Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadah. Tampilkan semua postingan

MEMAKNAI HIDUP DENGAN BERSYUKUR



Ketimpangan hidup sering disalah tafsirkan, seperti ; Ada yang sudah berkerja keras tetapi hasilnya kurang, ada yang kerjanya nyantai tapi hasilnya melimpah. Apa yang diharapkan sering tidak terwujud dalam kenyataan dan yang menjadi cita-cita, tidak terwujud sesuai dengan harapan. Ya Allah... ini tidak adil, keluhnya.

Ajaran Islam memberikan resep hidup yang sangat ampuh untuk menghadapi beragam ketimpangan hidup tersebut hanya dengan resep sederhana yaitu ‘Bersyukur’. Orang yang senantiasa bersyukur, tidak akan pernah takabur dengan kelebihan nikmat pemberian Allah SWT. Pun sebaliknya tidak pernah mengeluh ketika diterpa dengan segala kekurangan.

Ketika dia kaya atau miskin semuanya diterimanya dengan penuh syukur. Sebab, kalau tidak bersyukur, maka dia akan mudah menjadi manusia yang sombong, angkuh, dan ujub. Dengan bersyukur, akan menjaga dan membentengi diri dari keangkuhan, kesombongan, dan ketakaburan.

Jika tidak memiliki rasa bersyukur, maka ketika diuji dengan segala macam persoalan yang datang tiada henti-hentinya, maka yang dirasakan hanya kesal, kecewa, putus asa bahkan yang imannya rapuh, bisa-bisa bunuh diri. “Orang yang tidak bersyukur menerima nasibnya cenderung melukai diri sendiri yang membahayakan keselamatannya”.

Hidup itu sebenarnya sangat mudah, hanya saja kita yang membuatnya jadi susah, Kuncinya adalah bersyukurlah saat senang, saat lapang, saat kaya dan bersyukur pula pada saat kekurangan, kesulitan maupun cobaan lainnya. Sebab syukur itu menjadi benteng dalam menghadapi semua kondisi kehidupan. Semoga kita semua menjadi manusia yang pandai bersyukur atas kelebihan maupun kekurangan dari pemberian Allah SWT. Aamiin. (AB)

Dikutib dari: Ahmad Thib Raya - Dou Mbojo
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

FA AINA TADZHABUN?


Menarik untuk disimak sebuah pertanyaan Tuhan di dalam ayat Alquran, Fa Aina Tadzhabun? (Maka kalian mau ke mana?) (QS al-Takwir/81:26). Ayat itu tampil berdiri sendiri mengingatkan visi dan misi kehidupan kita, untuk apa kita lahir? Ke mana kita akan pergi? Apa tujuan hidup kita? Bekal apa yang harus disiapkan di dalam menjalani perjalanan hidup ini? Berapa lama kita akan hidup? Apa tanggung jawab di balik kehidupan ini? Terlalu banyak muatan makna pertanyaan Tuhan di dalam ayat pendek tersebut. Ayat tersebut menyentak kita untuk mempertanyakan dan menyadarkan kita di dalam menjalani sisa-sisa perjalanan hidup kita.

Jika ada pertanyaan tanpa jawaban di dalam Alquran, itu menunjukkan adanya jawaban penting yang harus ditanggapi. Kehidupan yang tersisa ini seharusnya kita jalani dengan visi dan tujuan yang jelas supaya kita tidak termasuk orang yang amat merugi di kemudian hari. Alangkah ruginya kalau kehidupan kita ini sama saja dengan kehidupan kita dengan masa lalu.

Ayat di atas seolah memberikan energi batin bagi kita untuk berubah (shifting). Bagaimana agar kualitas hidup kita hari ini lebih baik daripada hari kemarin dan hari-hari masa depan kita lebih baik daripada hari ini. Hadis Nabi mengingatkan alangkah ruginya seseorang jika hidupnya hari ini sama saja dengan hari kemarin. Lebih rugi lagi jika hidupnya hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Tidak ada kata terlambat untuk mengevaluasi diri kita untuk merencanakan kualitas hidup lebih baik daripada hari kemarin, hari ini, dan hari-hari berikutnya.

Pertanyaan menarik itu bukan hanya penting dihayati secara individu, melainkan juga untuk keluarga, masyarakat, dan kita semua sebagai warga bangsa/negara karena ayat tersebut menggunakan lafaz jamak (tadzhabun). Jadi yang perlu mendapatkan direction kehidupan bukan hanya diri sendiri, melainkan juga keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Yang akan celaka bila tidak menjalani tata kelola kehidupan ini bukan hanya orang perorangan, melainkan juga anggota masyarakat dan bangsa atau negara.

Sejalan dengan ayat di atas, ada ayat lain mengingatkan, Likulli ummatin ajal, fa idza jaa ajaluhum la yasta’khiruna sa’atan wa la yastaqdimun (Tiap-tiap umat mempunyai ajal, maka apabila telah datang ajal mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya (QS al-A’raf/7:34). Orang, keluarga, masyarakat, negara, rezim atau orde, yang tidak memiliki visi, misi, dan tujuan hidup yang jelas dikhawatirkan ajalnya akan tiba lebih awal. Khusus untuk ajal suatu masyarakat, Ibnu Khaldun pernah mengingatkan kepada kita terhadap empat generasi yang akan menentukan cepat atau lambatnya ajal masyarakat itu tiba, yaitu, pertama generasi perintis, kedua generasi pembangun, ketiga generasi penikmat, dan keempat generasi penghancur.

Setelah itu, muncul lagi generasi baru yang akan merintis, membangun, menikmati, dan selanjutnya kembali menghancurkan. Demikianlah seterusnya, sejarah selalu berulang. Alquran menayangkan beberapa contoh yang menunjukkan betapa riskannya ajal sebuah generasi. Terkadang individu yang memiliki perencanaan yang matang di dalam menjalani kehidupannya lebih panjang ajalnya daripada ajal masyarakatnya. Di antara generasi bangsa Indonesia banyak sekali yang pernah merasakan beberapa pergantian generasi (orde). Ada yang pernah menyaksikan tibanya ajal penjajahan Jepang, Belanda, Orde Lama, dan Orde Baru. Terkadang umur individu kita lebih panjang daripada umur masyarakat atau rezim kita.

Sebaliknya, ada juga suatu komunitas lebih panjang usia kemasyarakatannya bila dibandingkan dengan usia individunya. Boleh jadi ada sebuah individu berkali-kali mati sebagai masyarakat atau rezim tetapi tetap tegar sebagai individu. Idealnya usia individu, keluarga, masyarakat, dan bangsa/negara/rezim sama-sama awet dalam kehidupan yang ideal, sebagaimana ditegaskan di dalam cita-cita bangsa yang tertuang di dalam Preambul UUD 1945.

Dalam tahun atau bulan-bulan politik seperti tahun mendatang seharusnya kita semua wawas diri sambil memohon petunjuk Tuhan Yang Mahakuasa agar kita semua, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun sebagai warga bangsa/negara, tetap berada di dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa. Semoga kita semua tetap berada dalam suasana stabil, makmur, tenang, dan bahagia.

Penulis: Nasaruddin Umar
Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Foto: Ilustrasi Abunawar Bima
Sumber: MI.

MEMETIK HIKMAH DARI KISAH NABI MUSA AS


ALKISAH dalam Alquran Surah Al Ghafir mulai ayat 23, dikisahkan tentang perjuangan Nabi Musa AS melawan kezaliman seorang penguasa tertinggi atau raja di Mesir kala itu yang bernama Firaun. Kekuasaan dan kezaliman Firaun semakin tidak terkendali sampai-sampai mendapuk dirinya sebagai Tuhan. Karena itu, Nabi Musa diutus Allah untuk mengahiri segala kezaliman Firaun dan mengajak penduduk Mesir untuk melawan Firaun.

Dalam surah lain, dijelaskan bahwa sewaktu Musa dilahirkan, ibunya takut sekali, ia khawatir Musa akan dibunuh karena undang-undang yang dikeluarkan Firaun pada saat itu, bahwa setiap bayi yang lahir laki-laki harus dibunuh. Atas petunjuk Allah, Musa dihanyutkan dalam sebuah peti di sungai nil hingga ditemukan oleh istri Firaun, lalu Musa diangkat menjadi anaknya.

"Setelah dewasa, Nabi Musa mulai melawan Firaun dan 2 (dua) orang terdekat Firaun, yakni Haman dan Qarun. Haman merupakan politikus busuk, sedangkan Qarun ialah pebisnis rakus".

Nabi Musa mengajak penguasa agar bertindak lurus, politisi berbuat jujur, dan yang kaya raya menjadi pemilik harta yang adil, akan tetapi, semua ajakan Nabi Musa ditolak, bahkan, mereka menuduh Nabi Musa seorang penyihir dan pembohong, Padahal, Nabi Musa datang kepada mereka dengan membawa ayat-ayat Allah.

Pengikut Nabi Musa, kian hari kian bertambah banyak, hingga Firaun merasa khawatir dengan ajakan pembaruan oleh Nabi Musa yang akan mengganggu stabilitas kekuasaannya. Karena itu, Firaun menentang keras dan mengejar Nabi Musa dan pengikutnya hingga ketepi laut merah dan atas petunjuk dan mujijat Allah, Nabi Musa bisa melintasi laut merah, sementara Firaun dan semua pengikutnya tenggelam dan binasa didasar laut.

Pesan dari kisah tersebut adalah, setiap orang harus mawas diri terhadap kekuasaan yang diamanahkan, Jangan berlaku zalim atau berbuat sewenang-wenang, Keadilan harus ditegakkan dan Jangan pernah melupakan Kuasa Allah SWT, karena kekuasaan-Nya tak bisa ditandingi oleh siapapun. "Kelak semua yang diperbuat akan dipertanggung-jawabkan dan segala dosa akan mendapat pembalasan yang setimpal".(AB)


#SalamIbadah

MENJAGA LISAN



ALKISAH tentang seorang wanita yang ahli ibadah dan selalu berpuasa, hingga seorang sahabat Nabi memuji ibadah wanita tersebut dihadapan Rasulullah SAW, lalu ia berkata bahwa di sisi lain wanita itu sering menyakiti tetangga dengan lisannya. Rasulullah hanya berkomentar, “Dia di Neraka.”

Sesungguhnya seluruh ritual ibadah tidak akan berarti tanpa akhlak dan budi pekerti yang baik. Bukankah Rasulullah juga pernah bersabda yang artinya: “Berapa banyak orang yang berpuasa tapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan haus.”

Kenapa puasa mereka tidak diterima? Karena mereka berpuasa tanpa berakhlak. Mereka hanya menahan lapar dan haus tanpa menahan anggota badan yang lain dari perbuatan keji dan mungkar, Subhanallah.

“Taqobballahu minna waminkum, semoga amal ibadah puasa kita diterima Allah Subhana Huwa Taala, Amin Ya Rabbal Alamin.”

RAMADHAN PENUH KEBERKAHAN


Sungguh merupakan sebuah kenikmatan yang sangat luar biasa karena hari ini kita memasuki awal Ramadhan 1438 H. Bulan yang penuh dengan keberkahan, ampunan, rahmat, dan kasih sayang Allah SWT. Di bulan ini, Allah SWT mewajibkan kepada seluruh orang yang beriman untuk melaksanakan ibadah shaum, sebagaimana firman-Nya dalam QS al-Baqarah [2] ayat 183: "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

Di bulan ini pula, Allah SWT menurunkan Alquran sebagai petunjuk bagi umat manusia, dan terutama bagi orang-orang yang bertakwa, yaitu orang-orang yang hidupnya ingin meraih kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki, baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah [2] ayat 185: "(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)."

Pun, di bulan ini, dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan diikat serta dirantai setan-setan (sehingga sulit menggoda dan mengganggu orang yang berpuasa). Di bulan ini terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Akan tetapi, barang siapa yang terhalang mendapatkan kebaikan di bulan ini, maka sungguh merugilah ia. (HR Imam Ahmad dari Abu Hurairah).

Disebut dengan bulan penuh berkah karena terdapat banyak keutamaan dan keistimewaan di dalamnya. Allah berjanji akan mengampuni dosa-dosa orang yang bersalah bila mereka segera bertobat dan memohon ampunan Allah. Allah akan mengabulkan segala permohonan, bilamana hamba-hamba-Nya mau meminta dan berdoa kepada Allah. Selain itu, Allah juga akan melipatgandakan nilai ibadah hamba-Nya pada bulan Ramadhan ini. Bahkan, ibadah sunah bernilai wajib pada bulan Ramadhan ini. (HR Ibnu Khuzaimah).

Itulah beberapa keutamaan dan keistimewaan bulan suci Ramadhan. Dan, kerugianlah bagi orang-orang yang tidak mendapat apa-apa selama bulan Ramadhan. "Berapa banyak orang yang berpuasa, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya, kecuali hanya sekadar lapar dan haus." (Shahih al-Jami', jilid III/174).

Oleh karena itu, mari kita masuki bulan Ramadhan ini dengan penuh sukacita karena ingin meraih keberkahan dan keutamaan dari Allah SWT. Mari kita bulatkan tekad dan niat untuk melaksanakan ibadah shaum dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. "Barang siapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan penuh pengharapan serta ketulusan, niscaya Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu." (Muttafaqun 'alaih).

Shaum bagi orang yang beriman bukanlah semata-mata menahan diri untuk tidak makan dan minum pada siang hari. Akan tetapi, lebih jauh dari itu, menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan, tindakan, dan ucapan yang tidak ada manfaatnya sehingga kita akan menjadi orang yang produktif dan aktif dalam menebarkan kebaikan di tengah-tengah kehidupan kita.

Selamat menunaikan ibadah shaum, semoga keberkahan akan terlimpah dan tercurah kepada kita semuanya. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

Sumber: Prof Dr Nasaruddin Umar

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA