaris tidak pernah berkunjung pada sanak keluarga atau kerabat lainnya. Padahal dengan saling berkunjung, saling menyapa akan mengharmoniskan hubungan kekeluargaan maupun persaudaraan dalam ikatan silaturahmi.

“Dan, bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya untuk kamu saling meminta satu sama lain dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (Q.S. An-Nisaa: 1).

Silaturahmi adalah kekuatan yang amat dashat dalam menjaga hubungan kekeluargaan, persaudaraan maupun dalam hidup berdampingan di tengah mayarakat. Dalam Islam mengajarkan bahwa sesama muslim harus bersatu, tidak boleh bercerai-berai, bertengkar apalagi bermusuhan, karena sesama muslim adalah saudara.

Tidak hanya sesama muslim, kepada penganut agama lainpun dianjurkan untuk tetap menjalin silaturahmi. “Dengan menjaga silaturahmi, keharmonisan hubungan antar keluarga maupun hidup ditengah masyarakat akan terjaga, nyaman dan tentram”.

Tidak sedikit orang yang memutuskan silaturahmi hanya karena permasalahan spele atau permasalahan kecil yang sejatinya jika bersabar dan menahan diri bisa diselesaikan dengan damai. Berbeda pandangan atau pilihan itu sah-sah saja, asal hubungi silaturahmi tetap terjaga. “Jangan sampai hanya karena sedikit perbedaan, menimbulkanperpecahan hingga memutuskan ikatan silaturahmi, Nauzubillah min zallik”.

Rasulullah bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam.” (HR. Muslim).
Semoga bermanfaat. (AB).

MENJAGA LISAN



ALKISAH tentang seorang wanita yang ahli ibadah dan selalu berpuasa, hingga seorang sahabat Nabi memuji ibadah wanita tersebut dihadapan Rasulullah SAW, lalu ia berkata bahwa di sisi lain wanita itu sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Rasulullah hanya berkomentar, “Dia di Neraka.”

Sesungguhnya seluruh ritual ibadah tidak akan berarti tanpa akhlak dan budi pekerti yang baik. Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda yang artinya: “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.”

Kenapa puasa mereka tidak diterima? Karena mereka berpuasa tanpa berakhlak. Mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa menahan anggota badan yang lain dari perbuatan keji dan mungkar, Subhanallah.

“Taqobballahu minna waminkum, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah Subhana Huwa Taala, Amin Ya Rabbal Alamin.”

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA