Tampilkan postingan dengan label Pertania. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertania. Tampilkan semua postingan

MENGEMBANGKAN PERTANIAN BERWAWASAN AGROEKOLOGI


Para petani di Desa ini menyadari betul bahwa kondisi tanah di Daerahnya labil, rawan longsor karena tidak adanya pohon besar penahan longsor. Kabarnya pohon-pohon itu ditebangi sejak zaman Belanda ketika perusahaan perkebunan Belanda hendak membuka perkebunan tembakau.Tulisan ini kami kutip dari laman Media Indonesia dengan harapan bisa dijadikan contoh atau sumber inspirasi bagi kita dalam mengatasi atau pengembangan lahan pertanian agar lingkungan tetap terjaga kelestariannya.

DIENG KEMBANGKAN AGROEKOLOGI

Petani di Pegunungan Dieng, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, mengembangkan pertanian berwawasan lingkungan atau agroekologi. Hal itu membuat petani di kawasan itu dikenal karena agroekologi mereka. Kawasan Dieng yang rata-rata berada di ketinggian sekitar 2.000 m di atas permukaan laut dikenal dengan perladangan kentang.

Kondisi tanahnya labil karena tidak ada tumbuhan atau pohon besar penahan longsor. Kabarnya pohon-pohon di Dieng ditebangi sejak zaman Belanda ketika perusahaan perkebunan Belanda hendak membuka perkebunan tembakau.

Ruhin, petani Dieng, menjelaskan para petani antara lain menanami ladang mereka dengan pohon cemara. Cemara ditanam di dinding terasering. "Tujuan agar tanah tidak longsor," Selain itu Cemara juga berguna sebagai kayu bakar. Kelebihan cemara, katanya, bisa tumbuh dengan sendirinya meski sudah ditebang.

Petani juga berangsur-angsur mengurangi penggunaan pupuk kimia. "Kita mulai beralih ke pupuk organik meski belum bisa sepenuhnya," ujarnya.

Petani lain, Ngabidin, mengatakan, selain cemara, para petani di Dieng menanami dinding terasering dengan tanaman carica. Tujuannya sama, mencegah longsor. Carica ialah tanaman sejenis pepaya. Masyarakat Dieng membudidayakan carica untuk dibuat antara menjadi manisan dan keripik. Carica menjadi oleh-oleh khas bagi wisatawan yang mengunjungi Dieng.

"Sebagian petani juga menanami dinding terasering dengan kopi," kata Ngabidin yang juga Ketua Serikat Petani Indonesia Wonosobo. Upaya lain pengembangan agroekologi ialah menganekaragamkan tanaman pertanian. "Tanaman pertanian yang seragam menyumbang pemanasan global," tutur Ngabidin.

"Kita menggalakkan tanaman yang polikultur, tidak seragam, menggunakan benih lokal dan menggunakan pupuk organik. Selain itu, kami mendorong menggunakan benih kentang yang bisa diproduksi anggota sendiri," tutur Henry pada saat yang sama. (Uks/H-5)


Sumber : Media Indonesia

SECERAH HARAPAN BAGI PETANI BINAAN


Jangan pernah bosan menebar kebaikan, demikian ungkapan yang selalu menjadi kata-kata andalan sekaligus pondasi prinsip hidup Muhammad Firdaus, Pemuda kelahiran Desa Parado Rato 1987 ini. Dengan motto tersebut, kini Muhammad Firdaus dianggap sebagai generasi pelopor berantas buta aksara dan berantas kemiskinan bagi Pemuda Parado khususnya.

Abdillah M. Saleh, S.Pd yang menjadi bapak asuh Firdaus, bangga akan potensi yang dimiliki anak asuhnya tersebut, sebab menurut Abdillah, sejak tahun 2000 ia mendirikan lembaga PKBM, baru tahun 2008 ia menemukan generasi yang sepaham dan yang memiliki tekad yang sama pada Firdaus.

Sejak tahun 2008, Bersama Firdaus mulai bergelut dan membaur dengan ratusan Masyarakat atau Warga Binaan (WB). Menjembatani peningkatan harga jual hasil para petani dengan sistim pemasaran langsung adalah langkah awal membangun integritasnya di tengah-tengah sedikitnya 500 kepala keluarga di parado. 

“Hasil bumi seperti singkong, jagung dan sejenisnya jika dijual di parado harganya sangat rendah baik diecer terlebih oleh tengkulak. Prihatin dengan keadaan tersebut Abdilah Bersama Firdaus mengumpulkan semua hasil panen dari para petani, kemudian dipasarkan keliling ke desa-desa tetangga dan tentunya dengan harga jauh lebih tinggi dari tengkulak,” ungkap Abdillah.
Berangkat dari sinilah pemuda yang hidup didataran tinggi kabupaten Bima ini tumbuh menjadi sosok yang memiliki daya pikir ke depan, dengan sendirinya memahami management kepemimpinan dalam mengkoordinir warga yang ada, melihat peluang pasar sekaligus kemampuannya untuk mempromosikan hasil bumi maupun karya warga.
Memasuki pertengahan 2009 ia melirik usaha rumahan yang diproduksi ibu rumah tangga yakni sambal jeruk atau dikenal dengan Mbohi Dungga. Dengan kemasan sederhana memakai botol air mineral kecil dengan kisaran harga Rp. 8000 per botolnya. 

Produksi ini pun awalnya hanya untuk konsumsi pribadi, setelah dipasarkan keliling dan ternyata sambal yang berbahan baku jeruk, cabe dan garam ini banyak diminati masyarakat Bima. Agar lebih menarik Kemasannya pun dirubah dan dipatenkan, sehingga mampu dijuanya dengan harga Rp.20 ribu perbotol dan omset penjualan mencapai 300 hingga 500 ribu rupiah,” terang Firdaus di Parado.

Usaha tersebut terus berkembang dan menjadi produk andalan sehingga dari hasil itu Firdaus yang kini berkat dedikasinya ditawar langsung oleh dinas Dikpora kecamatan parado untuk menjadi tenaga pendamping lapangan pendidikan luar sekolah (PLS) mampu menyelesaikan studynya di dua universitas. Disamping mampu menopang ekonomi keluarga ia juga telah memiliki kendaraan sepeda motor sendiri dari hasil usahanya tersebut.

Seiring dengan perkembangannya, Usaha ini  dihapkan beberapa kendala seperti memasuki tahun-tahun terakhir permintaan meningkat sementara ketersediaan bahan baku jeruk mulai langka. “Jeruk jenis ini hanya mampu tumbuh didataran seperti kecamatan parado sementara tanaman ini sudah banyak yang tidak produktif, sehingga untuk mencoba keluar dari krisis tersebut, Ia mencoba mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong agar ditanami jeruk.
Firdaus optimis bahwa usaha ini bisa terus berkembang karena ia yakin dengan terus menerus memotifasi masyarakat untuk peningkatan produktifitas lahan kosong maka ketersediaan bahan baku jeruk akan terpenuhi, karena satu orang saja mampu untuk memelihara 10 pohon, bisa memenuhi kebutuhan dalam enam bulan,” Pungkasnya.

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA