Tampilkan postingan dengan label Narkoba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Narkoba. Tampilkan semua postingan

KATAKAN TIDAK PADA NARKOBA


Nabi Muhammad Saw. bersabda, “كاد الفقر أن يكون كفرا" (Hampir saja kemiskinan membawa orang pada kekufuran). Dampak sosial yang terasa dari akibat merosotnya kesejahteraan ekonomi salah satunya adalah beredarnya Narkoba yang akhir-akhir ini marak di Kota Bima, Khususnya jenis tramadol.

Gejala ini tidak bisa semata-mata dilihat dari segi merosotnya moralitas masyarakat, tetapi akar persoalannya adalah kesenjangan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran, sehingga sebagian remaja menjadikan narkoba sebagai tempat pelarian sementara dari sumpeknya kehidupan yang makin sulit. Di sisi lain, gejala ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan masuknya narkoba di Bima.

Daerah Bima, Kota dan Kabupaten, wilayahnya cukup kecil, hanya 222, 25 KM, sehingga gampang diketahui pintu masuknya barang haram itu, maka dituntut pengawasan yang efektif dan perlu adanya kerjasama yang efektif antara aparat kepolisian dengan Pemkot maupun Pemda Kabupaten Bima. Kuncinya terletak pada jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua stake holder yang bertanggungjawab pada pengawasan dan penegakkan hukum. Demikian paparan Ir. Haji Sutarman Haji Masrun, MM. dalam Dialog Publik dengan Forum Mahasiswa Bima Ciputat Raya (FKMBC) di CSRC UIN Jakarta.

Beberapa masalah sebagaimana tersebut diatas, menjadikan Sutarman Merasa terpanggil untul kembali ke Dana Mbojo karena dengan masalah yang begitu kompleks di Kota Bima saat ini, membutuhkan pemimpin daerah yang peka terhadap permasalahan dan menyelesaiakan permasalah itu dengan cepat dan tepat.

Pemerintah ibarat mata dan telinga serta manivestasi dari rakyat yang mampu memperjuangkan kesejahteraannya secara merata sesuai amanah konstitusi negara. Karena Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memikirkan solusi atau jalan keluar serta mampu berbagi pengetahuan dan semangat untuk mendorong perubahan yang nyata.

Di akhir dialog, Sutarman menyempatkan diri untuk memotivasi semua mahasiswa agar mahasiswa pro aktif dan berani menyuarakan dan menegur pemimpin yang keluar dari koridor yang ada karena setiap persolan kerap kali tumbuh dan lahir dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab.

Jika mahasiswa pro aktif dan bersikap progresif menegur pemerintah untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah karna kalau bukan mahasiswa yang mulai siapalagi? “Mari kita genggam kesejahteraan Bima melalui tangan-tangan mahasiswa asli daerah sendiri.” pungkasnya.
Editor: Abunawar Bima


MENGATASI PEREDARAN NARKOBA



Nabi Muhammad Saw. bersabda, “كاد الفقر أن يكون كفرا" (Hampir saja kemiskinan membawa orang pada kekufuran). Dampak sosial yang terasa dari akibat merosotnya kesejahteraan ekonomi salah satunya adalah beredarnya Narkoba yang akhir-akhir ini marak di Bima.

Khususnya jenis tramadol, Gejala ini tidak bisa semata-mata dilihat dari segi merosotnya moralitas masyarakat.Tapi akar persoalan adalah kesenjangan ekonomi dan meningkatnya angka pengangguran. Oleh sebagian remaja, narkoba dijadikan tempat pelarian dari sumpeknya kehidupan yang makin sulit.

Di sisi lain, gejala ini juga menunjukkan lemahnya pengawasan terhadap peredaran dan masuknya narkoba di Bima. Padahal daerah Bima, Kota dan Kabupaten, wilayahnya kecil, hanya 222, 25 KM, sehingga gampang diketahui pintu masuknya.

Agar terwujud pengawasan yang efektif dituntut adanya kerjasama yang efektif antara aparat kepolisian dengan Pemkot maupun Pemda Kabupaten Bima. Kuncinya terletak pada jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi semua stake holder yang bertanggungjawab pada pengawasan dan penegakkan hukum.

Beberapa masalah inilah yang menjadikan saya terpanggil untul kembali ke Dana Mbojo karena dengan masalah yang begitu kompleks Bima membutuhkan pemimpin daerah yang peka terhadap terhadap masalah yang dihadapinya.

Pemerintah ibarat mata dan telinga serta manivestasi dari rakyat yang mampu memeperjuangka kesejahteraannya secara merata sesuai amanah konstitusi negara. Karena Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu memikirkan jalan keluar serta mampu berbagi pengetahuan dan semangat untuk mendorong perubahan yang nyata.

Peran Mahasiswa didorong untuk pro aktif dan berani menyuarakan dan menegur pemimpin yang keluar dari koridor yang ada karna setiap persolan kerap kali tumbuh dan lahir dari pemimpin yang tidak bertanggung jawab. Jika mahasiswa pro aktif dan bersikap progresif menegur pemerintah untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah karna kalau bukan kita yang mulai siapalagi. “Mari kita genggam kesejahteraan Bima melalui tangan-tangan mahasiswa asli daerah sendiri"

#Sutarmanjoy #Kosambo #Bima
www.sutarmanjoy.com

PELEMAHAN NKRI MELALUI NARKOBA SEMAKIN NYATA


Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso berbicara blak-blakan soal penyalahgunaan narkoba dan kuatnya pengorganisasian barang haram ini di setiap negara.

