Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

MISTERI DIBALIK BANJIR BANDANG BIMA - BAG. 2



Banyak hal tersingkap, Ada banyak fakta yang terungkap dibalik bencana Banjir kota Bima beberapa waktu yang lalu. Sesungguhnya Allah SWT telah menunjukan KebesaranNya dan hanya manusia-manusia yang sabar dan pandai bersyukur yang dapat memahami, memaknai dan mencermati atas bencana yang terjadi dan menimpanya.

Pada tulisan sebelumnya baca disini, telah di singgung soal debit atau volume air banjir, Gerakan masif warga Dompu dan daya hancur yang minim korban jiwa. Pada tulisan kedua ini, ingin menunjukan fakta yang mungkin tidak dapat dipungkiri karena kerap kita mengalami, melihat dan merasakan namun sering tidak menyadarinya, seperti fakta yang terjadi pada Masjid, Mushola dan ladang pertanian yang ditanami Padi.

Kehancuran 
 yang meluluhlantahkan sebagian besar Sarana dan prasarana serta pemukiman Masyarakat Kota Bima akibat diterjang banjir bandang beberapa waktu lalu, sejatinya Masjid dan Mushola juga akan ikut hancur, Nyatanya dari sejumlah Mushola dan Masjid yang ada di Kota Bima tidak mengalimi kerusakan, tetap berdiri tegak tanpa kerusakan yang signifikan, meskipun ada, hanya beberapa yang pagarnya rubuh tapi bisa dihitung dengan jari.

Salah satu Masjid yang tetap berdiri kokoh tersebut adalah Masjid Kuno yang berada di Kampung Melayu Kota Bima. Masjid Kuno yang menjadi 'saksi' sejarah tersebut, secara kasat mata seharus sudah rubuh karena bangun Masjid ini hanya menggunakan bahan sederhana dengan tiang-tiang penyangga dari kayu yang sudah rapuh termakan usia. Padahal, bangunan-bangunan milik masyarakat sekitarnya yang terlihat kokoh dengan pondasi batu dan coran semen beton cukup kuat dan tangguh nyatanya malah rubuh. Kenapa?

Selain Masjid atau Mushola yang tidak mengalami kerusakan yang signifikan, ada juga Tanaman padi yang rata-rata baru berumur seminggu hingga sebulan, hingga saat ini masih terlihat tumbuh tegak. Jikapun ada yang rusak tergerus, itupun bisa dipersenkan sekitar 5-20% dari luas lahan persawahan. Padahal, jika diukur antara kekuatan akar padi yang baru tumbuh dengan pondasi bangunan rumah, jembatan, tembok maupun pohon-pohon yang tinggi menjulang, semuanya hanyut dan tumbang. Mengapa?

Fenomena tanaman padi ini dapat dilihat pada persawahan antara Keluarahan Sadia, Manggemaci, Santi, Penaraga, Lewirato (belakang SMUN 2 Kota Bima), Dodu, Rabangodu, di Jalan Ir. Sutami, Jalan Sudirman ataupun di Jatiwangi, Jatibaru maupun di belakang kantor Kecamatan Asakota.

Kebesaran-kebesaran yang ditunjukan itu adalah sebuah Mukzizat yang patut kita syukuri tetapi juga menjadi Pengingat, Petunjuk dan Fakta yang harus didalami kenapa semua itu terjadi? Allah SWT selalu punya rencana dibalik semua musibah, Ada Hikmah yang bisa dipetik. Termasuk Gerakan 'Musuh Bersama' pada siapa-siapa saja yang merusak, mengeksploitasi serta menjarah pohon-pohon Hutan Lindung Negara maupun Hutan pribadi dari tuan tanah yang serakah dan membabibuta membabat Bumi.

Penulis : Rangga Babuju
Editor : Abunawar Bima

BANJIR BANDANG BIMA, PERUSAHAAN AMDK INI TETAP UTUH


Prihatin, Sedih berbuncah kepedihan di hati kita semua ketika mendengar, membaca, melihat dan menyaksikkan Kota Bima porak poranda akibat diterjang Banjir Bandang yang cukup dasyat, Rabu (21/12/2016) dan Banjir Susulan, Kamis (22/12/2016), Air bah setinggi 2 hingga 4 meter menghantam apapun yang dilaluinya. Rumah-rumah hancur diterjang Banjir Bandang.

Di Saat sibuk bersih-bersih pascabanjir, Masyarakat Bima kembali dikagetkan dengan gempabumi tektonik yang menggoncang wilayah Bima dan sekitarnya. Masyarakat yang panik lari berhamburan keluar rumah. Masyarakat sedikit agak tenang setelah Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono mengingatkan, Gempabumi ini kecil dan tidak berpotensi merusak apalagi tsunami.

Kejadian tersebut membuat sebagian besar masyarakat trauma dan takut akan terjadi bencana-bencana susulan, diperparah adanya isyu-isyu yang tidak jelas namun lambat laun masyarakat mulai tenang apalagi kehadiran beberapa pejabat dari gubernur NTB, Mensos RI, Kapolri dan pejabat-pejabat lainnya.

Bangsa kita mempunyai rasa solidaritas tinggi, setiap kali ada musibah atau bencana alam, Bantuan mengalir deras, ratusan atau ribuan orang bahu membahu memberikan pertolongan, Kehadiran mereka membuat percaya diri masyarakat Bima membaik dan Kota Bima berangsur-angsur Pulih kembali.

Pascabanjir, problem utama yang dihadapi masyarakat adalah Air Bersih, Adanya Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang berada di Penaraga menjadi tumpuan sebagian besar masyarakat Bima. Perusahaan sendiri melalui relawan Komunitas Salaja Mbojo (KOSAMBO) sudah bahkan sampai saat ini tetap menyalurkan secara geratis pada masyarakat yang membutuhkan, terutama lokasi-lokasi yang jauh dan sulit terjangkau, bahkan tidak sedikit masyarakat langsung datang sendiri dengan membawa galon, ember dan lain-lain untuk mengambil air. Masyakat merasakan manfaatnya dengan keberadaan AMDK ini.

Pihak pengelola AMDK, mempersilakan kepada masyarakat se Kota Bima untuk memanfaatkan Air Minum ini secara gratis, bahkan empat bulan lalu, sebelum Banjir bandang AMDK ini sudah membuka kran geratis agar masyarakat bisa mecoba/merasakan AMDK yang dikemas dengan “Rangga” ini.

Ketika dikonfermasi pada Bp. Ir. H. Sutarman Masrun, MM yang lebih dikenal di Sosial Media dengan nama Sutarman Joy​ selaku pendiri AMDK yang bernaung dibawah PT. Bima Mandiri Sukses (BMS), mengaku telah mengintruksikan pada anak buahnya untuk tetap membuka kran gratis, Ia juga memerintahkan agar menyalurkan secara merata kepada masyarakat terutama yang lokasinya jauh dan sulit terjangkau, Kata Sutarman.

Lebih lanjut Sutarman yang juga Pembina Komunitas Salaja Mbojo (KOSAMBO) mengatakan, Mungkin ini kehendak Allah SWT, Letak pengolaan air ini pas dibibir sungai Pena Nae /Pena Raga / Dam Raba Salo, tetapi tidak ikut tersapu banjir bandang, padahal secara logika seharusnya akan ikut hanyut dan habis diterjang banjir bandang, Alkhandulillah semuanya utuh tanpa ada sesuatu masalah, Imbuh Sutarman.

Mungkin Allah SWT, membiarkan pengelolaan air ini tetap utuh dan airnya terus mengalir untuk Masyarakat yang terdampak Banjir Bandang, faktanya, kucuran air dari AMDK ini dirasakan banyak manfaatnya oleh Masyarakat karena memang sangat dibutuhkan terutama pada saat bencana banjir bandang pekan lalu, Sutarman meyakini, kalau tidak ada campur tangan Allah SWT, maka AMDK ini akan habis tersapu banjir, Subhanallah, Pungkas Sutarman.

abunawarbima@gmail.com

MISTERI DIBALIK BANJIR BANDANG BIMA - BAG.1


Dalam benak Ketua Umum Komunitas Babuju, Rangga Babuju, berkecamuk aneka pikiran yang terus mengganggu sejak dua minggu pascabanjir Bima pekan lalu, Beberapa kali Ia coba menyepikan diri untuk perenungan mendalam, berharap ada Hidayah dan menemukan jawaban, Namun, tetap saja menyisakan pertanyaan, hingga Ia menyimpulkan satu jawaban dari ambang batas kemampuan, logika dan nalar pikiran yang dimiliki, yaitu ‘Kunfayaqun’.

Debit air hujan dengan volume hujan per 1.000 meter kubik luas cakupan 100 meter persegi dalam rentang waktu dua jam, berdasarkan sebaran awan diketinggian 7.000 feet dan kekuatan angin 42 knot pada tekanan udara 995 mb, visibilitas cuaca 6.6, pada saat banjir dan banjir susulan tgl. 21-23 Desember 2016 , sebenarnya tidak akan menyebabkan arus air yang deras dalam waktu tiga jam, Kata Rangga

Analisis BMKG, terlepas dari keakurasian yang diprediksikan, bahwa Banjir pada saat itu empat kali lebih besar dari perkiraan dan Prediksi Tekhnologi buatan manusia. BMKG pun mempertanyakan, dari mana datangnya Air bah yang dasyat yang melebihi dari perkiraan tersebut? Air setinggi 2 hingga 4 meter menerjang apa saja yang dilewatinya padahal tidak ada satupun DAM di DAS di Daerah Aliran Sungai seperti di Wilayah Ncai Kapenta, Wawo Sori Pesa dan Lampe atau Ntonggu.

Banjir Bandang yang meluluhlantahkan Kota Bima pekan lalu, sejumlah Mahasiswa yang belajar Geodesi pun menjadikan bahan analisa bahwa banjir yang menyebabkan kehancuran sedemikian rupa sama dengan Jebolnya Dam Pelaparado dengan kapasitas tiga kali dari volume air pada saat normal di Dam Pelaparado adalah diluar kewajaran.

Selain soal Mistery Air Bah yang tiba-tiba datang menerjang, adalah Soal Infrastruktur Kota Bima dan Pemukiman masyarakat yang berdampak pada kerusakannya mencapai 80 %. Berdasarkan perbandingan Bencana Banjir Bandang diberbagai daerah di Indonesia, sejatinya bencana di Bima akan menelan korban jiwa yang tidak seditit, namun nyatanya Nihil Korban jiwa, sekalipun ditemukan 1 korban di Dam Rontu adalah korban dengan riwayat kesehatan yang mengalami kelainan jiwa.

Satu hal yang patut diaproriari adalah Gerakan Kemanusiaan Warga Kabupaten Dompu yang Masif dan tanpa pamrih, Padahal secara emosional, hubungan kekerabatan warga Kota Bima dan warga Dompu hanya 20%. Selain itu dalam sejarah kebencanaan, Dompu tidak memiliki Jasa luar biasa pada warga Kota Bima, sehingga warga Dompu harus bergerak maksimal untuk membalas jasa warga Bima. Siapa yang menggerakkan hati warga Dompu sampai masyarakatnya bejibun-jibun dijalan raya?. Mudah-mudahan bukan dijadikan sebagai moment pencitraan dalam persaingan Pilkada.

Banjir Bandang Bima, hanyalah 'Air yang menyibak kembali pada jalurnya'. Air yang tidak merenggut jiwa ini untuk menapaki kembali pada jalur apa adanya, Air yang meluap karena jalur yang semestinya ia lalui semakin sempit oleh bangunan pongah para oknum manusia yang serakah, Air meluap karena tanah yang menjadi pijakannya dipatok menjadi tanah pribadi hingga berdiri bangunan megah yang tak ayal menjadi tanah dan bangunan yang bersengketa, Maka tidak salah Air pun menjadi Murka.

Semoga Musibah Banjir Bandang Bima, Semoga memupus segala Kecongkakan, Kesombongan, keangkuhan dan Kebencian antar sesama. Mari intropeksi diri, memupuk kembali solidaritas dalam semangat kebersamaan yang mumpuni dan mensyukuri bahwa dibalik musibah, akan banyak hikmah yang kita dapatkan, Dibalik Kesusahan, pasti ada jalan Kemudahan, Pungkasnya.

Penulis : Rangga Babuju
Editor : Abunawar Bima

MBERE SARAMBA RO MBERE MBOHA


"Mbere saramba ura, Anae ededu Mbere makaraso Rasa. Mbere kadua woha oru ura edeku Mbere ma weha nawa re anaeee" (Kalimat Tua dari para orang tua)

Kalimat itu kerap kali masih kita dengar, teringat waktu kecil bersama teman-teman yang suka menantang mengarungi banjir besar dengan pelepah pisang (pati kalo: Bima). Moment yang paling indah dan ditunggu-tunggu ketika musim hujan tiba. Jika di sandingkan dengan olah raga arung jeram yang banyak digandrungi saat ini, sepertinya tidaklah sebanding, tapi itulah masa kecil yang tidak merasa takut mengarungi sungai ditengah arus yang cukup deras, karena memang sudah terbiasa dengan hal tersebut sejak 20 tahun yang lalu.


Dulu, datangnya musim hujan kita bisa memperkirakan atau memprediksinya, namun sering jalannya waktu atau memang alam sudah tidak bersahabat dengan kita, maka hal-hal atau tanda-tanda dari alam yang biasa dijadikan patokan tidak berlaku lagi. Seharusnya musim hujan malah musim kering atau sebaliknya. "Mbere saramba ro Mbere Mboha" (Banjir diawal musim hujan dan banjir tengah musim hujan atau puncak hujan).

Bencana Banjir Bandang Bima yang meluluhlantahkan Kota Bima pekan lalu, Hampir seluruh Masyarakat Bima berdampak serius atas banjir yang menerjang Kota Bima. Tak kenal miskin atau kaya, entah Ia penjahat atau penjahit, semua mengalami kerugian harta benda dan materi yang tidak sedikit.

Banjir Pencuci Harta

Saya lebih senang menyebutnya sebagai 'Banjir Pencuci Harta', terlepas ketiadaan korban jiwa, Namun harta yang ditumpuk setinggi gunung, tidak pernah di sedekahkan dan hanya dibangga-banggakan, dipamer-pamerin dengan segala keangkuhan dan kesombongan, kini luluhlantah diterjang banjir bandang, Semua terkuras dan hanyut tanpa bekas.

Entah sadar atau tidak, Kita angkuh dan congkak dimata orang lain. Namun keangkuhan itu tiba-tiba menghilang, yang tersisa dan terlihat sangat jelas pada pascabanjir, kita malah tidak sadar telah menjadi peminta-minta, Mengemis iba pada orang-orang yang sebelumnya diacuhkan, diremehkan bahkan dicaci maki.

Sadarlah, bahwa segala harta maupun materi yang kita punya, sebenarnya hanyalah peretas 'jalan kembali'. Kita tidak sadar bahwa kita hadir dari 'Ketiadaan' kemudian menjadi 'ada' dan kembali tiada, Namun atas nama 'Tegar' kita kembali tunjukan diri yang tidak sadar, Juga atas nama 'Kuat' kita kembali menampakkan keangkuhan atas apa yang telah terjadi. Kita lupa Tafakur, Lupa Intropeksi diri, yang ahirnya lupa diri.

Banjir Bandang Bima kemudian disusul Banjir Dasyat yang menerjang dan menghanyutkan apa saja yang dilaluinya mengagetkan semua orang, tanpa terasa air mata menetes dan tidak mampu lagi melihat begitu dasyat dan derasnya arus banjir, hanya istigfar dan istigfas hingga bertanya pada hati; Apa salah kami Ya Allah? Disaat itulah baru sadar, bahwa kita bukanlah siapa-siapa diatas Kehendak Allah SWT yang meluluhlantahkan alam CiptaanNya, agar Manusia Insyaf dan Pandai mensyukuri, bukan mengkufuri segala Nikmat yang telah Allah SWT berikan. 

Kesenambungan Alam semestinya harus tetap terjaga dan dilestarikan, bukan untuk dirambah dan terus menerus dirambah tanpa batas dengan segala keserakahan yang membabi buta, Jika tidak segera dihentikan, maka alam semakin tidak bersahabat dengan kita dan tentunya Allah SWT akan tambah Murka.

Penulis : Rangga Babuju
Editor : Abunawar Bima

KORBAN BANJIR BIMA TERIMA UANG JAMINAN HIDUP


Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memberikan dana jaminan hidup (jadup) untuk 1.335 jiwa atau 381 kepala keluarga korban banjir Kota Bima, Nusa Tenggara Barat. Penyerahan jadup dilakukan di Kantor Wali Kota Bima, Selasa (10/1). 

“Dihajatkan untuk meringankan beban warga, menopang hidup mereka sehari-hari,” kata Mensos Khofifah Indar Parawansa pada acara penyerahan bantuan jadup di Kantor Wali Kota Bima, selasa (10/1). Wali Kota Bima, Qurais H Abidin ikut menyaksikan penyerahan bantuan dari pemerintah.

Nilai jadup sebesar Rp10 ribu per hari per jiwa untuk masa pemulihan selama tiga bulan sehingga setiap penerima jadup mendapatkan Rp900 ribu. Total alokasi Kementerian Sosial untuk bantuan jadup sebesar Rp1.201.500.000. 

Dengan adanya bantuan jadup, Mensos berharap bisa meringan­kan beban hidup warga sehari-hari selama masa pemulihan pascabencana. Selain jadup, bantuan lain yang diberikan bagi warga yang rumahnya hanyut atau rusak berat ialah bantuan sosial logistik berupa kompor gas, peralatan dapur, dan peralatan kebersihan dengan nilai total Rp1.054.421.310.

Mensos juga melakukan pencairan dana Program Keluarga Harapan (PKH) dengan penerima sebanyak 196 kepala keluarga. Ia berharap para penerima PKH memanfaatkan dana untuk biaya pendidikan anak. Pada bagian lain, dalam waktu tiga bulan ke depan, sebanyak 143 jiwa di Dusun Cimeong, Desa Cilayung, Kecamatan Ciwaru, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat , harus direlokasi ke tempat aman karena lokasinya rawan pergerakan tanah.

Kepala Pelaksana Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, Agus Mauludin mengatakan relokasi itu atas permintaan Bupati Kuningan. Saat ini tim dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi Kementerian ESDM sedang meneliti pergerakan tanah di Dusun Cimeong. 


Di Sumatra Barat, jalur alternatif Padang-Bukittinggi melalui Jalan Sicincin-Malalak yang masih tertimbun longsor, diperkirakan baru bisa dilalui satu minggu ke depan.Wakil Gubernur Sumatra Barat, Nasrul Abit, menjelaskan ada 11 titik longsor di wilayah itu yang kini masih dibersihkan. Longsor terparah antara Jorong Bancah dan Pintu Angin Keca­matan IV Koto Kabupaten Agam. (/YR/UL/YH/N-3)

Sumber : Media Indonesia.

KEMENSOS FOKUS PEMULIHAN PASCABANJIR BIMA


Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan kerja ke Bima, NTB, Selasa (10/1). Dalam kunjungan kerja kali kedua tersebut, Mensos mengecek langsung proses pemulihan pasca banjir bandang yang melanda Bima, Rabu pekan lalu.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, banjir besar yang terjadi di Kota Bima telah menyebabkan 105.758 jiwa terdampak di 5 Kecamatan (33 kelurahan) dan 104.378 jiwa yang mengungsi. Lima kecamatan tersebut yakni Kecamatan Rasanae Timur, Kecamatan Mpunda, Kecamatan Raba, Kecamatan Rasanae Barat, dan Kecamatan Asakota. Sementara di Kabupaten Bima, dampak banjir menyebabkan 608 jiwa terdampak di tiga kecamatan yakni Kecamatan Sape, Kecamatan Wawo, dan Kecamatan Ambalawi. Tercatat jumlah pengungsi di Kabupaten Bima mencapai 134 pengungsi.

“Kemensos telah menyalurkan tiga jenis bantuan dalam penanganan banjir bandang di Bima, NTB yaitu bantuan logistik, bantuan jaminan hidup, dan santunan. Totalnya Rp. 6,9 miliar,” ungkap Mensos, Selasa (10/1).

Terkait dukungan psikososial, Khofifah menjelaskan bahwa hal tersebut terus diberikan kepada para korban banjir. Sasaran utamanya yakni anak-anak, lansia, dan wanita dewasa. Dengan harapan, mereka tidak mengalami trauma berkepanjangan dan melanjutkan hidup dengan penuh semangat.

Adapun jenis layanan dukungan psikososial yang diberikan yaitu team bulding, trauma healing, konseling, terapi spiritual, terapi kecemasan, konsentrasi belajar, dan membuat berbagai kerajinan tangan. Menurut Mensos, dalam jangka panjang korban bencana tersebut memerlukan penanganan pasca trauma atau Post Trauma Disorder (PTSD). “Dukungan psikososial telah diberikan kepada kurang lebih 1.693 anak dan 580 keluarga”, jelas Mensos.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan Sosial Kementerian Sosial, Harry Hikmat mengatakan Kementerian Sosial memefokuskan kegiatan pada tahap pemulihan menyusul diperpanjangnya masa tanggap darurat banjir bandang di Kota Bima. Seharusnya tanggap berakhir 5 januari, namun melalui Surat Keputusan Walikota Bima Nomor 3 Tahun 2017 diperpanjang hingga 19 Januari 2017.

“Ada lima poin kegiatan utama selama perpanjangan masa tanggap darurat ini. Keseluruhan fokus pada pemulihan”, katanya.

Pertama kata dia, Kemensos melakukan optimalisasi dapur umum dengan memusatkan pelayanan hanya di Kantor Walikota Bima. Tujuannya agar lebih fokus melayani pengungsi yang masih ada di pengungsian dan mengurangi ketergantungan pengungsi.
Selama penanganan korban banjir Bima, Tim Kemensos mengelola 15 dapur umum. Dua titik dapur umum lapangan yang dikelola Kemensos berada di Kantor Walikota Bima dan Mesjid Baru Bima di Kelurahan Tanjung. Hingga 9 Januari 2017, keseluruhan dapur umum tersebut telah memproduksi sebanyak 40.231 nasi bungkus yang didistribusikan ke seluruh titik pengungsian.

Kedua, lanjut Harry, memastikan korban yang rumahnya rusak berat/hanyut memperoleh jaminan hidup, peralatan rumah tangga, dan pembangunan rumah. Total jaminan hidup yang telah diberikan Kemensos yakni senilai Rp. 1,32 miliar dengan rincian Rp. 1,2 miliar kepada 1.335 jiwa di Kota Bima dan Rp. 120,6 juta kepada 134 jiwa di Kabupaten Bima. Masing-masing jiwa memperoleh Rp. 900 ribu untuk tiga bulan. “Sedangkan untuk santunan korban telah disalurkan senilai Rp. 85 juta. Rinciannya santunan 4 korban meninggal masing-masing Rp. 15 juta dan santunan 10 korban luka berat masing-masing Rp. 2,5 juta”, terangnya.

Ketiga, Kemensos melakukan – Assesment – bagi masyarakat yang masih tinggal di pengungsian.

Keempat, optimalisasi gerakan kerelawanan sosial untuk bakti sosial permbersihan lingkungan rumah, sarana pendidikan, sarana kesehatan, dan fasilitas sosial. Dan,

Kelima, melakukan rotasi anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana) dengan mengerahkan dari kabupaten terdekat dengan Kota Bima”.

Harry menambahkan dalam penanganan korban banjir Bima, Kemensos menggerakan unit kerja di lingkungan Kemensos seperti Tagana, Sakti Peksos, STKS Bandung, Pendamping PKH, dan Tim Reaksi Cepat. Kemensos juga bekerjasama dengan 13 NGO antara lain Rumah Zakat, Baznas, LPAI, Bulan Sabit Merah, PMI, PKPU, Dompet Dhuafa, Kosambo (Komunitas Salaja Mbojo), Plan Indonesia, Babuju Care Centre, LPA NTB, IKBD (Ikatan Keluarga Bima Dompu) - Maluk, dan MDMC. (*)

*Biro Hubungan Masyarakat*
*Kementerian Sosial RI*

MENSOS: TANGGAP DARURAT BANJIR BIMA DIPERPANJANG


Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan kerja ke Bima, Nusa Tenggara Barat, Selasa (10/1). Dalam kunjungan kerja kali kedua tersebut, Mensos akan mengecek proses pemulihan pascabanjir bandang yang melanda Bima, pada Rabu (21/12/2016) dan Jumat (23/12/2016). Hal itu dilakukan setelah tanggap darurat yang seharusnya berakhir pada 5 Januari diperpanjang hingga 19 Januari.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, banjir besar yang terjadi di Kota Bima telah mengakibatkan 105.758 jiwa terdampak di 5 Kecamatan (33 kelurahan). Lima kecamatan tersebut yakni Rasanae Timur, Mpuda, Raba, Rasanae Barat, dan Asakota.

Adapun di Kabupaten Bima, dampak banjir menyebabkan 608 jiwa terdampak di tiga kecamatan yakni Sape, Wawo, dan Ambalawi.

Tercatat jumlah pengungsi di Kabupaten Bima mencapai 134 pengungsi. "Kemensos telah menyalurkan tiga jenis bantuan dalam penanganan banjir bandang di Bima, yaitu logistik, jaminan hidup, dan santunan. Totalnya Rp6,9 miliar," ungkap Mensos, Selasa (10/1).

Terkait dukungan psikososial, Khofifah menjelaskan bahwa hal tersebut terus diberikan kepada para korban banjir. Sasaran utamanya yakni anak-anak, lansia, dan wanita dewasa. Dengan harapan, mereka tidak mengalami trauma berkepanjangan dan melanjutkan hidup dengan penuh semangat.

Adapun jenis layanan dukungan psikososial yang diberikan yaitu team building, trauma healing, konseling, terapi spritual, terapi kecemasan, bermain, olahraga, melatih konsentrasi belajar, dan membuat berbagai kerajinan tangan. "Dukungan psikososial telah diberikan kepada kurang lebih 1.693 anak dan 580 keluarga," jelas Mensos.

Sementara itu, Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos, Harry Hikmat mengatakan kementeriannya memfokuskan kegiatan pada tahap pemulihan menyusul diperpanjangnya masa tanggap darurat banjir bandang di Kota Bima. Seharusnya tanggap darurat berakhir 5 Januari, namun melalui Surat Keputusan Walikota Bima Nomor 3 Tahun 2017 diperpanjang hingga 19 Januari 2017.

Ada lima poin kegiatan utama selama perpanjangan masa tanggap darurat ini. Pertama, kata Harry, Kemensos mengoptimalisasi dapur umum dengan memusatkan pelayanan hanya di Kantor Walikota Bima. Tujuannya agar lebih fokus melayani pengungsi yang masih ada di pengungsian dan mengurangi ketergantungan pengungsi.

Selanjutnya memastikan korban yang rumahnya rusak berat/hanyut memeroleh jaminan hidup, peralatan rumah tangga, dan pembangunan rumah. Total jaminan hidup yang telah diberikan Kemensos yakni senilai Rp1,32 miliar.

Ketiga, Kemensos melakukan assesment bagi masyarakat yang masih tinggal di pengungsian. Berikutnya, optimalisasi gerakan kerelawanan sosial untuk bakti sosial pembersihan lingkungan rumah, sarana pendidikan, kesehatan, dan fasilitas sosial.

Terakhir melakukan rotasi anggota Taruna Siaga Bencana dengan mengerahkan dari kabupaten terdekat dengan Kota Bima.(OL-3)

Sumber : Media Indonesia.

KLIK GAMBAR DIBAWAH INI UNTUK KE ARTIKEL LAINNYA