Menurut Budi, Indonesia sebagai negara besar saat ini menjadi perhatian dunia. Hasil diskusi BNN dengan pihak TNI, sudah ada indikasi upaya pelemahan NKRI, pelemahan generasi muda Indonesia melalui narkoba.

"Ada 11 negara di dunia yang secara terus menerus memasok narkoba ke Indonesia. Dan kita sudah berupaya untuk memerangi, memutus mata rantai di negara-negara tersebut, namun upaya itu selalu gagal," ujarnya.

Dengan Malaysia dan Singapura, Budi menyontohkan, kerja sama yang dijalin dengan kedua negara itu untuk memutus mata rantai perdagangan narkoba ke Indonesia, selalu gagal. Indonesia memiliki pangsa pasar yang besar. Ada banyak negara yang memasok narkoba ke Indonesia melalui Malaysia dan Singapura.

Kerja sama dengan negara-negara tersebut sebagai pemasok tidak pernah berhasil. "Terutama Malaysia dan Indonesia, narkoba dari berbagai negara biasanya singgah di kedua negara ini," ungkapnya.

Sementara itu Australia, yang hanya kemasukan narkoba sebanyak 7 kilogram protesnya sangat keras ke Indonesia. Mereka menuduh Indonesia sebagai pemasok narkoba ke Australia.

"Padahal kita juga yang menjadi tempat pemasaran berton-ton narkoba biasa-biasa saja. Ini aneh," ujarnya. Namun diakui Budi, dari hasil penyelidikan narkoba itu dipasok dari Bali dan Yogyakarta ke Australia.

Pasar narkoba di Indonesia, ujarnya, sudah merambah sampai tingkat RT. Tidak satu pun, ujar Budi, RT di Indonesia yang luput dari jual beli narkoba.

Hal yang sama juga di Lapas. "Di Lapas sekarang kita sadap, tetapi mereka sudah menggunakan alat antisadap. Lalu kita jammer, agar mereka tidak bisa berkomunikasi keluar, mereka juga menggunakan alat antijemmer," ungkap mantan Kabareskrim Polri ini.

Budi juga menegaskan bahwa pasarnya narkoba di Tanah Air sudah merata di mana-mana. Tidak mengherankan jika transaksi narkoba di Indonesia sudah mencapai Rp 72 triliun pertahun. (OL-4)

Sumber : Media Indonesia.

BANDAR NARKOBA SASAR ANAK-ANAK TK


BADAN Narkotika Nasional (BNN) saat ini menangani kasus narkoba yang korbannya anak-anak TK. Beberapa sekolah TK di Jakarta sudah menjadi korban. Pengedar sengaja menjejali para murid TK itu dengan jajanan.

“Mereka tidak sadar bahwa yang di­konsumsi itu ialah narkoba. Dipastikan, saat mereka berusia SD atau SMP, sudah jadi pengedar dan pengguna. Ini modus. Awalnya gratis, lama-lama jadi pemakai dan pengedar,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso pada pengukuhan ribuan pecalang menjadi relawan Pencegahan dan Pem­be­rantasan Penyalahgunaan dan Per­edaran Gelap Narkoba (P4GN) di Kantor Gubernur Bali, kemarin.

Hadir pada acara tersebut Kepa­la BNN Provinsi Bali I Putu Gede Suas­tawa dan Gubernur Bali Made Mang­ku Pastika. Menurut I Pu­tu Gede Suastawa, dari 5.970 pecalang yang ada, hanya 1.359 orang yang ditunjuk menjadi relawan P4GN.

Lebih lanjut, Budi Waseso mengatakan ada yang ingin menghancurkan Indonesia dengan cara menyasar para remaja dan anak-anak yang merupakan genera­si penerus bangsa. “Jika generasi pe­nerus sudah rusak, negara ini akan hancur,” ujar mantan Kabareskrim Polri itu.

Dari peredaran narkoba yang jumlahnya berton-ton di 11 negara dengan 72 jaringan internasional, tambahnya, di Indonesia-lah konsumsi terbesar.

Jaringan narkoba internasional itu bersaing merebut pasar Indonesia. Budi juga menyinggung fenomena penggunaan narkoba di kalangan pilot. Menurut Budi, dalam hampir seluruh kecelakaan pesawat di Indonesia, hasil pemeriksaan menunjukkan pilotnya positif narkoba.

“Beberapa tahun lalu, pesawat Lion Air yang mendarat di laut dekat ujung landasan Bandara Ngurah Rai, ternyata pilotnya berhalusinasi bahwa landasan pacu di bandara itu sangat lebar dan panjang sampai ke laut. Kasus terakhir pilot Citilink di Surabaya dan dua pilot Susi Air terindikasi menggunakan narkoba,” tambahnya.

Sementara itu, saat dihubungi secara terpisah, Kabag Humas BNN Ko­misaris Besar Slamet Pribadi mengatakan, dalam kurun waktu 2011 sam­pai Januari 2017 telah diungkap enam kasus pilot ataupun awak kabin ke­dapatan menggunakan narkoba.

Di sisi lain, penangkapan terkait dengan narkoba juga terjadi di Purwokerto dan Banyumas, Jawa Tengah, serta di Makassar, Sulsel. Di Depok, peredaran narkoba juga dilaporkan meningkat. (Mal/OL/LD/MS/KG/X-7)

Sumber : Media Indonesia.

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA